ads

Slider[Style1]

Publikasi Media

Catatan

Resensi

Aktivitas

Reading Group

Penghargaan Perpusnas 2014



Sore itu, Kamis, 23 Oktober 2014 sebagian Jakarta diguyur hujan. Ada kesibukan di lantai dua Gedung SMESCO-SME Tower di kawasan Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Selepas magrib kursi dan meja telah ditata. Panitia bergegas menunjukan tempat duduk untuk tamu undangan. Di luar, tamu-tamu yang akan mengikuti acara malam itu tampak mencatatkan namanya.

Malam itu penghargaan tertinggi dari Perpustakaan Nasional akan diberikan. Nugra Jasadarma Pustaloka 2014, namanya. Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka diberikan Perpustakaan Nasional kepada pihak-pihak yang dianggap memberikan kontribusi besar bagi pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerahnya. Sebagaimana diatur dalam Pasal 51 ayat 6 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca.

Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dikemas dalam konsep yang menghibur bertajuk Gemilang Perpustakaan Nasional 2014. Berbagai hiburan musik, tari, dan band dari sejumlah pendukung acara ditampilkan. Tercatat ada Cakra Khan, Petra Sihombing, Dewi Gita, Andhika Pratama, Ussy Sulistiawaty, Marsya Idol, Inne Octa, Vinnie Lupita, Hijau Daun Band, serta penampilan atraktif dari para finalis Abang None Jakarta. Cak Lontong dan Natalie Sarah bertugas memandu acara malam itu.
 
Dalam sambutannya, Kepala Perpustakaan Nasional, Dra. Hj. Sri Sularsih, MSi mengemukakan bahwa pembinaan minat baca merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat saat ini. Perpustakaan adalah media penerang terhadap perkembangan intelektual masyarakat. Kian sering masyarakat memanfaatkan perpustakaan, akan muncul sikap kritis dan koreksi terhadap hal yang merugikan. Informasi yang terkandung dalam suatu bacaan mampu memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pengalaman manusia.

Perpustakaan yang timbul dari keinginan masyarakat akan menjadikan kegiatan di perpustakaan berjalan dengan baik. Masyarakat juga akan mendapatkan nilai tambah. Perpustakaan tetap eksis dan berkembang mengikuti kemajuan masyarakat.

Malam itu sebanyak 28 penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional 2014 diberikan. Masing-masing penerima mewakili kategori yang telah ditentukan, antara lain pemimpin daerah, masyarakat dan media yang berperan aktif terhadap pengembangan perpustakaan dan minat baca, buku terbaik, pustakawan, lomba bercerita, lomba perpustakaan desa/kelurahan, dan perpustakaan SLTA terbaik.

Salah satu ketegori penerima Nugra Jasadarma Pustaloka, yaitu Masyarakat yang Berperan Aktif Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Minat Baca. Tercatat ada lima penerima untuk kategori ini. Pertama, Husin (TBM Rangkah), Kota Surabaya, Jawa Timur. Kedua, Hendriyadi (Rumah Baca Harapan/Rubah), Pulau Pahawang, Lampung. Ketiga, Ubaidilah Muchtar (Taman Baca Multatuli), Kabupaten Lebak, Banten. Keempat, Dessy Sekar Chamdy (Library @Batavia), Jakarta Utara, DKI Jakarta. Kelima, Agus Munawar (Sudut Baca Soreang), Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Orang lebih mengenalnya dengan nama Husin. Meski namanya Pak Usin. Pak Husin memiliki 4 orang anak dan 7 cucu. Kesehariannya mengelola Taman Baca Rangkah (TBM) Rangkah, Surabaya. Saya kaget mendengar pengakuan Pak Husin bahwa Taman Baca yang dikelolanya itu berada di atas area pemakaman. Ya, taman baca yang banyak dikunjungi oleh anak-anak dari kaum marjinal itu terletak di TPU Rangkah.

Setiap hari belasan anak-anak akan datang untuk mengaji di Taman Baca Masyarakat (TBM) Rangkah ini. Pak Husin ditemani beberapa relawan akan dengan senang hati menyambut siapa pun yang datang. 24 jam buka Taman Baca Masyarakat (TBM) Rangkah ini.

Lain pula dengan Dessy Sekar Chamdi. Pegiat Taman Baca Masyarakat yang sudah malang melintang di dunia perbukuan ini kini banyak berkegiatan di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa. Dessy Sekar Chamdy bersama relawan Forum Indonesia Membaca membuka sudut-sudut baca di rumah-rumah warga. Tidak hanya aktivitas membaca, disana mereka pun diajari kelas kreatif, kelas seni dan kelas berbagi.

Ubaidilah Muchtar lekat dengan nama pengarang besar Belanda, Multatuli. Sejak 2009 tepatnya 10 November 2009, Ubai, begitu ia sering disapa, mendirikan Taman Baca Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten. Di kaki Gunung Halimun Salak, di Kampung Ciseel, Desa Sobang yang belum terjamah modernitas, anak-anak membaca karya Multatuli yaitu novel Max Havelaar secara pelan-pelan. Membaca bersama, superlelet dalam bentuk reading group.

Pembacaan novel Max Havelaar menjadi satu dari banyak kegiatan yang dilakukan di Taman Baca Multatuli. Selain membaca Max Havelaar anak-anak juga membaca novelet Saija (bahasa Sunda), menulis catatan harian, bermain drama Saijah dan Adinda, menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung, pergi ke Badui, dan kegiatan dalam rangka memperingati kalahiran novel Max Havelaar dengan tajuk Ciseel Day. Di kegiatan Ciseel Day ditampilkan atraksi kesenian rakyat, pencak silat, pembacaan puisi, tarian dan nyanyian rakyat, menulis catatan perjalanan, dan kegiatan lainnya. Tahun 2014 Ciseel Day memasuki tahun keempat.

Tengah malam menyergap ketika satu-satu penghargaan selesai diberikan. Beberapa lagu telah dinyanyikan. Cak Lontong dan Natalie Sarah yang bertugas memandu acara malam itu berterima kasih kepada semua yang hadir. Satu demi satu tamu undangan meninggalkan ruangan di lantai dua itu. Tengah malam sempurna ketika lampu di dalam gedung dimatikan. (Taman Baca Multatuli/UMH)

HAVELAAR, héros littéraire néerlandais Aux sources de l’anticolonialisme

Sumber: http://mobile.courrierinternational.com/article/2010/07/29/aux-sources-de-l-anticolonialisme
Max Havelaar, c’est aussi et d’abord un grand roman anticolonialiste écrit il y a 150 ans par un fonctionnaire néerlandais en poste en Indonésie. Et qui a bien résisté au temps.
La photo s’est ternie. Ses coins ont jauni. On y voit un homme trônant dans un fauteuil, plein d’assurance, le regard perçant, le cheveu dru et ondulé, une épaisse moustache mangeant ses lèvres. Il s’agit d’Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli, un écrivain néerlandais entré dans la légende. Ce cliché défraîchi est collé à la vitre d’une modeste bâtisse de deux étages, au numéro 20 de la rue Korstjespoortsteeg, à deux pas de la gare centrale d’Amsterdam. C’est là que Dekker est né. Cette maison, qui héberge aujourd’hui le musée Multatuli, semble vouloir s’abriter de la foule qui défile le long du canal Singel, où fleurissent les marchands de tulipes. “Voici un exemplaire de la première édition de Max Havelaar, imprimé en 1860”, explique Ria Grimbergen, une bénévole de la fondation Multatuli. Elle désigne un livre à la couverture noire et élimée. Les pages commencent à pâlir et à se détacher. Un siècle et demi, déjà. Tout autour s’entassent d’autres éditions, dont plusieurs traductions [en France, chez Actes Sud/Babel, 2003].

En 1859, quatre ans après son retour des Indes orientales néerlandaises [l’actuelle Indonésie], le fonctionnaire de l’administration coloniale Eduard Douwes Dekker (1820-1887) s’est retiré pendant un mois dans une mansarde en Belgique pour écrire son livre. Max Havelaar a été publié l’année suivante. Sa sortie a fait l’effet d’une bombe, à la fois par son style, qui révolutionnait l’esthétique littéraire du XIXe siècle, et sa sévère critique du système colonial néerlandais. Le livre, que Hermann Hesse classe dans La Bibliothèque universelle parmi les plus admirables, décrit entre autres la coercition exercée, à travers la pratique institutionnalisée des travaux forcés, sur les paysans de la région de Lebak, dans l’ouest de Java, ainsi que la répression impitoyable conduite par un aristocrate local. Chef-d’œuvre incontesté de la littérature mondiale, Max Havelaar est au programme de toutes les écoles des Pays-Bas.

Désormais, son nom est également associé au commerce équitable. Cette histoire-là débute en 1986. Nico Roozen, directeur de l’ONG Solidaridad, reçoit un appel d’un producteur mexicain de café. “Merci pour votre don, dit-il, mais nous préférerions que vous nous aidiez en achetant notre café à un prix équitable.” L’idée va germer dans l’esprit de Nico. En s’associant avec Frans Van der Hoff, un pasteur néerlandais déjà impliqué dans des coopératives de café au Mexique, il fonde le premier label de produits équitables au monde. Le nom de Max Havelaar leur apparaît approprié pour servir le combat de Solidaridad en faveur des cultivateurs mexicains. Un combat similaire à celui que Havelaar, héros du roman de Multatuli, mène en 1856 aux côtés des petits planteurs de café de Lebak. La marque de café Max Havelaar naît officiellement à Amsterdam le 15 novembre 1988. Trois ans plus tard, en 1991, Solidaridad apporte une dernière touche à un mécanisme de commerce équitable à l’échelle mondiale, la Fairtrade Labelling Organizations (FLO), en vertu duquel des inspections seront conduites auprès des entreprises qui revendiquent l’étiquette “commerce équitable”. Une myriade de produits alimentaires tels que le thé, le sucre, le chocolat et le miel reçoivent ainsi l’estampille. Pour les fruits, Nico et ses associés développent un autre label, baptisé Oké. AgroFair, qui le commercialise, domine aujourd’hui le marché européen avec un chiffre d’affaires annuel dépassant les 60 millions d’euros. Et l’idée continue d’essaimer, des organisations néerlandaises faisant campagne pour l’établissement de fairtrade towns. Dans plusieurs villes, les citoyens font ainsi pression sur leurs élus pour obliger les magasins à vendre uniquement des produits équitables. Quatre agglomérations ont déjà adhéré à l’idée, dont Rotterdam et Groningue.

Le succès de ce vaste mouvement est tel qu’il a fini par faire oublier aux Néerlandais l’origine de Max Havelaar, héros d’une œuvre littéraire qui a bouleversé le destin d’un pays. A leurs oreilles, ce nom n’évoque que la marque de café. D’où l’importance des célébrations qui se déroulent cette année aux Pays-Bas en l’honneur du 150e anniversaire de la publication du roman de Multatuli, dont l’exposition présentée au printemps dernier à l’université van Amsterdam. A l’entrée de la salle Bijzondere Collecties, la statue d’un buffle grandeur nature surprend les visiteurs. Dans le roman Max Havelaar, le buffle est l’animal totémique incarnant les souffrances des paysans. Autour de la bête sont suspendus des vêtements traditionnels que les Indonésiens portaient au XIXe siècle dans la région de Lebak. Mais le plus étonnant est à venir : un mur entier consacré à une chronologie de la colonisation néerlandaise de l’Indonésie mise en regard des événements dont Multatuli s’inspire. Il est par exemple expliqué qu’en 1860 l’Indonésie comptait 42 800 Européens qui imposaient leur loi à 12,5 millions d’indigènes. Les travaux forcés imposés par l’autorité coloniale sont décrits par le menu, sans omettre les sanctions infligées aux habitants, dont la terre était jugée trop peu fertile. A cette époque, plus de 860 000 paysans dont la récolte de café était considérée comme insuffisante étaient ainsi contraints de travailler sans percevoir de salaire. Telle était leur punition. Il est précisé que les profits générés par cette forme d’esclavage étaient rapatriés pour financer les infrastructures de la métropole. Ponts, routes, canaux et jusqu’aux voies de chemin de fer ont été construits avec la sueur des paysans indonésiens transformés en forçats. Ce modèle d’exploitation est au cœur de l’indignation de Max Havelaar.

En parcourant la deuxième salle de l’exposition, on se rend compte que le combat de Multatuli n’a rien perdu de son actualité : un écran géant diffuse China Blue [de Micha Peled, 2005], un documentaire tourné clandestinement. On y suit une à une les étapes de fabrication et de commercialisation d’un jean, depuis l’usine, en Chine, jusqu’à son acquisition par un client américain. Les ouvrières sont contraintes de travailler au-delà des limites humaines. Elles s’endorment entre les tas de jeans, devant leur machine à coudre, incapables de résister au sommeil. A quelques milliers de kilomètres de là, le village de Ciseel, dans le canton de Lebak, attend toujours l’électricité. Il n’est accessible qu’à moto ou à pied. C’est ici que se déroule l’histoire écrite par Douwes Dekker. La semaine dernière, à quatre heures de l’après-midi, des trombes d’eau se sont abattues sur le village. Des dizaines de paires de tongs multicolores maculées de boue jonchaient le seuil d’une minuscule maison. A l’intérieur, une conversation animée. Assis à même le sol, les occupants tiennent entre leurs mains un livre : Max Havelaar, dans sa version indonésienne, traduite en 1972 par H. B. Jassin. Depuis trois mois, chaque semaine, écoliers et collégiens se retrouvent ici, autour du roman. Ils posent des questions sur une phrase ou un mot dont le sens leur échappe. Leur maître, Ubaidillah Muchtar, initiateur de ce “club de lecture Multatuli”, a parfois recours au soundanais [langue de Java-Ouest]. Un grand livre rouge circule parmi les enfants, sur lequel ils inscrivent leurs réflexions [fautes comprises] : “Je suis très fier de Max Hapelar”, “J’aime beaucoup ce livre mais je n’aime pas du tout le régent”, “J’adore le riding grup [reading group]” ou encore “Si j’étais régent, je ne serai pas cruel envers le peuple”. Ubaidillah, instituteur à Depok, dans la grande banlieue de Jakarta, passe trois jours par semaine à Ciseel. Max Havelaar, dit-il, est le premier roman auquel ces villageois ont eu accès. “Nous nous devons de connaître ce précieux témoignage que nous a légué Multatuli”, souligne-t-il. La discussion se prolonge pendant deux heures, seulement interrompue par l’appel à la prière du couchant.

Bien que la maison qu’occupait naguère Multatuli soit aujourd’hui en ruines, son souvenir dans le canton de Lebak n’est pas près de s’évanouir. La grande rue de la bourgade, l’école, une pharmacie et le bâtiment principal du gouvernement local portent son nom. “C’est un grand homme, un héros planétaire”, affirme le directeur du département de la jeunesse, des sports et de la culture de Lebak. Mais la consécration dont jouit Multatuli n’est pas du goût de tous. Les descendants de Raden Adipati Karta Natanagara, l’ancien bupati [régent], issu de l’aristocratie locale et dépeint par Multatuli sous les traits d’un dirigeant indigène d’une cruauté sans nom, estiment démesuré le culte voué à l’écrivain. Raden Adang Bachtiar Sastranagara ne cache pas son indignation, convaincu que la notoriété de l’écrivain a à jamais souillé la réputation et le nom de son ancêtre. “A croire que Multatuli, qui travaillait pour l’administration coloniale néerlandaise, était un héros et mon arrière-arrière-grand-père le méchant de l’histoire !” s’insurge-t-il. Lorsque le roman Max Havelaar est arrivé dans la région, la famille Natanagara a éprouvé un choc. Adang raconte que son aïeul est entré dans une colère noire. Des décennies plus tard, dans les années 1970, son oncle a encore écrit une lettre de protestation au gouvernement régional lorsque le film Max Havelaar [de Fons Rademakers, 1976], adapté du roman, a été projeté à Lebak. Bien que la population n’ait jamais couvert les descendants Natanagara d’opprobre, Adang assure que le stigmate ne s’effacera pas de sitôt et que son ressentiment n’est pas près de s’apaiser. Iroh Siti Zahroh, son épouse, n’est pas en reste. Pour elle, considérer le livre comme un témoignage historique dépasse l’entendement. A ses yeux, les accusations de Multatuli sont pures calomnies : par exemple, le travail forcé que décrit l’écrivain consistait en réalité, soutient-elle, en une aide volontaire des villageois envers le régent de Lebak, qui souhaitait accueillir, avec tous les honneurs dus, son cousin, nommé gouverneur de la province de Cianjur (Java-Ouest). A cette époque, raconte Iroh, il était naturel pour les paysans de se mettre au service de Natanagara, un dignitaire de sang royal.

La famille Natanagara n’est pas la seule à questionner l’intégrité de l’écrivain. L’historien Bonnie Triyana, spécialiste de Max Havelaar, rapporte qu’aux Pays-Bas aussi certains considèrent Dekker comme un escroc, un mystificateur. Lui-même estime que la pensée progressiste anticolonialiste qui prenait forme à l’époque a vraisemblablement pesé sur l’écriture du livre. Bonnie n’exclut pas le fait que Multatuli ait ainsi forcé le trait. D’autant qu’il n’est resté que trois mois en poste à Lebak – insuffisant, estime l’historien, “pour réunir la matière nécessaire à un tel livre”. Mais, au-delà de la polémique, Bonnie insiste sur l’influence incontestable de Max Havelaar sur le combat indépendantiste indonésien. Sukarno lui-même, le père de l’indépendance, l’avait dévoré dans sa jeunesse.


HISTOIRE — Des pages noires
La colonisation néerlandaise de l’archipel indonésien aura duré trois cent cinquante ans, depuis le jour où, en 1596, le premier navire accoste au port javanais de Banten, jusqu’à la déclaration de l’indépendance, en 1945. En 1621, le fondateur de l’empire des Indes néerlandaises, Jan Pieterszoon Coen, écrit l’une des pages les plus noires de cette colonisation : le génocide des habitants de l’île de Banda, dans les Moluques, connue pour sa richesse en noix de cajou et en muscade. Très vite, les autorités coloniales fondent la Compagnie unie des Indes orientales (VOC), qui exerce un monopole sur le commerce des épices. En 1830, le gouverneur général Johannes Van den Bosch instaure le cultuurstelsel, ou système de cultures forcées, obligeant nombre de paysans javanais à convertir, pour le compte de la VOC, jusqu’à la moitié de leurs rizières en plantations de café, de sucre ou d’indigo. Dans les années 1840, le cultuurstelsel provoque de terribles famines : “La famine ? Sur cette île de Java, riche, fertile, bénie des dieux, la famine ? Oui, lecteur. Il y a quelques années encore, des districts entiers ont été dépeuplés par la faim. Des mères vendaient leurs enfants pour un peu de nourriture. Des mères ont mangé leurs enfants.” (Max Havelaar, Multatuli, Actes Sud)

Vandaag: Partij 'Jokowi' het grootst in Indonesië (video)

9 April 2014
Sumber: http://www.destentor.nl/algemeen/buitenland/vandaag-partij-jokowi-het-grootst-in-indonesi%C3%AB-video-1.4306132
JAKARTA - Tientallen miljoenen Indonesiërs op duizenden eilanden hebben woensdag hun stem uitgebracht tijdens de parlementsverkiezingen.

De partij PDI-P van de razend populaire presidentskandidaat Joko Widodo is volgens de eerste resultaten met ruim 19 procent van de stemmen het grootst geworden.

Toch is die overwinning minder groot dan gedacht. Het was de verwachting dat de PDI-P meer zou profiteren van de populariteit van 'Jokowi', zoals gouverneur van Jakarta Widodo in de volksmond heet.

De regerende Democratische Partij van president Susilo Susilo Bambang Yudhoyono bleef fors achter, met 7,7 procent van de stemmen.

In totaal mochten zo'n 187 miljoen Indonesiërs woensdag hun stem uitbrengen. Ze stemden niet alleen voor het 560 zetels tellende nationale parlement, maar ook voor 19.000 zetels in de regionale parlementen.

Afgelegen Ciseel (Indonesië) stemt tegen corruptie
Ook in het afgelegen dorp Ciseel werd gestemd. Het smalle, modderige bergpad voert langs diepe ravijnen, over steile heuvels en bruggetjes die op instorten staan. Het is de enige weg naar het dorpje Ciseel dat op twee uur lopen in de bergen van de West-Javaanse provincie Banten ligt verstopt. Vreemdelingen komen niet in dit geïsoleerde dorp. Behalve tijdens verkiezingstijd zien de bewoners tot grote hilariteit de zwetende en puffende partijkandidaten hun dorpje binnenstrompelen met partijvlaggen, stickers en T-shirtjes.

Voor het dorpshoofd is er een speciale hadiah, een zakje met geld. Nadat hij zijn duiten had geteld, drong hij jarenlang het hele dorp zijn stemadvies op.

Max Havelaar
Maar vandaag voor het eerst in de geschiedenis luisteren de inwoners niet meer naar hem. De nieuwe docent Ubai Muchtar (33) van het dorpsschooltje heeft de inwoners de ethische kant van politiek uitgelegd. Als lesmateriaal gebruikt deze voormalige student Max Havelaar van Multatuli. Het pseudoniem van de koloniale ambtenaar Eduard Douwes Dekker die 150 jaar geleden de strijd aanbond tegen de corruptie in dit gebied. Ubai heeft de dorpsbewoners uitgelegd dat je stemt op de kandidaat, die je volgens Max Havelaar zal beschermen tegen de hebzucht van de regenten.

De grootste verliezer in Ciseel is nu al de corrupte gouverneur Ratu Koningin Atut van de Golkar partij, de politieke machine van president Soeharto, die met haar familie de budgetten van onderwijs en gezondheidszorg in de provincie Banten leegroofden. In Ciseel moeten zwangere vrouwen en zieke kinderen net zoals tijdens de koloniale periode nog steeds met draagdoeken over het glibberige bergpad gedragen worden.

Het dorp stemt op de populaire gouverneur Joko Widodo van Jakarta. Een man die zich vooral bekommert om de armen in de samenleving.

"Max Havelaar zou ook terecht hebben geconcludeerd dat deze Jokowi de vaderlijke zorg van de bevolking als zijn eerste plicht ziet", aldus Ubai.

Gematigd moslimland
Indonesië is een gematigd moslimland en dat zal altijd zo blijven, stelt islamoloog Abdil Mughis Mudhoffir. De Indonesiërs gaan woensdag naar de stembus.

Sinds de onafhankelijkheid onderdrukten de presidenten Soekarno en Soeharto iedere radicale moslimgroepering waardoor ze tijdens de verkiezingen nauwelijks stemmen kregen.

Islamitische partijen
Nu die vrijheid wel bestaat, doen de islamitische partijen het niet veel beter. De grootste overwinning behaalde de PKS in 2004 met ruim 8 procent. Maar toen kochten de hardliners de arme kiezers met olie, rijst en geld in de sloppenwijken.

Bij de komende verkiezing is de verwachting dat de partij onder de 5 procent schiet, vooral door corruptieschandalen waarbij de PKS is betrokken. De partij verloor iedere geloofwaardigheid na de seksuele escapades van de leiders met fotomodellen en prostituees.

Cultuur
"In Indonesië wordt de islam niet zoals in het Midden-Oosten zuiver als een religie beschouwd. Het is onze cultuur, die waarden en normen voorschrijft", aldus Mughis Mudhoffir.

Voor de grootste moslimorganisatie, de Nadhlatul Ulama met 30 miljoen leden, is bijvoorbeeld het faciliteren van onderwijs en gezondheidszorg belangrijker dan de strijd voor een islamitische staat.

Menyusuri Jejak Multatuli



Kamis, 26 Juni 2014 Penulis: MI/Hera Khaerani
Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/1694/Menyusuri-Jejak-Multatuli/2014/06/26
 
SENYUM semringah terpancar dari wajah Irman sambil menunjukkan komik kesukaannya di Taman Baca Multatuli berjudul Sylphid. "Aku suka karena di situ ada soal pacuan kuda, seru banget," jelasnya semangat. Padahal, di Kampung Ciseel, hanya ada kerbau, tanpa ada kuda. Alhasil, bocah 13 tahun itu tidak tahu persis seperti apa yang dimaksud dengan pacuan kuda. Namun, melalui buku sesederhana komik, dia menemukan soal pacuan kuda. Hal yang sama dirasakan Nurdiyanta. "Saya suka sejarah, senang saat bisa tahu sejarah di tempat-tempat lain yang tidak pernah saya tahu atau datangi," ujarnya yang tidak pernah pergi jauh dari kampungnya selain ke Rangkasbitung.

Kala menyusuri jejak Multatuli dalam Ciseel Day, Minggu (8/6), Ubai mengajak anak-anak didiknya berjalan kaki di Rangkasbitung. Dia menunjukkan berbagai tempat yang terkait sosok idola mereka, Multatuli. Banyak pasang mata memandang heran saat Ubai menjelaskan kepada anak-anak itu soal apa-apa yang terlihat di jalan. Ia menjelaskan fungsi penjara di Jalan Multatuli dan sejarah yang disimpannya. Hal yang sama juga dilakukan ketika mereka melihat mobil pemadam kebakaran, kantor polisi, dan lainnya. "Ini Pasar Rangkasbitung ya, anak-anak," terangnya saat memasuki kawasan pasar. Menurutnya, warga Ciseel memang jarang sekali meninggalkan kampung lantaran sulitnya akses. "Jangankan untuk ke Rangkasbitung, biasanya ke Pasar Ciminyak pun hanya setahun sekali saat Lebaran. Turun ke Ciminyak, merasakan dingin AC di minimarket, lalu beli minuman bersoda saat Lebaran itu sudah kemewahan," jelas Ubai kepada Media Indonesia.

Buku
Begitulah, membaca buku mengenalkan Irman dan kawan-kawannya kepada kehidupan yang tidak pernah mereka tahu sebelumnya. Dunia jadi terbentang luas dan bermain-main di kepala mereka. Sungguh, anak-anak itu telah memerdekakan diri dari `penjara' sulitnya akses keluar-masuk kampung mereka. Semua berkat buku yang mereka baca. `Para pemimpin Lebak, kita telah banyak melakukan kesalahan, dan tanah kita miskin, karena kita telah melakukan banyak kesalahan. Para pemimpin Lebak, kita semua ingin menjalankan kewajiban kita! Namun seandainya ada di antara kita yang melalaikan tugas demi memperoleh keuntungan, menjual keadilan demi uang, atau yang mengambil kerbau dari orang miskin dan buah-buahan milik mereka yang kelaparan, siapa yang seharusnya menghukum mereka?' Kutipan kata-kata Multatuli tersebut harusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah. Bagaimana mungkin 154 tahun sejak Eduard Douwes Dekker menuliskan soal kemiskinan dan keterpurukan masyarakat di Lebak, hingga kini masih ditemukan persoalan yang sama?

Max Havelaar dan Cermin Tujuh Sisi


"Kita bersuka cita bukan karena memotong padi;
Kita bersuka cita karena kita memotong padi yang kita tanam sendiri."

Dua kalimat dalam potongan pidato seorang mantan Asisten Lebak, Banten, menjadi salah satu jenis mantra yang berhasil menyihir sebuah zaman. Satu dari sekian banyak tipologi manusia yang hidup pada abad 19, sekaligus menjadi ciri khas dalam warna sejarah kekuasaan Belanda di tanah Nusantara. Seorang pria yang berdiri bukan hanya bertumpu pada bara idealisme, tapi juga beralaskan rasa kemanusiaan yang begitu dalam.

Dibandingkan nobel, pria itu mendapatkan lebih dari sebuah penghargaan. Keluasan berpikir, ketajaman nurani, hidup, dan tumbuh dengan kebebasan penuh, nyatanya berhasil menguar sampai saat ini. Sampai banyak orang di kemudian hari menjadikan apa yang ia lakukan sebagai bentuk pembebasan itu sendiri. Kebebasan untuk menggagas, kebebasan untuk berkehendak merdeka.

Begitu menarik ketika kita berani menguak setiap sisi dalam buku ini. Mulai dari bentang sejarah hingga sajian sastra yang mau tidak mau, suka tidak suka, ternyata punya pengaruh besar terhadap khazanah kesusastraan Indonesia. Sastra dan sejarah, keduanya saling berkelindan, dan tentu saja, bukanlah stuiversroman seperti yang dilontarkan Roolvink. Karena Max Havelaar lahir dari napas kebenaran dan keberanian. Ya! Berani! Maka untuk membaca dan mengisahkannya kembali, Anda hanya butuh satu modal. Satu saja, dan itu amat sederhana; berani berbuat benar dengan tindakan tepat.

Sisi Pertama: Perseptif Realisme
Saya tidak akan banyak membahas isi bukunya (kisah di dalamnya), ataupun profil asli penulisnya, karena akan lebih asyik jika Anda membaca langsung dan bisa merasakan sendiri bagaimana ketidakteraturan seorang Multatuli menuliskan kisah demi kisah dengan sudut pandang yang cukup membingungkan.

Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker) pun mengakui sendiri bahwa ia tak pandai menulis. Tapi nyatanya, hasil tulisannya memberi kesan baru dalam kesusastraan di Belanda. Padahal, sebelum Multatuli muncul dengan Max Havelaarnya, tulisan-tulisan yang beredar dan membudaya di negeri kincir angin itu didominasi oleh sastra klasik, bersumber dari alkitab (kitab keagamaan). Tentu, bisa dibayangkan bahasa yang ada pada saat itu tak mudah dipahami masyarakat secara luas, atau dengan kata lain, terlalu ekslusif dan terkesan “mahal”.

Hingga Multatuli mendobrak zaman dengan Max Havelaar yang disajikan secara merakyat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian, percakapan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer (Pram) ternyata memiliki latar sejarah sastra yang tak bisa lepas dari jejak Multatuli. Model penyajian kisah kehidupan pada masa, situasi, dan kondisi yang tak jauh berbeda dari zaman Multatuli, mudah ditemukan dalam Tetralogi Pulau Buru. Dan empat buku tebal itu sukses melambungkan nama Pram di kancah internasional.

Apa yang kemudian membuat karya Multatuli melambung tinggi, hingga Pram berani berkata bahwa Max Havelaar adalah kisah yang membunuh kolonialisme, adalah tentang apa yang saya katakan di awal tadi. Keberanian.

Laiknya Snowden, Multatuli telah membongkar skandal yang belum diketahui orang-orang. Meskipun saya rasa, ada beberapa hal yang berbeda jauh dari keduanya, Snowden dan Multatuli. Terlepas dari motif, konspirasi, atau alasan apapun yang selama ini simpang siur meramaikan opini masyarakat. Mengapa pada akhirnya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker mengasingkan diri ke Jerman hingga akhir hayatnya, sedangkan Snowden, bukannya mengasingkan diri, tapi santai berpelesir ke tempat rekreasi dengan mudah setelah membongkar permainan busuk para penguasa. Setidaknya, mereka berupaya untuk menembus kenyataan yang tak tampak di permukaan.

Multatuli menuliskan novel berjudul Max Havelaar, diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi pada dirinya sendiri selama 15 tahun tinggal di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda. Novel Max Havelaar merupakan tulisan pertama yang membeberkan kepada dunia mengenai penindasan kolonialisme di Hindia Belanda.

Sisi Kedua: Konsepsi Sastra dan Posisi Pengarang
Pada dasarnya, karya sastra “tidak berbeda” dengan karya sejarah, filsafat, atau sosiologi. Kesemuanya mengangkat bahan yang sama; masalah manusia dan kemanusiaan. Yang membedakannya adalah bagaimana bahan yang sama itu diolah, disajikan, dan diberi penekanan lewat sudut pandang masing-masing. Sejarah, misalnya, mencoba merekonstruksi peristiwa manusia dan kemanusiaan yang terjadi pada masa lalu. Filsafat mencoba mengangkat hakikat keberadaan manusia lewat uraian-uraian rasional, logis, dan sistematik. Adapun sosiologi, mencoba mengangkat keberadaan individu dalam kaitannya dengan individu lain dan lingkungan masyarakat dan kebudayaannya.

Lalu, bagaimanakah dengan karya sastra?
Dalam hal inilah uniknya kedudukan karya sastra. Ia dapat memanfaatkan fakta historis, pemikiran filosofis, atau fakta sosiologis. Malah, ia juga dapat menggabungkan ketiganya sekaligus. Saya berani berkata bahwa Multatuli tidak hendak menulis dengan pilihan-pilihan bahasa maupun teknik menulis yang menyajikan keindahan estetik, sebagaimana karya sastra pada umumnya. Ia hanya menulis. Tahu dan melihat langsung kebusukan yang ditemukan, kemudian menjerit melalui tinta dan kertas-kertas.

Recreatio!
Penciptaan kembali suatu peristiwa dalam kehidupan, menjadi sesuatu yang punya makna bagi kehidupan manusia. Karya sastra yang lahir dari tangan Multatuli mungkin juga sebagai tanggapan atas kondisi sosial kultural yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai tanggapan, niscaya ada kehendak untuk menyampaikan sesuatu atau menawarkan pesan tertentu. Di sinilah seorang sastrawan (karena kemudian Mulatuli dianggap telah menjadi pendobrak bagi lahirnya sebuah kebaruan dalam khazanah sastra dunia, maka menjadi boleh ia disebut sebagai sastrawan) sering memainkan peran sosialnya.

Sisi Ketiga: Licentia Poetica (Kebebasan Berkreasi)
Kebebasan berkreasi dimanfaatkan para pengarang untuk menghasilkan berbagai kebaruan. Lewat kebebasan itulah, Multatuli merasa dapat “bebas sebebas-bebasnya” untuk mengungkap apa saja yang terlintas dalam perasaan dan pikirannya. Meskipun setelah itu ia dicekal oleh pemerintah Belanda karena pengaruh hebat yang ditimbulkan dari tulisannya.

Pertama, Multatuli adalah anggota masyarakat, lahir dan besar dalam satu lingkungan masyarakat tertentu, dengan kaidah, norma, hukum, dan undang-undang yang tak bisa lepas begitu saja. Dalam kaitan dengan hal itu, kebebasan berkreasi seorang sastrawan seyogianya diungkapkan lewat simbolisasi-simbolisasi terselubung yang maknanya dapat ditafsirkan secara khas, sekaligus universal.

Ada hal-hal dalam sikap Multatuli yang kemudian tak sedikit menuai kritik. Misalnya, ia hanya mampu menelanjangi bagaimana rupa orang Jawa –yang dalam konteks ini bukan mengarah pada suku Jawa, tapi yang dimaksud adalah orang Hindia-Belanda secara keseluruhan atau Indonesia– ketika itu saat menghadapi kemelut penjajahan, tanpa pernah turun langsung, tanpa pernah berbuat, tak ada kontribusi apapun kepada yang terjajah di sekelilingnya.

Kedua, selain sebagai anggota masyarakat, Multatuli juga warga negara yang berada di bawah kekuasaan politik pemerintah. Sebagai warga negara, ada ketentuan politik tertentu yang hendak dijalankan pemerintah. Jika ada karya sastra yang bertentangan dengan politik yang hendak dijalankan pemerintah itu, maka jangan heran jika kemudian muncul pelarangan atas karya yang bersangkutan.

Ada yang dijunjung tinggi: kebenaran, kejujuran, moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Melalui tulisan, sesungguhnya penulis hendak mengajak masyarakat guna meningkatkan nilai-nilai moralitas, memperhalus etika agar lebih berbudi luhur, dan mendorong peningkatan peradaban manusia. Menurut hemat saya, Multatuli hanya ingin jujur dengan apa yang dilihatnya. Tak ada sudut pandang sastra yang ia lihat. Jika kemudian karyanya meledak hingga ubun-ubun kesusastraan, maka itu tak lebih dari timing yang tepat. Menurut saya lho ya.. :D

Sisi Keempat: antara Saya dan Aku, Korupsi dan Penipuan
Max Havelaar dalam beberapa cetakan dari beberapa penerbit, dengan beberapa penerjemah seperti H.B. Jassin, Rosihan Anwar, dan terakhir, Ingrid Dwijani, penerbit Qanita – Mizan yang mendominasi rak-rak di toko buku, telah menciptakan pengertian baru. Contohnya sederhana, seperti penggunaan kata “Anda” yang diciptakan Rosihan Anwar. Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin yang diterbitkan Djambatan sebanyak sembilan edisi menggunakan kedua kata ganti tersebut secara tepat. Untuk menunjukkan suasana masa lampau, H.B. Jassin menggunakan kata ganti “Saya”. Sementara ketika Multatuli yang bercerita atau di dalam puisi sebagai pernyataan diri, maka yang digunakan adalah “Aku”. Ia juga memilih kata “Anda”, bukan “Kau” atau “Kamu”.

Sedangkan pada penerbit Narasi (2008) dan Qanita (2014) posisi “Saya” dan “Aku” dipulul rata. Contoh:
1. Narasi (2008)
Saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, saya, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”
2. Qanita (2014)
Aku adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, aku, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”

Selain itu, diksi “korupsi” yang muncul pada terjemahan Andi Tenri Wahyuni, penerbit Narasi (2008) jauh berbeda dari terjemahan H.B. Jassin, penerbit Djambatan dan Ingrid Dwijani, penerbit Qanita (2014). 
Contoh:
1. Djambatan (1972-2005)
“… dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat.”
2. Qanita (2014)
“… dan, akhirnya, aku tahu bahwa untuk mengakhiri semua penipuan ini, aku tidak bisa lagi menjadi pejabat.”
3. Narasi (2008)
“Dan, akhirnya, saya sadar bahwa saya harus berhenti jadi pejabat jika saya ingin mengakhiri semua korupsi ini.”

Lebih tepat dan tajam jika menggunakan pilihan ketiga, yaitu kata korupsi. Pada terjemahan pertama dan kedua dimaksudkan untuk memperhalus kata tersebut. Padahal, dalam terjemahan bahasa Inggris, yang digunakan adalah kata korupsi.

“And, finally, I realize that I must not be an official if i’m to put an end to all this corruption.” (Penguin Classics, 1987)

Pemilihan kata korupsi menjadi demikian tepat bila kita lihat carut marut Tanah Air Indonesia Raya. Setuju? :)

Pembedaan itu hanya dimaksudkan agar pembaca dapat mudah larut dalam peristiwa pada tahun-tahun penjajahan. Karena kata “Saya” dan “Aku” menunjukkan ruang, menampakkan keakraban atau keintiman yang berbeda. Jelas sekali bahwa bahasa Indonesia begitu kaya kosa kata dan pengertian-pengertian yang berbeda sesuai konteks peristiwa dan alur cerita. Telepas dari upaya agar hasil terjemahan tidak berbeda jauh dari naskah aslinya yang berbahasa Belanda, karena pasti ada beberapa nuansa klasik yang hilang ketika selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kesungguhan penerjemah dan penerbit untuk kembali memunculkan Max Havelaar ke permukaan, patut diapresiasi.

Selain bahasa, soal sudut pandang yang cukup kacau, melompat-lompat, sempat membuat geger teori teknik penulisan yang selama ini ada. Lagi-lagi saya juga cukup mengatakan bahwa Multatuli melahirkan tulisan pada waktu yang tepat. Sehingga semua teori seolah mati karena kebenaran dan nilai kemanusiaan yang ia bawa. Sorry to say… :D Dan tentulah 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk membentuk pola pikir, yang kemudian memberikan nyawa pada tulisannya.

Sisi Kelima: Sejarah dan Budaya
Ada satu pernyataan dari Sejarawan UI yang saya bubuhi garis bawah dan tanda seru: Indonesia bisa dipahami sebagai entitas solid karena karya sastra. Sekarang, budaya membaca sinopsis sebuah buku sudah cukup mewakili proses membaca keseluruhan isi buku. Lalu dengan bebas kita bicara bahwa kita tahu buku itu. Tahu semuanya. Padahal, hanya sinopsis yang dibaca. Dan ini budaya yang cacat. Karya sastra yang seharusnya menjadi tradisi intelektual, pada akhirnya terseok-seok, sampai pincang akibat dilibas dengan kultur instan.

Padahal, jika sebentar saja kita mau sabar terhadap proses membaca itu sendiri, khususnya tulisan Max Havelaar –yang saya kira cukup membingungkan untuk dibaca oleh anak muda era korea– maka kita akan menemukan satu kerangka berpikir seorang tokoh bernama Max Havelaar, yang tak lain dan tak bukan adalah sang penulis itu sendiri: Multatuli atau Eduard Douwes Dekker. Sampai pemerintah Belanda berpikir untuk segera menyelesaikan semuanya. Menyudahi kekuasaannya yang sudah bercokol lama di Hindia Belanda. Menginginkan permainan yang lebih fair.

Subagio Sastrowardoyo (1983) dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita, menuliskan bahwa ia telah tersentuh oleh tenaga cipta yang hebat dan kekal dari lingkungan luas, hutan-hutan lebat, dan rakyat yang terjajah. Multatuli tumbuh di tengah gejolak sosial, politik, dan pemerintahan yang pada akhirnya membentuk kepribadiannya. Tanah Nusantara dengan segala problematika yang menggugah dan menginspirasi.

Dampak yang muncul terhadap orang Indonesia, mungkin tak banyak. Bisa dibilang sangat kecil. Apalagi buku Max Havelaar baru diterjemahkan pada tahun 1972, sedangkan Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Tapi ternyata, pengarang eropa lah yang merasakan efek awalnya. Karya-karya yang didominasi bahasa “eksklusif” bersumber dari alkitab, kemudian seperti mulai menemukan udara segar untuk mudah diterima dan semakin dekat dengan berbagai golongan masyarakat. Bentuk yang memungkinkan kritik secara terbuka adalah novel. Potret sosial yang dikemas dalam bentuk cerita fiksi. Dan fiksi, bukan berarti menipu.

Mendorong pula lahirnya cerbing atau cerita berbingkai. Menurut Sastrowardojo, Max Havelaar mengandung tiga buah cerita pokok. Pertama, pengalaman Havelaar menjadi asisten residen Lebak. Kedua, pedagang kopi Droogstoppel yang tinggal di Amsterdam. Ketiga, kisah Saijah dan Adinda di desa Badur. Inilah salah satu usaha untuk memperbaharui bentuk sastra lama dengan teknik yang lebih modern.

Sisi Keenam: Merayakan Max Havelaar
Ini gila! Saya sungguh terkagum-kagum dengan seseorang yang duduk di depan, paling kiri dari foto ini, menggunakan pakaian berwarna hijau.

C360_2014-10-21-10-13-32-673

Beliau adalah Ubaidilah Muchtar, pemandu reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten. Tepatnya di kampung Ciseel yang waktu tempuhnya panjang sekali, dengan medan yang sangat sulit. Jembatan putus yang dilalui anak-anak yang akan berangkat sekolah, yang mungkin selama ini Anda simak di televisi. Jalur curam, kanan-kiri jurang, topografi berbukit-bukit, fasilitas yang tak mudah diperoleh, betul-betul jauh dari peradaban.

Dan beliau yang biasa dipanggil Kang Ubay, menempuh jarak Depok – Banten, hanya untuk menghidupkan tradisi intelektual yang mulai terkikis, di Taman Baca Multatuli. Max Havelaar adalah bacaan wajib bagi anak-anak di kampung Ciseel! Dahsyat!

Saya sempat berlinang mendengar penuturan beliau. Membaca novel Max Havelaar 142 kali, dan ia tak membacanya seorang diri. Melainkan bersama dengan anak-anak kampung yang duduk di Sekolah Dasar. Yang membuat saya terhenyak, adalah kondisi kampung tempat Kang Ubay mengajar di Taman Baca Multatuli. Kampung yang baru dua tahun terakhir ini dialiri listrik, tapi sudah sejak lama anak-anaknya gemar membaca Max Havelaar. Sungguh, bahkan saya sendiri mudah terserang kantuk dan bosan ketika membaca Havelaar. Cukup sulit mencerna beberapa maksud dari kalimat di dalam novel tersebut. Malu juga, ternyata saya dikalahkan oleh anak SD. Telak.

Selain Kang Ubay sudah membacanya sebanyak 142 kali, beliau juga punya sembilan cetakan Max Havelaar, kecuali cetakan ke-4. Itu artinya mulai cetakan penerbit Djambatan (H.B. Jassin) sampai Qanita (Ingrid Dwijani) beliau punya semua. Wow! Addict banget ya

Allah.. bahkan saya menangis ketika menulis ini.
Kang Ubay berucap lantang, bahwa anak-anak yang telah membaca Max Havelaar, bukan hanya menjadi seorang anak yang berpengetahuan luas akan sejarah tempat tinggalnya di Lebak, Banten. Tapi mereka terlahir kembali dengan semangat belajar dan impian yang melangit.

Maka, demi memaknai tulisan bernas dalam novel tersebut, setiap tahun, sekitar bulan Mei, mereka merayakan Max Havelaar. Membuat pertunjukan drama dengan properti asli, seperti kerbau, pakaian penduduk desa di Banten, dll. Tentu, properti itu mudah diperoleh di kampung pedalaman seperti di Ciseel. Saya akan menyusun rencana untuk bisa menyaksikan perayaan itu langsung. Apalagi kalau sudah sampai pada kisah Saijah Adinda :P

Seperti satu rahasia ini. Tokoh dalam sampul novel Max Havelaar terbitan Qanita, ternyata adalah dua anak didik Kang Ubay yang dulu tengah memainkan drama Max Havelaar. Model perempuan di sampul bernama Suryati, sekarang SMP di Jakarta. Dan yang laki-laki, saya lupa namanya siapa. :D

maxhavelaar-53ed6b1c40fbf
*Yah, kebongkar deh misteri sampul Max Havelaar, haha*

Sisi Ketujuh: Max Havelaar dan Konteks Kekinian
Saya pikir kebiasaan baik anak-anak di Taman Baca Multatuli, kampung Ciseel, mampu menjawab semua pertanyaan tentang apa yang bisa Anda, saya, dan kita semua dapatkan dari sebuah buku berjudul Max Havelaar, dalam situasi dan kondisi yang sudah nyaman seperti sekarang ini. Mereka sudah menjawab tantangan zaman secara sederhana; membangun kembali tradisi membaca, budaya bercerita (berdiskusi dan mendongeng), menulis kembali apa yang sudah dibaca, dan memerankan tokoh dari cerita dalam buku (bermain drama)! :D

Model yang sederhana, tapi jelas sangat sulit menerapkan proses reading group sebagai tahap awal untuk memahamkan isi Max Havelaar yang njlimet kepada anak-anak SD. Bagaimana kemudian anak-anak pedalaman Lebak itu bisa tumbuh dengan rasa bangga terhadap Bangsanya, melangitkan impian dengan lantang bahwa kelak mereka akan memimpin Negeri dengan kejujuran dan dedikasi terbaik.

unnamed1

by. Hatma Hanis
Ya! Anak-anak! :’)
semoga Allah membalas semua kebaikan Kang Ubay,
dan kelak, anak-anak Lebak bisa tumbuh dengan pemahaman baik
Bogor; Jumat, 24 Oktober 2014
08:33 WIB
Sumber: http://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/10/24/max-havelaar-dan-cermin-tujuh-sisi/

Top