ads

Slider[Style1]

Publikasi Media

Catatan

Resensi

Aktivitas

Reading Group

Saijah



OLEH Ubaidilah Muchtar

 Saijah pulang dari Batavia. Di Batavia, ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih kandang kuda. Lalu naik menjadi kusir bendi milik seorang tuan Belanda. Saijah pulang dari Batavia setelah bekerja 36 bulan lamanya. Saijah ingin segera tiba di Kampung Badur. Saijah membayangkan, kekasihnya, Adinda duduk di bawah pohon ketapang di ujung kampung di tepi hutan seperti yang dijanjikan. Sebelum berpisah, waktu itu, mereka mengikat janji, "Adinda, buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru."
Percayalah, Saijah telah bekerja dengan baik. Tiga puluh mata uang Spanyol, cukup untuk membeli tiga ekor kerbau disimpannya di tabung bambu yang ia ikat dengan tali kulit. Tabung bambu itu ia bawa di bahunya. Juga ada keris bergagang kayu kemuning yang diukir halus dengan sarung berbalut perak terselip di punggungnya. Dan, ikat pinggang rantai dari perak, pendingnya dari emas. Memang ikat pinggang itu agak pendek, tapi dia begitu ramping: Adinda. Saijah berjalan pulang menuju Badur penuh keyakinan.
Saijah berjalan melewati Pesing. Sepanjang jalan yang diingat, didengar, dibayangkan dan dirasakannya hanyalah Adinda. Pengalaman yang dibayangkan dan diingatnya hanyalah pengalaman dan bayangan bersama Adinda. Perasaan yang ada hanyalah perasaan untuk Adinda. Suara-suara lain di perjalanan pulang itu tak pernah didengarnya. Suara yang didengarnya adalah nada-nada yang lain, nada dari suara Adinda yang berucap: "Selamat datang, Saijah! Aku teringat kepadamu waktu memintal dan waktu menenun, dan waktu menumbuk padi dalam lesung yang bergaris tiga kali dua belas garis buatan tanganku. Ini aku di bawah ketapang, hari pertama bulan yang baru. Selamat datang, Saijah, aku mau jadi istrimu."
Tapi, Adinda ternyata tidak ada di bawah ketapang. Tidak ada di tepi hutan jati di ujung kampung itu. Di jalan yang menghubungkan ketapang dengan Badur yang ada hanyalah sepi. Badur tidak lagi diisi Adinda. Ia telah pergi bersama ayah dan saudara-saudaranya. Kesewenan-wenangan Demang Parungkujang, Wirakusuma, telah merampas kerbau Ayah Adinda. Ayah Adinda tidak pergi ke Bogor sebab sudah ada contoh, Ayah Saijah yang ditangkap sebab tak membawa pas (surat jalan). Lalu dicambuk, dipenjara hingga meninggal.
Ayah Adinda tidak ke Bogor tapi ke Cilangkahan. Dekat laut. Mereka tinggal di hutan, menanti yang lain yang sama-sama dirampas kerbaunya. Mereka yang sama-sama tidak bisa bekerja sebab alat utamanya dirampok dan diharuskan membayar pajak tanah. Dari Cilangkahan mereka melaut bersama menuju Lampung.
Saijah tidak dapat bertemu Adinda, kekasihnya.
Saijah akhirnya tahu ke mana Adinda pergi. Adinda pergi ke Lampung. Ya, ke Lampung! Mereka lari dari Badur untuk menghindari pemerasan-pemerasan yang dilakukan Adipati Lebak, Karta Nata Nagara. Kerbau mereka telah dirampok. Termasuk kerbau ayah Adinda. Mereka semua takut mendapatkan hukuman karena tidak sanggup membayar pajak. Ibu Adinda telah meninggal karena sedihnya. Begitu juga adiknya yang kecil karena tidak ada air susu untuk diminumnya.
Dalam keadaan hampir gila karena bingung dan kecewa, Saijah mencari tempat pelarian kekasihnya di Lampung. Sesampainya di Lampung Saijah bergabung dengan gerombolan pemberontak. Saijah menemukan Adinda sekeluarga di sebuah kampung yang penduduknya baru saja dibinasakan oleh tentara Belanda. Saijah melihat ayah Adinda beserta ketiga saudaranya terbunuh. Dan di dekatnya, Adinda telah menjadi mayat, teraniaya dengan cara yang mengerikan. Karena penasaran dan putus asa Saijah menerkam beberapa serdadu dengan pisau di tangannya. Dan Saijah si anak tani berakhir nyawanya dalam pertarungan yang tidak seimbang. Saijah mati tertembus bayonet, menyusul Adinda.
Peristiwa hidup dan kisah cinta romantis yang tragis itu disampaikan Multatuli dengan gaya tutur yang bersahaja dan dengan gerak irama yang sayu. Di beberapa bagian dipergunakan bentuk nyanyian untuk menyatakan perasaan Saijah sewaktu mengenang dan mengharapkan Adinda. Multatuli dengan sadar menunjukkan betapa dalam perasaannya ingin mengajak ke dalam kesadaran bernasib serta gerak-gerik kejiwaan rakyat. Rakyat yang hidup sederhana di dusun-dusun di tanah yang dicintainya, Indonesia.

Tiada ku tahu di mana aku ‘kan mati
Telah kulihat segara luas di pantai selatan
Ketika bersama ayah membuat garam
Jika aku mati di tengah lautan dan badan terbuang di air dalam
Ikan hiu ‘kan datang mengerumuni mayatku, bersama bertanya:
“Siapa kita ‘kan menelan mayat tenggelam dalam air ini?”
Tiada akan kudengar

Tiada kutahu di mana aku ‘kan mati
Telah kulihat rumah Pak Ansu jadi nyala
Di bakar tangan sendiri, karena mata gelap
Jika aku mati dalam rumah nyala, ‘kan jatuh puntung bara atas mayatku
dan di luar rumah ‘kan ramai seru penolong,
giat menyiramkan air memadamkan api.
Tiada akan kudengar.

Tiada kutahu di mana aku ‘kan mati
Telah kulihat si Unah kecil jatuh dari pohon nyiur
Ketika memetik kelapa untuk ibunya.
Jika aku jatuh dari pohon nyiur, tergeletak di pangkal urat semak belukar seperti si Unah
Ibuku tiada akan meratapi karena ia sudah mati
Tapi orang lain ‘kan berseru lantang: “Lihat di sana Saijah terlentang!”
Tiada akan kudengar.

Tiada kutahu di mana aku ‘kan mati
Telah kulihat mayat Pak Lisu, mati karena usia lanjut,
Kepala penuh ditaburi uban.
Jika aku mati karena lanjut usia dengan putih rambut,
Perempuan meratap mengelilingi mayatku,
Sebagai menangisi mayat Pak Lisu,
Dan anak cucu turun temurun meratapi sedu lantang menangis
Tiada akan kudengar.

Tiada kutahu di mana aku ‘kan mati
Telah banyak kulihat orang mati di Badur
Di selimuti kapan putih
Dan diturunkan ke dalam bumi
Jika aku mati di Badur dan terkubur jauh di luar desa
Sebelah timur perut pegunungan tempat rumput tumbuh menjulang tinggi
Adinda akan lalu dan tepi kainnya berbisik
Perlahan menepis rumput
Pasti akan kudengar.

Ledeng, 26 Maret 2015
Sumber: http://www.buruan.co/saijah/

HBD Havelaar!



Sejak kecil ia telah tampil membela yang lemah dan terinjak-injak. Menjadi penolong bagi teman-temannya yang kesusahan. Menjadi tempat mengadu mereka yang teraniaya dan tersiksa. Ia selalu gelisah dan banyak mendapatkan kesukaran. Hidupnya adalah gambaran namanya: Aku yang banyak menderita.

Daya pikirnya melebihi anak-anak seusianya, Willem Frederik Hermans dalam Multatuli yang Penuh Teka-Teki (1988) mencatat: “ketika ia dimasukkan sekolah dasar orang cemas dengan daya pikirnya, seperti yang sering terjadi pada anak-anak yang terlalu cerdas.”

Ayahnya bernama Engel Dekker, nakhoda kapal. Sytske Eeltjes Klein: Eduard, ibunya. Engel Dekker, agaknya seorang yang suka berkelakar dan pandai berbicara. Seorang nakhoda yang tegap, yang cepat membahasakan orang dengan “jongetje”, buyung. Ia biasanya tidak di rumah, seperti lazimnya kapten kapal.

Sytske, pembawaannya agak gugup. Dia cepat tangan ringan kaki, kata orang.

Multatuli lahir di sebuah rumah, di jalan sempit, di Korsjespoortsteeg, di Amsterdam. Multatuli anak keempat atau sebenarnya anak kelima. Saudaranya, Antje, lahir di tahun 1818 dan hanya hidup dua belas hari. Saudara-saudara lainnya bernama Catharina (1809-1849), Pieter (1812-1861), dan Jan (1818-1864). Sesudah Multatuli, masih lahir seorang lagi di tahun 1832, yaitu Willem. Hari ini 195 tahun lalu, Multatuli lahir, 2 Maret 1820.

Multatuli dibesarkan dalam suatu keluarga yang sederhana. Multatuli kecil banyak menimbulkan kesukaran karena wataknya yang gelisah dan ‘sukar’.

Orang tua Multatuli berharap ia menjadi pendeta. Maka selepas Sekolah Dasar, ia masuk Sekolah Latin di Singel. Di bulan Maret 1832 ia menulis namanya dalam album sekolah: Eduard Douwes Dekker, nama rangkap.

Tidak dijelaskan mengapa ia meninggalkan Sekolah Latin setelah belajar dua atau tiga tahun. Ia mengatakan bahwa ia senang di sekolah tersebut dan tidak terlalu bodoh untuk mengikuti pelajaran. Ia tidak enggan melakukan olahraga untuk kaum laki-laki seperti meluncur di atas es dan ia tidak segan-segan berkelahi. Ia selalu tampil membela yang lemah dan terinjak-injak. Ia menolong menyelamatkan topi pet yang diterbangkan angin milik seorang anak Yahudi yang tidak seorang pun mengacuhkannya. Ia bahkan pernah ingin pergi ke Yunani untuk berjuang buat orang Yunani dalam perang kemerdekaan mereka melawan Turki. Tapi perdamaian ditandatangani ketika ia berusia dua belas tahun. Ia terlambat lahir!

Di usianya yang kedelapan belas, ia kemudian menjadi pegawai kecil pada firma tekstil Van de Velde, di persil Singel 134. Ia minta berhenti bekerja setelah tiga tahun bekerja. Kekasihnya yang pertama bernama Louis. Dan itu sama sekali bukan kekasihnya yang terakhir.

Eduard sudah sejak dini secara impulsif bisa jatuh kasihan kepada orang yang lemah dan orang cacat, bahwa ia berani melawan ketidakadilan, bahwa hatinya mudah terbakar dan bahwa ia cenderung terlibat dalam kesulitan-kesulitan keuangan.

Prestasinya di sekolah agaknya sedang-sedang saja. Tapi kemampuannya untuk dalam waktu singkat menguasai berbagai kepandaian. Kepandaiannya itu atas kemampuannya sendiri. Eduard banyak tahu tentang bahasa Prancis, Jerman, dan Inggris selepas les privat. Ia menulis sajaknya yang pertama dengan introduksi saudaranya Pieter, ia jadi anggota perkumpulan Nut (Lembaga untuk kemanfaatan umum).

Tiba di Hindia-Belanda
Pada tanggal 4 Januari 1839 tiba di Batavia seorang pemuda Belanda. Ia datang dengan kapal Dorothea. Setelah pelayaran yang menyita waktu tiga belas minggu lebih. Kapal itu berangkat 23 September tahun sebelumnya. Pemuda itu yang kemudian hari terkenal sebagai Multatuli, Aku yang banyak menderita, alias Eduard Douwes Dekker.

Sebagai pemuda 18 tahun, Multatuli bekerja pada Pemerintah Belanda, yakni pada Dewan Pengawas Keuangan di Batavia. Ia cakap untuk pekerjaannya. Di masa pertama ia menjadi amtenar (pegawai pemerintah) ini ia mengalami guncangan batin sebab terputusnya hubungan dengan Caroline Versteegh. Penyebabnya karena dianggap oleh orang tua si gadis calon suami yang kurang serius dan lamarannya ditolak.

Tahun 1842 Multatuli dipindahkan ke Sumatra Barat. Bulan Juli 1842 Douwes Dekker ditempatkan sebagai kontelir di Natal, suatu jabatan yang bukan saja meminta segala tenaga kerjanya, tapi yang juga buat pertama kali membawanya berhadap-hadapan dengan penderitaan penduduk.

Drs. G. Termorshuizen dalam Pendahuluan novel Max Havelaar (1973) menulis: Menarik perhatian reaksinya yang hampir spontan terhadap penderitaan penduduk itu, berupa pendirian yang pada hakekatnya akan menentukan tindakannya dalam ‘perkara Lebak’ 13 tahun kemudian. Dalam suatu laporan tanggal 21 Maret 1843 ia menulis: ‘Saya kira orang sedikit saja atau sama sekali tidak bekerja, baik di kebun-kebun lada maupun di sawah-sawah, tapi saya kira pula (……) bahwa yang menjadi sebabnya ialah tenaga yang patah oleh tiada bekerja (……). Haruslah diberikan gambaran masa depan yang lebih menyenangkan bagi pekerja, harapan masa depan yang lebih menggembirakan dan dalam hal ini baiklah dimulai dengan memberinya makanan yang cukup.’

Natal adalah dukacerita yang pertama dalam hidup Multatuli sebagai amtenar. Di bulan Juli 1843 ia dipecat oleh jenderal Michiels, atasannya. Setelah di Natal, ia perbantukan kepada residen Padang Hulu. Setelah dari Padang, berturut-turut ia bertugas di Purwakarta, Karawang, Purworejo, Manado dan di musim gugur 1851 ia menjadi asisten residen Ambon, tapi tidak lama karena sakit keras.
Sewaktu tinggal di Purworejo, dua tahun lebih ia di sana, Eduard Douwes Dekker hidup dengan miskin tapi jujur. Rochussen, gubernur jenderal mengunjunginya dan Dekker adalah satu-satunya pejabat yang tidak menerangi rumahnya karena tidak punya uang untuk itu.

Atasannya, residen Bagelen, Von Schmidt auf Altenstadt, menyebutkan dalam daftar kecakapannya bahwa kelakuan dan cara hidupnya baik, ia banyak kepandaiannya, rajin, hormat, tapi bebas dalam sikapnya.

Tanggal 10 April 1846 bagi Dekker adalah tanggal kebahagian. Dekker menikahi Everdine Huberte van Wijnbergen, yakni Tine—pahlawati—dalam Max Havelaar. Dekker dan Everdine menikah di Cianjur.

Pagi-pagi jam sepuluh ada keramaian yang tidak lazim di jalan besar yang menghubungkan daerah Pandeglang dengan Lebak.

Demikian kalimat pertama dalam Bab V novel Max Havelaar. Hari itu 21 Januari 1856. Dekker tiba dengan keluarganya di Rangkasbitung, ibu kota Lebak. Di hari itu juga Dekker  mengucapkan sumpah jabatan. Dekker berjanji bahwa ia “akan melindungi penduduk Bumiputera terhadap penindasan, penyiksaan, dan penganiayaan”. Dekker diangkat sebagai asisten residen Lebak. Keesokan harinya, ia mengucapkan pidato yang ditujukan kepada kepala-kepala Lebak. Lebak daerah miskin dan bahwa penduduknya dihisap oleh bupati dan kepala-kepala (bawahan)nya.

Multatuli bertugas menjadi asisten residen di Lebak selama tiga bulan dari 21 Januari 1856 sampai 29 Maret 1856. Atasannya, residen Banten Brest van Kempen dan gubernur jenderal Duymaer van Twist. Gubernur jenderal Albertus Jacobus Duymaer van Twist memasuki sejarah sebagai ‘gubernur jenderal yang dimaki-maki Multatuli.’ Karena itu ia sekaligus menjadi gubernur jenderal paling masyhur yang pernah memerintah ‘Hindia Timur Belanda’.

Selamat ulang tahun, Multatuli (2 Maret 1820-2 Maret 2015)![]
Pondok Petir, 2 Maret 2015
Sumber: http://www.buruan.co/hbd-havelaar/

RIP Havelaar


Hari ini, 128 tahun yang lalu ia meninggal. Meninggal dengan meninggalkan catatan utang. Ia meninggal karena asma menggerogoti kesehatannya. Di rumah yang didapat dari para pengagumnya ia meninggal. Ia meninggal di Nieder-Ingelheim, Jerman. 19 Februari 1887.

Meski ia telah lama meninggal, namun membaca karyanya: Max Havelaar masih selalu relevan dan harus terus diupayakan. Terus dihidupkan. Drs. G. Termorshuizen pernah menulis, “Pertemuan dengan dengan Havelaar tetap aktual: manusia Havelaar yang tidak terikat secara historis, individu yang berjuang melawan kepentingan diri kolektivitas. Terutama motif-motif manusiawi, itulah titik tolak Multatuli, yang menjadikan Max Havelaar mengandung tenaga yang begitu hebat.”

Kearifan ucapan Multatuli tetap bertahan. Membimbing kita agar selalu waspada pada praktik kekerasan dan penjajahan model baru, bentuk feodal pemerintahan, serta tokoh-tokohnya yang rakus dan korup. Korupsi, bahkan nyata hingga hari ini. Korupsi, kanker mematikan di tanah yang dibela dan sangat dicintainya: Indonesia.

Kearifan seperti: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi, kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam”. Tetap berlaku hingga hari ini.

128 Tahun yang lalu ia meninggal. Sebenarnya belum begitu tua, dan cukup sehat, kecuali bahwa ia punya asma, dan levernya sudah sakit sejak di negeri Hindia, hingga warna mukanya kekuning-kuningan. Keadaannya adalah seperti seekor burung kenari.

Multatuli meninggal di sebuah rumah yang dibeli oleh pengagum-pengagumnya. Ia meninggal dalam posisi duduk di kursi. Dua bulan sebelumnya, tepat 11 Desember 1886, ia berucap, “Asmaku sangat mengganggu. Tidak selalu sama terus, tapi, kadang-kadang aku seperti mau berhenti bernafas.”

Tidak lama sesudah Multatuli meninggal, diketahui ia meninggalkan utang. Ada utang 120 Mark pada petani kol, 100 Mark pada beberapa toko buku, 140 Mark pada tukang daging, dan seterusnya, dan seterusnya.

Dalam suratnya yang terakhir (17 Agustus 1886) kepada sahabat lamanya Marie Anderson ia menulis: “Terus terang: aku tidak bisa hidup, artinya dalam hal keuangan. Bahwa kami hidup dalam rumah yang relatif bagus, lebih merepotkan daripada sepenuhnya. Disebabkan karena berbagai hal yang kebetulan aku sebetulnya tidak bisa tinggal di sini, namun aku tidak bisa pergi. Bagaimana nasib M. kalau aku mati, hal yang segera akan terjadi, aku kira, aku tidak tahu! Singkatnya, kami sering sangat tertekan. Ini membuat getir tahun-tahunku atau … bulan-bulanku yang terakhir.”

Multatuli, seorang pendahulu, adalah juga orang Belanda pertama yang dikremasi, di Gotha. Hanya beberapa orang Belanda yang hadir, di antaranya: Mimi dan saudaranya laki-laki, sahabatnya Braunius Oeberius dan istri, dan dua orang muda yang tidak dikenal dari Middelburg: Ghijsen dan Wibaut.

Abunya mula-mula disimpan oleh Mimi, kemudian bertahun-tahun disimpan di perpustakaan Universitas di Amsterdam. Tahun 1948 didirikan sebuah monumen di pemakaman Westerveld, kotak kaleng berisi abu Mimi dan Multatuli, dikuburkan dengan khidmat di sana. Monumen tersebut direncanakan oleh A.H. Wegerif. Diresmikan 6 Maret 1948. Di monumen tersebut tertulis ucapan Multatuli yang indah bunyinya: “Panggilan nurani manusia ialah untuk menjadi manusia.”

Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, si pemikir revolusioner, penyair, satirikus, kritikus, moralis, dan pembaharu adalah penulis terbesar. “Satu-satunya pengarang Belanda yang lebih dari seratus tahun tetap menarik perhatian,” tulis Willem Frederik Hermans dalam bukunya Multatuli yang Penuh Teka-Teki (1988).

Mashuri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, masa itu, dalam kata pengantar Max Havelaar edisi pertama, 1972 (terj. H.B. Jassin) mencatat bahwa bagi bangsa Indonesia, Multatuli mempunyai arti yang khusus. Karena bukunya merupakan bahan dokumentasi yang penting bagi studi ilmu-ilmu kemasyarakatan dan politik. Tetapi nilai yang tiada taranya, terletak pada segi-segi kemanusiaan, kesatriaan, dan pendidikan watak yang ditampilkannya.

“Multatuli dengan Max Havelaar-nya mempunyai kedudukan yang penting dalam sejarah bangsa kita, khususnya masa penjajahan Belanda. Seperti kita maklumi, dengan roman itu Multatuli telah berhasil membukakan mata kaum politik di negeri Belanda terhadap kebobrokan yang terdapat di daerah jajahannya. Akibatnya, sejak terbit karya itu pada tahun 1860 dimulai usaha-usaha pemerintah Hindia Belanda untuk mendatangkan kesejahteraan pada kehidupan rakyat Indonesia lewat kebijakan ekonomi serta kesempatan pendidikan. Gagasan-gagasan dalam roman itu akhirnya juga bermuara kepada kebijaksanaan Politik Etika yang termasyhur itu yang memperhatikan kepentingan dan kemajuan bangsa Indonesia.” Subagio Sastrowardoyo mencatat hal tersebut dalam kata pengantar buku Willem Frederik Hermans.

Subagio juga mengingatkan bahwa, Multatuli memang penting bagi Indonesia, dan bagi pembaca Indonesia menariklah mengikuti riwayat hidupnya…. Tetapi kita tidak boleh silap, bahwa di dalam periode yang amat panjang sesudah gagasan-gagasan Multatuli didengar dan berpengaruh itu, di dalam masa-masa penjajahan yang suram dan menekan itu, Multatuli dengan Max Havelaar-nya makin lama makin Nampak sebagai tokoh yang makin susut sosok kepribadiannya di ufuk sejarah, yang berteriak sia-sia di tengah padang pasir yang tak memantulkan kembali kumandang suaranya.

Semangat Multatuli dalam Max Havelaar berisi semangat antikorupsi, melawan pembodohan dan pemiskinan, melawan kesewenang-wenangan dan eksploitasi harus terus digelorakan. Roman dengan banyak hikmah yang harus terus kita renungkan. Roman dengan nilai-nilai yang menyentuh lubuk hati umat manusia. Semangat itu jangan sampai pupus. Membaca dan mendalami kembali novel Max Havelaar adalah satu upaya.

19 Februari 1887, 128 tahun yang lalu Multatuli meninggal di Nieder-Ingelheim, Jerman. Hari ini kami masih terus meneladani kearifan ucapan, pikiran dan perbuatannya. Menghidupkan semangatnya. Membaca dan mendalami karya-karyanya.

RIP Havelaar![]
Mayestik, 19 Februari 2015
Sumber: http://www.buruan.co/rip-havelaar/

“Max Havelaar” Sebuah Perkenalan

Saya tidak bisa melayani dengan cara yang lain daripada yang saya lakukan di Lebak.
(Max Havelaar) 

Batavus Drooggstoppel adalah makelar kopi dan tinggal di Lauriergracht No. 37 Amsterdam. Dia ingin menulis sebuah buku. Buku tentang kopi. Buku yang akan ditulisnya dengan akal sehat dan penuh kebenaran. Sebab menurut Batavus penyair dan novelis tidak menulis apa-apa kecuali kebohongan.

Di suatu malam, Batavus bertemu dengan teman lamanya yang terlihat buruk. Ia tidak mengenakan mantel bulu di musim dingin, melainkan hanya memakai syal biasa di lehernya. Batavus memanggilnya: Sjaalman. Batavus lalu meninggalkannya. Keesokan harinya Batavus menerima sebuah paket dari Sjaalman. Paket tersebut berisi banyak tulisan dan dokumen. Di paket tersebut terdapat juga surat yang berisi ajakan untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut. Batavus tidak tertarik. Akan tetapi setelah melihat ada beberapa dokumen tentang kopi (Mengenai Harga Kopi Jawa), Batavus berubah pikiran. Dimintanya Ernest Stern (pemuda Jerman) yang akan menuliskan bukunya dengan bahan-bahan dari Sjaalman. Judulnya harus “Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda”.

Mulailah Stern menulis cerita dengan deskripsi perjalanan di Jawa. Juga bagaimana kekuasaan Hindia Belanda dan penyalahgunaan kekuasaan. Rakyat dihisap. Tenaga dan hartanya dieksploitasi secara sewenang-wenang.

Pemerintah memaksa petani untuk menggarap tanaman-tanaman tertentu di tanah mereka sendiri; pemerintah menghukum mereka jika menjual hasil yang diperoleh kepada pembeli lain, kecuali pemerintah; dan pemerintah menetapkan harga yang harus dibayar. Biaya pengangkutan ke Eropa lewat maskapai dagang yang mendapat keistimewaan sangatlah tinggi; uang yang dibayarkan kepada para pejabat untuk menyemangati mereka telah meningkatkan harga pokok, dan karena seluruh perdagangan harus menghasilkan keuntungan. Keuntungan itu tidak bisa didapat dengan cara lain, selain membayar orang Jawa sekadarnya agar mereka tidak kelaparan.

Penduduk misikin digerakkan oleh kekuatan ganda; mereka diusir dari sawah mereka sendiri; dan bencana kelaparan sering kali muncul akibat tindakan-tindakan ini.

“Bencana kelaparan? Bencana kelaparan di Jawa yang kaya dan subur?”—Ya, pembaca, beberapa tahun silam ada distrik-distrik yang kehilangan penduduk akibat kelaparan; para ibu menjual anak mereka untuk mendapat makanan, para ibu menyantap anak mereka sendiri.” (hlm. 91)

Stern kemudian bercerita bahwa di Banten Selatan (Baca: Lebak) sedang menunggu Asisten Residen baru pengganti Slotering yang mati dibunuh. Asisten Residen yang baru ditunjuk itu, Max Havelaar.

Havelaar tiba di ibu kota baru distrik Lebak: Rangkas Bitung. Havelaar seorang yang jujur, jenaka dan menyenangkan, peka terhadap cinta dan persahabatan. Dia penuh kontradiksi: setajam silet, berhati selembut anak perempuan, dan selalu menjadi yang pertama yang merasakan luka akibat kata-kata pahitnya sendiri.

Havelaar berjanji akan melindungi semua orang miskin dan tertindas yang ditemuinya. Melindungi penduduk pribumi dari pemerasan dan tirani. Havelaar akan melawan kekuasaan korup dan sewenang-wenang yang sedang berlangsung di Lebak. Perampokan kerbau, kerja tanpa bayaran, dan penyiksaan. Sehari setelah kedatangannya di Lebak, Havelaar berpidato. Secara tegas Havelaar menyampaikan keberpihakannya. Havelaar memberitahukan bahwa tugas pemimpin bukanlah menumpuk kekayaan. Harus meninggalkan kepentingan pribadi. Havelaar juga memperingatkan pemimpin Lebak yang banyak melakukan kesalahan sehingga banyak kemiskinan di desa-desa.

Beberapa catatan penyalahgunaan kekuasaan di Lebak, Havelaar dapatkan dari arsip yang ditinggalkan pendahulunya: Slotering alias C.E.P. Carolus. Dari dokumen-dokumen yang ditemukannya Dekker membentuk suatu gambaran mengenai kesewenang-wenangan terhadap penduduk Lebak. Kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh bupati dan kepala-kepala rendahan, terutama Demang Parang Kujang, Raden Wira Kusuma. Menantu Adipati Lebak, Karta Nata Negara. Adipati Lebak waktu itu ditakuti dan sangat dihormati oleh penduduk. Menurut kode pemerintah kolonial ia adalah ‘saudara muda’ asisten residen Douwes Dekker.

Slotering orang yang baik dan jujur. Slotering meninggal karena diracun. Slotering sedang menyelidiki penyalahgunaan kekuasaan ini dan berencana akan melaporkannya. Slotering telah mengadukan kepada Residen Banten, C.P. Brest van Kempen alias Slijmering. Slotering ingin mengakhiri penderitaan rakya. Pembicaraannya dengan residen selalu sia-sia karena hal ini sudah umum diketahui bahwa pemerasan itu untuk kepentingan dan di bawah perlindungan Adipati Lebak.
Residen Banten tidak mau mengadukan Adipati kepada pemerintah Hindia Belanda.

Droogstoppel menyela cerita Stern. Droogstoppel merasa kurang puas dengan tulisan Stern.

Droogstoppel tadinya sangat berharap bahwa cerita itu berkaitan dengan kopi. Batavus mendapatkan penjelasan Stern yang mengatakan, “tenanglah, banyak jalan menuju Roma, tunggulah sampai akhir pendahuluan. Aku berjanji semuanya akan tiba pada kopi. Kopi, kopi, dan tidak ada yang lain, kecuali kopi.” “Ingatlah Horatius,” lanjut Stern, “bukankah dia berkata, “Omne tulit punctum qui miscuit”—Kopi dengan sesuatu yang lain? Dan, bukankah kau bertindak dengan cara yang sama ketika memasukkan gula dan susu ke dalam cangkir?” (hlm. 184)

Batavus sangat terkejut mengetahui bahwa dalam tulisan Stern dan dokumen Sjaalman tidak ada kopi yang ditanam di Distrik Lebak. Batavus punya jalan untuk memasukkan khutbah Domine Wawelaar. Batavus berkeinginan agar orang Jawa menanam kopi. Jika pun itu mustahil, seharusnya mereka mengirim orang-orang yang tinggal di sana ke tempat lain yang tanahnya bagus untuk kopi. Melalui Wawelaar, Batavus ingin menghentikan kebiasaan tidak menanam kopi di Lebak. Oleh karena itu, orang-orang harus datang kepada Tuhan. Batavus akan menasehati anak-anak mereka (Frits dan Marie) yang sudah diracuni oleh surat-surat yang ada dalam paket Sjaalman. Begitu juga Batavus akan menasehati Stern yang sudah terlalu jauh menyimpang. Mereka (orang Jawa) harus kembali kepada Tuhan. Batavus meyakini bahwa segala sesuatu yang dibimbing tangan Tuhan akan menjadi baik. Tuhan akan menjaga mereka dalam kehidupan sementara dan abadi. Terutama tanah di Lebak bisa dibuat sangat cocok ditanami kopi.

Pendeta Wawelaar berkhutbah. Dalam khutbahnya ia berkata bahwa telah menjadi kehendak Tuhan bahwa kita bangsa Belanda mengharuskan orang Jawa bekerja sekeras-kerasnya, bahkan sampai melampaui batas-batas kemanusiaan dan sesudah itu kita mengirimkan kepada mereka kitab-kitab Injil dan sebagainya.

Dekker menjawab melalui Stern dengan bersahaja bahwa Wawelaar itu karikatur, yang pantas menjadi guru Kristen yang pandai, ramah dan saleh. Wawelaar itu fiksi, khayal dan bohong-bohongan. “…karena dia adalah pelayan yang giat dan tekun bekerja.”. Dan orang Jawa bukanlah kafir. 

Cerita “Pemecah-Batu Jepang” dikisahkan Havelaar kepada Si Upik Keteh. Di Sumatra berarti “nona kecil”. Gadis kecil yang ditemui Havelaar di Natal. Kepada Si Upik Keteh, Havelaar menceritakan kisah tersebut. Kisah yang diambilnya dari majalah Hindia Belanda. Kisah yang ditulis oleh Jeronimus. Jeronimus adalah nama pena dari Baron van Hoevell, pendeta Batavia yang sering membela bumiputera saat dia jadi anggota parlemen.

Havelaar tahu di Lebak terjadi banyak kesalahan. Penyalahgunaan kekuasaan. Namun tidak ada yang dapat mengambil tindakan. Havelaar berusaha mengingatkan Adipati Lebak dengan kelembutan. Havelaar tidak ingin kehormatan Lelaki Tua itu tercemar. Havelaar hendak menyelamatkan, memperbaiki, dan bukan menghancurkan. Dia bersimpati terhadap Adipati. Semua orang tahu bahwa ketidakadilan dan pemerasan, tapi tidak ada yang berani mengambil tindakan. Havelaar membantu orang-orang yang berani mengadu kehilangan kerbau. Hal tersebut dilakukannya di malam hari. Namun orang-orang yang berani mengeluh itu dipanggil Adipati, dan mereka bersimpuh di kaki Adipati, memohon ampun. Lalu mereka akan mengatakan bahwa kerbau mereka tidak dirampas dari mereka tanpa bayaran. Mereka percaya akan mendapat ganti dua kali lipat. Mereka juga tidak dipanggil dari lading-ladang mereka untuk bekerja tanpa bayaran di sawah-sawah Adipati; mereka tahu sekali bahwa nantinya Adipati akan membayar mahal untuk tenaga mereka. Mereka mengadu karena kedengkian tanpa dasar, mereka gila, dan memohon agar dihukum karena kekurangajaran yang keterlaluan itu. Ironi.

Kisah Saijah dan Adinda merupakan kisah tragis yang menimpa rakyat Lebak. Kisah yang menguras air mata. Kisah tentang perampasan. Kisah penderitaan rakyat. Kisah tentang nasib rakyat. Kisah makhluk sejoli yang menjadi gambaran bagi kehidupan umum bangsa kita di bawah telapak kaki penjajah. Kisah sedih yang memikat perhatian. Kisah tentang anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Kisah yang didasarkan pada penderitaan dan kesedihan yang sungguh ada dan banyak dialami oleh rakyat di desa-desa. Kisah ini mungkin membosankan bagi yang membaca.
Saijah dan Adinda tinggal di Badur, bagian dari distrik Parang Kujang. Sebuah dusun di Banten Selatan, di Lebak. Mereka hidup di tengah kemiskinan yang disebabkan oleh kelaliman kepala distrik. Demang Parang Kujang, Wira Kusuma yang suka merampas hak milik penduduk. Saijah telah mengenal Adinda sedari kecil dan mereka berencana akan kawin kemudian. Ayah Saijah tiga kali kehilangan kerbaunya. Ibu Saijah meninggal karena berduka akibat kehilangan kerbau. Saat itulah, ayah Saijah dalam kedukaannya meninggalkan Badur untuk mencari kerja di Distrik Buitenzorg (Bogor). Namun dia dihukum cambuk karena meninggalkan Lebak tanpa surat jalan dan dibawa kembali oleh polisi ke Badur. Dia dipenjarakan karena dianggap gila—dan dikhawatirkan akan mengamuk. Ayah Saijah tidak lama di dalam penjara karena tidak lama berselang dia meninggal.

Saijah berusia lima belas tahun dan Adinda tiga tahun lebih muda ketika ayah Saijah meninggalkan Badur. Saijah mendengar di Batavia ada banyak pekerjaan. Saijah akan bekerja sebagai kacung-bendi. Saijah mendatangi rumah Adinda dan menyampaikan maksudnya. Diperhitungkan ia akan kembali ke desanya setelah tiga tahun kemudian setelah ia cukup memperoleh uang untuk membeli kerbau dua dan cukup usia untuk menikah. Adinda berjanji akan setia kepadanya dan menanti di bawah ketapang, di pinggir Desa Badur, di tepi hutan kalau kekasihnya pulang nanti.

Apakah pembaca merasa bosan?

Baik kita lanjutkan, saya percaya pembaca masih sanggup melanjutkan!

Tetapi setelah Saijah kembali, dilihatnya rumah Adinda telah hancur, sedang Adinda dengan adik-adik serta ayahnya telah pindah dari kampungnya ke tempat yang lebih aman di daerah Lampung. Mereka lari dari Badur untuk menghindari pemerasan-pemerasan yang dilakukan kepada distrik. Kerbau ayah Adinda telah dirampas. Mereka sekeluarga takut akan menerima hukuman karena tidak sanggup membayar pajak. Sebelum meninggalkan kampung mereka, ibu Adinda meninggal karena sedih. Adik perempuannya yang bungsu juga meninggal karena tidak punya ibu dan tidak punya seorang pun yang menyusuinya.

Dalam keadaan hampir gila, karena bingung dan kecewa, Saijah terus mencari tempat pelarian kekasihnya. Ia sampai di Lampung dan bergabung dengan segerombolan pemberontak. Saijah menemukan Adinda sekeluarga di sebuah perkampungan yang terbakar dan semua penduduknya baru saja dibinasakan oleh tentara Belanda. Ia melihat ayah Adinda beserta ketiga saudaranya terbunuh, sedang Adinda sendiri telah menjadi mayat, teraniaya dengan cara mengerikan. Karena penasaran dan putus asa Saijah mendorongkan dirinya ke muka serdadu Belanda  yang sudah siap dengan bedilnya ke arahnya. Saijah mati tertembus bayonet.

Bagi Batavus Droogstoppel simpati kepada orang Jawa yang tertindas haruslah dibuang jauh-jauh. Bagi mereka yang tidak bekerja seperti penduduk Lebak itu logis tetap miskin, demikian pandangan Batavus. Batavus Droogstoppel harus menemui Sjaalman dan istrinya. Batavus ingin menasehati mereka. Batavus juga berkisah tentang kunjungannya ke Drierbergen bersama istri dan Marie. Bertemu dengan mertuanya, Tuan Last tua. Mereka bertemu dengan seseorang yang pernah bertugas di Hindia Timur dan kini tinggal di rumah pedesaan besar. Si lelaki itu mengenal Sjaalman dan tidak menyukainya. Dia mengatakan bahwa pemerintah bertindak benar dengan memecatnya, karena Sjaalman ini orang yang tidak pernah merasa puas dan suka mengomentari segalanya dan tingkah lakunya tercela.

Tuan Slijmering, Residen Banten mengirim surat untuk Havelaar. Ia berjanji akan datang ke Rangkas Bitung keesokan harinya untuk merundingkan apa yang seharusnya dilakukan. Havelaar paham apa yang dimaksud dengan ‘perundingan’, pendahulunya, Carolus, telah sering berunding dengan Residen Banten. Havelaar menulis surat. Residen Banten datang. Pertama kali bertemu Bupati, bertanya kepadanya apa yang bisa memberatkan Asisten Residen itu, dan apakah dia—Bupati itu—memerlukan uang. Residen memberinya beberapa lembar. Kemudian menemui Havelaar dan memintanya untuk menarik aduannya soal penyalahgunaan kekuasaan. Havelaar menolak dengan tegas dan sopan. Havelaar akan melayangkan gugatannya ke Gubernur Jenderal.

Gubernur Jenderal tak menanggapi permohonan audiensi Havelaar. Sibuk. Terlalu sibuk mengurusi kepergiannya untuk pensiun. Havelaar dipindahkan ke Ngawi. Havelaar tidak akan pergi ke Ngawi. Ia menulis surat pemecatannya sendiri. Surat tertanggal 29 Maret 1856. Lalu berturut-turut suratnya tertanggal 23 Mei 1856.

Harapan Havelaar sia-sia. Gubernur Jenderal berangkat tanpa mendengarkannya. Havelaar berkeliaran dalam keadaan miskin dan terabaikan. Dia terus mencari.

Kemudian Multatuli mengambil pena. Dia tidak lagi perlu Stern dan menghentikan Droogstoppel. Droogstoppel sebagai produk menyedihkan dari ketamakan kotor dan kemunafikan terkutuk. Tersedak kopi dan minggatlah!

Havelaar ingin mengatakan bahwa orang Jawa diperlakukan dengan buruk. Jika mereka tidak percaya, ia akan menerjemahkan bukunya ke dalam beberapa bahasa yang dikuasainya dan ke dalam bahasa yang sedang dipelajari. Di semua ibu kota, ucapan semacam ini akan terdengar, “Ada segerombolan perampok di antara Jerman dan Sungai Scheldt!” Jika masih tidak berhasil akan dia terjemahkan bukunya ke dalam bahasa di Hindia sebab orang Jawa harus dibantu, secara hukum atau melalui jalan kekerasan jika perlu.

Akhirnya Multatuli mempersembahkan bukunya kepada Raja William Ketiga. KAISAR dari Kerajaan INSULINDE yang menakjubkan, yang melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud! Dan bertanya kepadanya apakah memang kehendak KEKAISARAN-NYA bahwa orang-orang seperti Havelaar harus diciprati lumpur oleh orang-orang seperti Slijmering dan Droogstoppel; dan lebih dari tiga puluh juta RAKYAT nun jauh di sana harus diperlakukan dengan buruk dan mengalami pemerasan atas nama-Nya.

Penulis
Multatuli, nama sebenarnya Eduard Douwes Dekker. Amsterdam, 2 Maret 1820 tempat dan tanggal ia lahir. Tahun 1838 pergi ke Hindia Belanda (Indonesia). Bekerja untuk pemerintah Belanda di Jawa, Sumatra, Manado, dan Ambon sebagai asisten residen. Kawin pada  10 April 1846 di Cianjur dengan Everdina van Wijnbergen (Tine). Sekembali cuti dari Eropa diangkat menjadi asisten residen di Lebak (4 Januari 1856). Mengajukan berhenti karena pertikaian mengenai prinsip. Surat minta berhenti ditulisnya pada 29 Maret 1856. Tiga bulan sejak diambil sumpah 21 Januari atau delapan puluh empat hari sejak hari pertama di Lebak. Tahun-tahun terakhir ia tinggal di Jerman. Meninggal di Nieder-Ingelheim, Jerman pada tanggal 19 Februari 1887.

Karya-karya penting Multatuli: Max Havelaar (1860), Minnebrieven (1861), Ide-Ide: 7 Jilid (1862-1877) di dalamnya termuat Vortenschool dan Woutertje Pieterse, Duizend-en-eenige hoofdstukken over specialiteiten (1871), dan Milioenenstudien (1873).

Judul buku: Max Havelaar
Judul Asli: Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company
Penulis: Multatuli
Penerbit: Qanita, Bandung
Cetakan ke-II: Agustus 2014
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Tebal: 480 halaman
ISBN: 978-602-1637-45-6

Ledeng, 11 Februari 2015[]
Sumber: http://www.buruan.co/max-havelaar-sebuah-perkenalan/

Mengenang Multatuli

IMG_20141225_0020
Apa yang terkandung dalam isi hatinya, juga terkandung dalam isi hati kita semua. Oleh karena itu Multatuli masih tetap suatu pribadi yang hidup dan sebeltulnya dia masih berdiri di tengah-tengah kita, juga hari ini, di sini.
Belum sempurna rasanya membahas buku dan sejarah Nusantara tanpa membahas sosok Eduard Douwes Dekker (1820-1887) alias Multatuli. Sosok yang mempengaruhi jalan sejarah Indonesia lewat kekuatan kata-kata. Ia berani menyisihkan dirinya dari mainstream untuk membela idealismenya. Suatu tindakan yang jarang kita temukan akhir-akhir ini.

Ulasan mengenai sosok Multatuli dan buku “Max Havelaar”-nya rasanya sudah cukup banyak dilakukan sehingga rasanya tidak perlu kulakukan lagi. Selain itu kemampuan analisisku terlalu rendah untuk menginterpretasi kedalaman tokoh Multatuli maupun karyanya. Sebagai gantinya berikut akan kukutip kembali sebuah artikel dari majalah Pewarta PPK No. 15 April 1952 yang membahas tentang tokoh Multatuli. Majalah ini diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Bag. Penerangan. Artikel Multatuli dari majalah tersebut sengaja kukutip kembali karena merupakan buah pikiran dari Rob Nieuwenhuys, seorang sastrawan Belanda yang kredibilitasnya tidak diragukan lagi. Berikut adalah teks lengkapnya, dengan ejaan yang telah diperbaiki.

IMG_20141225_0019
MULTATULI
Multatuli, dia seorang Belanda. Kenapa kita tidak tulis tentang dia? Sudah hampir basi kedengaran di telinga : kita tidak benci pada Bangsa Belanda, pada si Piet atau si Jan. Kita cuma benci pada sistem pemerintahannya yang pernah menindas rakyat Indonesia berabad-abad lamanya!

Multatuli artinya : akusudahbanyakmenderita. Si Akusudahbanyakmenderita ini boleh dianggap sebagai salah satu figuur besar dalam sejarah kemanusiaan. Nama yang sebetulnya adalah Eduard Douwes Dekker. Lahir di Amsterdam pada tanggal 2 Maret 1820. Sejak umut 19 tahun sudah menginjak bumi Nusantara, untuk kemudian menjadi ambtenaar Belanda. Dalam umur 36 tahun ia diangkat menjadi asisten residen dari Lebak (Banten). Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat , betapa sistem kolonialisme dan feodalisme menghisap dan memeras darah rakyat  yang melarat. Sebagai manusia, jiwanya berontak ! Dia murka ! Dia minta lepas dari jabatannya, untuk pulang kembali ke Nederland dengan tidak menggondol kekayaan dari Indonesia sedikitpun dan dengan tidak mengharapkan pensiun.

Dalam tahun 1860 bukunya yang pertama “Max Havelaar of de Koffie-veilingen der Nederlandsche Handelmaatschappij” keluar. Seluruh Nederland gempar. Perbuatan-perbuatan kejam, jahat, dan tidak mengenal perikemanusiaan dari amtenar-amtenar kolonial serta kaki tangannya para bangsawan feodal dibongkar dan ditelanjangi bulat-bulat. Walaupun namanya menjadi besar karena buku yang ditulis, namun ia tetap hidup melarat. Dan sang “proletar-intelek” ini akhirnya mati di Nieder-Ingelheim dalam usia 67 tahun.

Bangsa Indonesia sanggup menghargai siapa saja yang yang memang patut dihargai. Multatuli, sebagai manusia tetap berjasa buat rakyat Indonesia yang melarat dan menderita. Oleh karenanya jasa-jasanya patut diperingati dan dihargai. Maka oleh anggota dari perkumpulan PEN-club dan LEKRA pada tanggal 19 Februari yang lalu ia diperingati, yang berarti diperingati untuk pertama kalinya oleh masyarakat Indonesia. Di bawah ini kita muatkan ringkasan daripada pidato Rob Niewenhuys, seorang ahli kesusastraan Multatuli, sebagai pembicara utama dalam pertemuan – peringatan tersebut.
- Redaksi -
IMG_20141225_0017
Hari ini, adalah tepat 65 tahun yang lalu, bahwa Multatuli meninggal dunia di Nieder-Ingelheim. Kejadian ini sudah lama sekali, Lodewijk van Deysel (penulis Belanda) juga mati pada beberapa minggu yang lalu. Pun dia saya peringati, tapi seolah-olah dia sudah lebih lama meninggalkan kita daripada Multatuli. Sedangkan waktu Van Deysel meninggal orang bertanya : “Astaghfirullah, masih hidupkan orang ini?” berkata orang tentang Multatuli : “Sungguh aneh betul, bahwa dia telah mati 65 tahun yang lalu dan dia menulis “Max Havelaar” hampir seratus tahun yang silam!”

Multatuli, walaupun semua itu dia tulis dalam tahun 1860 atau 1870 atau 1880, masih tetap menerangkan hal-hal yang mengenai kita, sampai sedemikian rupa mengenai diri kita hingga kita menjadi murka oleh karenanya. Dia tetap populer dan terkenal, dan sampai sekarangpun masih terdapat orang-orang yang pro dan kontra Multatuli. Multatuli merupakan batu ujian. Dari pernyataan pro dan anti Multatuli kita bisa membaca watak orang-orang yang bersangkutan. Dari pernyataan-pernyataan itu dapat ditarik garis batas yang memisahkan kaum konservatif dari kaum progresif.

Kalau dulu, waktu Multatuli masih hidup ada orang yang tidak sependapat dengan dia, sekarangpun orang itu masih berpendirian begitu. Pengikut dan lawan Multatuli sampai sekarang masih tetap bertengkar dan berselisih dengan mempergunakan surat-surat selebaran, juru-juru sita dan sebagainya. Seperti terjadi baru-baru ini, yaitu tatkala Tuan Ett, konservator dari Multatuli Museum mengeluarkan sebuah brosur tentang suatu perkara yang Multatuli turut tersangkut di dalamnya. Dan yang juga menarik perhatian adalah, bahwa setelah lima puluh atau enam puluh tahun, selalu masih tetap saja soal-soal atau pendapat lama yang masih dipertengkarkan kalau orang membicarakan Multatuli. Multatuli masih tetap berdiri di tengah-tengah kita sekarang seperti halnya dahulu waktu dia masih hidup, yaitu sebagai “pengarang yang besar” dan sebagai “manusia jahat yang selalu mengacau keadaan dan mendustakan isterinya”.

Orang berkata, bahwa Multatuli adalah penulis berkaliber besar; dia memiliki gaya bahasa yang bagus-indah dan gemilang; tentang ini kawan dan lawan seiya-sekata. Dengan pengakuan ini, dimaksud oleh lawan-lawannya untuk lebih berat menuduh manusia Multatuli sebagai orang tolol yang selalu kacau pikirannya  sebagai pembohong , sebagai orang yang suka melamun, dan sebagai manusia yang rusak akhlaknya. Dan orang berkata, seperti juga dimaksud oleh Droogstoppel : “Lebih pintar manusia lebih jahat dia”. Akan tetapi ini hanya suatu sebutan, suatu kebenaran – seperti yang pernah diucapkan Du Perron – yang lahir “dari pikiran orang-orang kecil untuk orang-orang kecil”. Ini adalah hiburan yang dibuat sendiri oleh orang-orang kecil dan buat orang-orang kecil, karena mereka tidak bisa menjadi besar, jadi juga tidak dapat berbuat dosa yang besar. Orang tentu mengerti kalau saya bilang : Dengan berbuat dosa – ini hanya berarti menerjang hukum-hukum susila – orang tak akan menjadi besar dan seorang penyair yang tidak terkenal, dengan banyak meminum arak tidak akan dapat menjadi Li Tai Po atau dengan meminum “absyth” tidak akan menjadi Verlaine. Akan tetapi, orang besar tak dapat dipisahkan dari dosa-dosa yang diperbuatnya. Jikalau Dostojefski, Goethe, Proust, Fide, Verlaine, Li Tai Po, Rimbaud atau Multatuli hendak kita hukum karena dosa-dosa mereka, maka kita hendaknya harus memakain kebajikan mutlak sebagai ukuran, dan dengan itu juga kesahajaan-kesederhanaan yang mutlak.
Dapat saya menggambarkan bahwa orang yang jujur dan sopan lebih banyak menghargai kebajikan daripada kebesaran.
IMG_20141225_0021
Lawan-lawan Multatuli berkata : “Engkau menulis baik sekali, engaku memiliki gaya bahasa yang gemilang, teruslah menulis, tetapi cobalah melakukan dengan memakai dasar fikiran yang lain”. Untuk membalas ejekan ini, Multatuli cuma mengemukakan satu jawaban saja :
“Saya menulis menurut pendapat, menurut pendapat….. tidak, saya hanya menulis cuma menurut pendapat dan fikiran saya sendiri, tuan-tuan; tuan tinggal di villa tuan – tuan menikmati duit tuan, tuan melagakkan prinsip-prinsip tuan sendiri, tuan mengingkari diri tuan sendiri, tetapi saya hanya menulis menurut pendapat dan fikiran saya sendiri, dan tuan harus menyerahkan hal ini kepada saya sendiri.”
Kenapa Multatuli menulis baik? Karena tiap perkataan berisikan keyakinannya, kebenciannya, cintanya, dan kesentimentilannya, perasaannya tentang keadilan dan kebenaran “Le style c’est L’homme meme” kata penulis Perancis Buffon yang hidup dalam abad-18, “gaya bahasa, itu adalah manusia sendiri”. Dan sebutan ini pasti juga mengenai diri Multatuli.

Kebesarannya sebagai pengarang tidak dapat dipisahkan daripada wataknya, kekuatan jiwa dan temperamennya. Dan kepada diri sendiri saya bertanya : Apakah bukan suatu tanda adanya kekuatan jiwa, suatu tanda bahwa ia berwatak, apakah bukan suatu tanda kebesaran, bahwa ia telah menulis “Max Havelaar” (ingat, ini adalah sebuah buku yang terdiri dari 3 sampai 400 halaman) dalam tujuh atau delapan minggu dalam musim dingin di tahun 1857-58 dalam sebuah kamar kecil di atas loteng di Brussel yang tidak “dipanaskan”, dalam keadaan sengsara dan melarat yang amat sangat dan diganggu oleh keadaan keluarganya di Negeri Belanda yang juga dalam keadaan melarat.

Panggilan manusia adalah untuk jadi manusia, karena lahirnya Max Havelaar adalah tidak lain dan tidak bukan hanya suatu tanda daripada perjuangan Multatuli buat menegakkan “keluhuran manusia”. Dan”keluhuran manusia” ini adalah taruhan daripada drama yang terjadi di Kawedanan Lebak dalam tahun 1856.

Dalam “Max Havelaar” orang selalu melihat dua macam maksud : 1. Suatu usaha dari Multatuli untuk mendapatkan “nama baiknya” kembali dalam “urusan Lebak”; 2. Protesnya terhadap korupsi dan pembelaannya kepada “Orang Jawa” yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pemerintah. Tetapi kata “Orang-orang Jawa” ialah “Orang Indonesia” karena nama Indonesia pada ketika itu belum ada. Ia berpihak kepada “Orang Jawa” karena mereka adalah orang-orang yang tertindas; oleh karenanya ia cinta kepada mereka, dan karir serta keberuntungannya tergantung pada “permainannya” dalam membela kepentingan-kepentingan mereka.

Kita ketahui pernyataan-pernyataan di Negeri Belanda setelah “Max Havelaar” diterbitkan : Pernyataan-pernyataan ini adalah penjelasan daripada kesan yang dalam yang pada umumnya ditimbulkan oleh buku ini. “Max Havelaar” timbul pada saat orang di Nederland terlibat dalam sengketa ketatanegaraan yang prinsipil antara kaum konservatif dan kaum liberal, antara pengikut-pengikut Cultuurstelsel dan pengikut apa yang dinamakan kerja sukarela, yang belakangan tentu saja dari kaum liberal. Dalam parlemen perdebatan berjalan terus menerus dengan tak ada akhirnya dan di tengah-tengah perdebatan itu muncullah “Max Havelaar” dengan pembelaannya buat kerja sukarela (kata kaum liberal) tidak, buat cultuurstelsel (kata orang-orang konservatif). Dengan lain perkataan, kedua belah pihak mencari alasan-alasan mereka dalam sang “Max Havelaar”. Akan tetapi Multatuli tidak menyetujui semua itu dan dalam brosurnya yang terkenal “Over Vrije Arbeid” (1862) (Tentang Kerja Sukarela) dengan sengit sekali ia menyerang semua pihak, pengikut vrije arbeid maupun pengikut cultuurstelsel.
“Soal kerja sukarela adalah bukan soal. Janganlah dicuri orang Jawa itu, janganlah dirampok dia, jangan bunuh dia… maka dalam beberapa waktu akan ternyata apakah dia mau bekerja dengan sukarela atau tidak. Saya kira : ya ! Dan kalau demikian halnya, saya pun setuju dengan kerja sukarela. Sesungguhnya, juga peradaban akan segera datang, dan dia – dimana saja tidak kurang daripada di Jawa – akan kiusambut dengan segala kegembiraan, walaupun dia akan membawa kerugian bagi Negeri Belanda. Karena di atas kepentingan-kepentingan tanah air berdiri tegak kepentingan KEMANUSIAAN.”
Akan tetapi walaupun bukunya sangat berkesan dan berpengaruh, dan walupun semenjak “Havelaar” diterbitkan tidak lagi dijalankan politik kolonial dengan maksud jahat seperti pada masa yang sudah-sudah namun Multatuli sendiri tetap miskin sampai ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Dalam tahun 1862 ia benar-benar menjadi “gembel” yang hidupnya menderita dan sengsara.
“Saya sedih dan menderita. Dan saya mencari sebabnya yang menghalang-halangi usaha saya yang baik, dan sebabitu telah saya dapati berupa suatu penyakit yang bersarang dalam tubuh tuan-tuan hai orang-orang Belanda, dan penghalang itu telah saya temukan berupa suatu penyakit yang busuk… berupa dusta. Ya, saya telah mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi tuan-tuan tidak mendengarnya.

Dan tiap hari orang hanya mendustakan tuan-tuan dan tuan-tuan mau mendengarnya. Oleh karena itu saya menyingkirkan diri sedikit, dan meletakkan surat saya yang penuh cacian di muka rumah mereka yang menipu tuan-tuan. Oleh karena itu sambil jalan saya pakukan pengumuman saya tentang permusuhan pada gerbang prajurit-prajurit perampok, yang dalam lapang tohani menyobek-nyobek perasaan tuan-tuan, dan yang menghancurkan kebesaran mereka sendiri dengan melakukan pencurian. Dalam abad-abad pertengahan orang merampas harta benda rakyat. Pada masa itu, perbuatan sedemikian disebut orang perbuatan kesatria, perbuatan orang bangsawan. Semakin tinggi istana mereka semakin sukar maling itu dicari… dan semakin tinggi kebangsawanannya. Kini orang tidak mengemukakan kebenaran kepada tuan-tuan dan itu namanya kepintaran, agama pada dewasa ini. Tatkala kaum tani bersatu-padu, segera ternyata, bahwa prajurit-prajurit itu tidaklah merupakan orang-orang yang paling gagah dan berkuasa, dan mereka hanya adapat bertindak sewenang-wenang selama rakyat jelata lupa bahwa kemungkinan pemberontakan ada. Dan tuan-tuan orang-orang biasa yang berpiliran sehat, ingatlah bahwa jubah pembohong-pembohong yang sudah bejat akhlaknya itu tidak lebih kuat daripada baju besi yang dipakai oleh kau ksatria-bangsawan yang suka merampok harta benda orang.

Hanya satu macam ksatria-bangsawan saja yang ada. Ksatria-bangsawan yang sama sekali tidak perlu berjubah ataupun berbaju besi. Daerah pertempurannya adalah sang cahaya, tamengnya adalah kebenaran : hakimnya adalah sejarah kemanusiaam dan pedangnya ialah PERKATAAN. Perkataan itu akan kusampaikan kepada tuan-tuan menurut kekuatan yang ada pada saya dan akan kusampaikan pula dalam “ideen” yang saya bermaksud untuk menerbitkannya. Di situ akan kucurahkan segenap isi hatiku”
Apa yang terkandung dalam isi hatinya, juga terkandung dalam isi hati kita semua. Oleh karena itu Multatuli masih tetap suatu pribadi yang hidup dan sebetulnya dia masih berdiri di tengah-tengah kita juga hari ini, di sini.

IMG_20141225_0022
Ilustrasi Multatuli berpidato di depan Bupati Lebak

Sumber: https://santijehannanda.wordpress.com/2014/12/25/mengenang-multatuli/

Top