Breaking News
Loading...

Terkini

Thursday, November 13, 2014
no image

142 Kali Membaca Max Havelaar


Oleh: Ubaidilah Muchtar

Sampai sekarang Max Havelaar dibaca yang ketiga kali sejak 23 Maret 2010. Selama 4 tahun 7 bulan membaca Max Havelaar dalam bentuk reading group. Pembacaan yang pertama tepat selama 11 bulan (23 Maret 2010-21 Februari 2011). Pembacaan yang kedua selama 2 tahun 3 bulan (30 Mei 2011-21 Agustus 2013). Pembacaan yang ketiga (11 September 2013-sekarang).

Pembacaan Max Havelaar yang pertama tamat setelah 37 pertemuan. Pembacaan yang kedua tamat setelah 78 pertemuan. Pembacaan yang ketiga sudah memasuki pertemuan yang ke-27. Novel Max Havelaar dibaca setiap Selasa atau Rabu dalam group selama 1,5-2 jam sekali dalam seminggu. Selain Max Havelaar ada juga pembacaan novelet Saija (Bahasa Sunda) setiap Kamis sore. Pembacaan Saija (Bahasa Sunda) sejak 22 Februari 2011 hingga sekarang sudah tamat 4 kali.

Pembacaan Max Havelaar sejak pertama 23 Maret 2010 hingga 14 Agustus 2014 lalu sebanyak 142 kali pertemuan. Pembacaan superlelet ini diikuti peserta dengan ragam usia yang berbeda. Dari anak-anak yang belum dapat membaca hingga dewasa.

Rata-rata peserta yang hadir di setiap pembacaan beragam. Pembacaan Max Havelaar yang pertama dimulai dengan peserta 17 orang pada pertemuan pertama dan 32 orang di pertemuan terakhir (Pertemuan ke-37). Rata-rata peserta pada pembacaan pertama 19 orang. Pertemuan dengan peserta paling banyak terjadi pada pertemuan ke-37 dengan peserta 32 orang. Sementara pertemuan ke-10 dan 12 tercatat sebagai pertemuan peserta paling sedikit yaitu 7 orang.

Pembacaan Max Havelaar yang kedua diikuti rata-rata peserta 21 orang. Pertemuan dengan peserta paling banyak terjadi pada pertemuan ke-74 dengan peserta 42 orang. Sedangkan pertemuan dengan peserta 4 orang terjadi pada pertemuan ke-42. Pertemuan pertama pembacaan kedua diikuti 21 orang dan pada pertemuan terakhir (ke-78) ada 20 orang yang hadir.

Pada pembacaan yang ketiga Max Havelaar (hingga pertemuan ke-27), rata-rata peserta 18 orang. Pertemuan dengan jumlah peserta terbanyak terjadi di pertemuan ke-1 (35 orang). Sementara pertemuan dengan peserta paling sedikit terjadi di pertemuan ke-19 (7 orang).

Pembacaan kali kedua Max Havelaar tamat lebih lama karena jumlah peserta berusia muda lebih banyak. Hal tersebut menyebabkan banyak kosa kata dan kalimat yang membutuhkan penjelasan lebih dalam. Berbeda saat pembacaan pertama Max Havelaar yang sebagian besar pesertanya adalah anak-anak usia SMP dan SMA. Selain tingkat penguasaan kosa kata dan kalimat juga konsentrasi peserta yang harus terus dijaga. Selain itu pada pertemuan kedua, jumlah peserta yang semakin banyak dengan ruangan yang lebih luas. Sehingga memungkinkan banyak peserta muda yang terus bergerak. Maka selain bertugas memandu pembacaan Max Havelaar, pemandu juga terkadang harus mengkondisikan peserta muda.

Pembacaan Max Havelaar setiap Selasa atau Rabu sore selama 1,5-2 jam sekali dalam seminggu hanya membaca 3-5 halaman. Novel Max Havelaar dengan jumlah halaman 396 yang kami baca merupakan terbitan Narasi Jogja tahun 2008.

Ritual khatam Max Havelaar juga ditandai dengan makan-makan. Peserta makan bersama nasi liwet dengan lauk dan lalapan beralas daun pisang. Peserta perempuan mempersiapkan makan dengan memasak sendiri. Sementara peserta laki-laki menyiapkan daun pisang dan mengumpulkan kayu bakar. Taman Baca Multatuli memang tidak mendapatkan bantuan finansial dari siapa-siapa, maka kegiatan seperti makan-makan ini dilakukan dengan urunan.

Sebagai penanda lain, ditayangkan film Max Havelaar atau film dokumenter tentang Multatuli di saat khataman membaca Max Havelaar. Kegiatan ini untuk menambah pemahaman peserta. Menonton film Max Havelaar di akhir pembacaan dimaksudkan peserta tidak kecewa. Jadi khatamkan dulu pembacaannya baru menonton filmnya. Itu di saat khatam Max Havelaar.

Pada saat pembacaan berlangsung, peserta juga disuguhkan beberapa benda/alat peraga penunjang teks. Berbagai jenis caping, ikat kepala (rombal/romal), lesung, alu, poster, kayu manis, memo, dan gambar-gambar lainnya. Benda-benda yang dimaksud yaitu sebagian kecil dari yang terdapat dalam novel Max Havelaar. Penghadiran benda-benda tersebut untuk menguatkan pemahaman teks kepada peserta.
Selama pembacaan Max Havelaar berlangsung, beredar buku folio bergaris berisi kesan dan pesan setiap peserta. Peserta menuliskan nama, pesan, dan kesan mengikuti reading group Max Havelaar di buku tersebut. Buku tersebut kini berjumlah tiga buah. Berisi setidaknya 2.764 kesan atau kesan peserta. Tidak semuanya menuliskan kesan atau pesan, tentu. Ada pula peserta yang menuliskan kritik dan otokritik. Buku merah, demikian kami menyebut buku kesan dan pesan peserta reading group Max Havelaar tersebut.

Kesan dan Pesan (1)
Di pertemuan pertama, pembacaan pertama Max Havelaar 23 Maret 2010 tidak ada satu pun yang menggunakan istilah reading group. Tentu, belum melekat di telinga anak-anak. Atau mungkin istilahnya yang belum disampaikan. Semua anak-anak dalam kesan dan pesan di buku merah menulis dengan ungkapan, membaca. Perhatikan tulisan kesan dan pesan mereka.

Rohanah menulis, “Rajin-rajin belajar membaca!”. “Teman-teman, ayo, kita membaca buku cerita,” tulis Anisah. Sementara Siti Nurhalimah menulis, “Baca Multatuli, yuk!” Pendi mengingatkan temannya agar jangan bercanda, “teman-teman jangan bercanda, dong!”. Lain lagi Pepen dan Coni, mereka mengingatkan agar menjaga buku. Siti Alfiah, Pipih, dan Sumi hampir senada mengajak untuk membaca, “Teman-teman, jangan lupa membaca di Taman Baca Multatuli!”

Istilah reading group baru muncul pertama kali di pertemuan ketiga, Selasa, 6 April 2010. Aliyudin menulis, “Teman-teman jangan lupa ya kalau hari Selasa ke Taman Baca Multatuli ikutan reading Grofs.” Reading Grofs yang dimaksud tentunya, reading group. Sementara judul novel mulai terlihat di pertemuan keempat. Dedi Kala yang pertema kali menulis Max Havelaar. Dedi Kala menulis Max Havelaar dengan kurang ‘a’ di kata Havelaar. Berikut kesan dan pesan yang ditulis Dedi Kala, “Teman-teman jangan lupa baca buku Max Havelar. Dan baca bukunya jangan sambil ribut karena kalaw baca buku cerita dengan ribut nanti tida nyaman tau.”

Melaju ke pertemuan kedua. Pertemuan kedua pembacaan pertama dilaksanakan hari Selasa, 30 Maret 2010 dengan 10 peserta. Di buku catatan kesan dan pesan mengikuti reading group terdapat nama-nama: Anisah, Maman, Dedi Kala, Siti Alfiah, Siti Nurajijah, Mariah, Sumi, Pipih Suyati, Adien, dan DH. Rahman. Selanjutnya pertemuan ketiga hari Selasa, 6 April 2010 dengan 8 peserta. Pertemuan keempat, 12 April 2010 dengan 11 peserta. Hingga ke pertemuan ke-37.

Pertemuan ke-37 adalah pertemuan terakhir pembacaan pertama. Di buku catatan kesan dan pesan reading group tertulis: Senin, 21 Februari 2011. Tercatat ada 32 peserta yang mengisi buku merah ini. Ketiga puluh dua anak yang mengisi di buku merah, yaitu: Elis, Rukanah, Sadah Padilah, Ucu Suhernah, Mariam, Herti, Oom, Suryati, Suarsih, Suha, Dedi Kala, Herman, Irman, Tomi, Yani, Dede, Ano, Sujatna, Unang, Sumyati, Samnah, Azis, Cecep, Sanadi, Radi, Mariah, Aliyudin, Siti Nurajijah, Pipih Suyati, Nuraenun, Rohanah, dan Nuraeni.

Saya pilihkan tiga kesan dari Pipih Suyati, Aliyudin, dan Nuraenun. Pipih Suyati menulis, “Pada hari Senin tgl 21.02.2011 yaitu terakhir kami reading Multatuli. Selama beberapa bulan kami membaca Multatuli, akhirnya selesai juga pada hari Senin ini.” Sementara Aliyudin menuliskan kesannya seperti ini, “Di akhir cerita Max Havelaar ngomong bahwa Max Havelaar itu adalah Multatuli. Kata Max Havelaar, ‘Ya, saya Multatuli (yang telah banyak menunjukan) mengangkat pena!’. Dan di akhir atau menyelesaikan dan namatkan saya dan teman-teman bersama Pak Ubai di Taman Baca Multatuli kami makan bersama”. Bagaimana kesan Nuraenun. Ini dia kesannya, “Teman-teman, reading Multatuli akhirnya selesai juga ya.”  

Pembacaan kedua Max Havelaar dimulai Selasa, 31 Mei 2011. Pertemuan pertama pembacaan kedua yang mengisi buku merah tercatat ada 21 peserta. Kedua puluh satu peserta tersebut, yaitu Nuraenun, Sujana, Radi, Irman, Oom, Unang, Rukanah, Sadah, Suarsih, Suha, Elah Hayati, Sangsang, Asep, Ano Sumarna, Yani, Sanadi, Sujatna, Mariah, Rohanah, Nurdiyanta, dan Aliyudin.

Yani menulis di buku merah, “Hai teman-teman, hari ini Selasa tanggal 31-05-2011 mulai reading group Max Havelaar. Bagi adik-adik yang belum reading dari bab pertama (1) sekarang sudah dimulai. (Semangat reading group Max Havelaar)”. Kesan yang lain, “Teman-teman mulai hari ini reading group Max Havelaar dimulai lagi. Makanya teman-teman yang belum reading dari awal, ikut reading hari ini, OK…?” tulis Aliyudin.

Pada pertemuan ke-78 (tamat kedua), Rabu, 21 Agustus 2013 yang mengisi buku merah ada 20 peserta. Amsor, Irman, Sujana, Siti Nurasiyah, Saep, Yeni, Mamay, Rini, Samnah, Rita, Pameng, Yani, Resti, Susanti, Sumyati, Idayanti, Iis Dahlia, Sadah Padilah, Rukanah, dan Elis.

Sujana mengabarkan khatam kedua ini dengan menulis, “Teman-teman, hari ini kita namatkan Buku MAX HAVELAAR”. Sementara Rita menulis kesannya, “Riding (maksudnya: Reading) Max Havelaar menyenangkan sekali.”

Kesan dan Pesan (2)
Selain peserta dari anak-anak Kampung Ciseel, Cigaclung, Cikadu, Babakan Aceh, dan Cangkeuteuk yang berada di Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten peserta dari luar Lebak juga pernah ada. Ini sedikit dari mereka yang pernah mengikuti reading group Max Havelaar.

Di pembacaan pertama Max Havelaar ada dua orang peserta dari luar Ciseel yang ikut serta membaca Max Havelaar. Siapa dia. Mereka yaitu Suryo Wibowo dan Pram. Mereka datang di pertemuan ke-12 tanggal 8 Juni 2010. Hari Selasa. Ini kesan mereka, “Teman-teman teruskan membaca Max Havelaar! Teruskan semangat kalian!” dan “Kalian semua: HEBAT!!! Banyak baca & menulis, ya…” Suryo merupakan juru foto dan Pram pewarta. Mereka dari Tempo majalah.

Saat pembacaan Max Havelaar kali kedua berlangsung, pada pertemuan kedua, Selasa, 7 Juni 2011 ada tiga orang ikut serta. Satu dari Jakarta dan pasangan suami istri dari Italia. Mas Wid Widodo  dari DAAI TV yang pertama. Carlo Laurenti serta Maria Eleonora Catureali orang kedua dan ketiga.

Mas Wid Widodo sayangnya tak sempat mengisi buku merah. Sore itu selepas ikut membaca Max Havelaar ia kembali ke Jakarta. Sementara Carlo dan Maria tinggal empat hari di Ciseel. Berikut kesan Carlo di buku merah, ia mencatat.

“A most unespected boomerang of my homage to Multatuli in Italian Cultural Institute last week. Now I understand in a new light the mind of Multatuli! It is home the most hidden place that one can look at Europe with different eyes.”

Carlo Laurenti merupakan penerjemah puisi-puisi Lu Xun (188?/1936). Hampir 15 tahun lamanya ia menggeluti puisi-puisi Lu Xun. Selain menerjemahkan puisi Lu Xun. Carlo juga membuat beberapa film dokumenter tentang China dan sastrawan dunia.
Sementara itu Maria Eleonora menuliskan kesannya di buku merah seperti berikut:

“I have come in a far away village, green hills and mountains and paddy fields. I have been roudied by an unfrebeing recital on “MAX HAVELAAR” by Multatuli. Children, boys and girls listening and participating in a still a now always actual story.”

Di bulan Juli masih di pembacaan kedua, pertemuan keempat, Selasa, 12 Juli 2011 ada tiga kawan dari DAAI TV yang ikut membaca Max Havelaar. Vince Rumintang, Bannu Maulana, dan Prayitno. Mereka membuat liputan untuk program Meniti Harapan: Menyerap Semangat Multatuli. Berikut kesan ketiganya.

“Pertama kali menginjakan kaki di Multatuli cuma kaget, ternyata jaraknya jauh dan susah ditempuh. Hanya untuk melihat taman baca di pemukiman warga. Eh… pas liat anak-anak semangat baca, dan tahu tentang Multatuli seneng banget. Malah malu, karena saya tidak tahu banyak soal Multatuli. Teman-teman di Taman Baca Multatuli terus tingkatkan minat bacanya! I Love U all… mmmuah…”

“Keep your spirit an dedication to increase their knowledge. One day they gonna be better then they are now … and it come from you…”

“Buku Max Havelaar wajib dibaca masyarakat Indonesia karena isinya inspiratif dan bisa membangkitkan nasionalisme yang tinggi. Untuk lebih cinta pada negara dan bangsa Indonesia.”

Masih di Juli juga hadir Mbak Nima Sirait dan Mas Sapto Agus. Mereka berdua juga dari DAAI TV. Mereka sedang membuat film dokumenter Rumah Multatuli untuk program Refleksi. Mbak Nima menulis di buku merah.

“Teman-teman Taman Baca Multatuli, kalian sangat beruntung sudah mengenal, membaca, dan mendalami karya sastra sekelas Multatuli di usia yang sangat muda. Manfaatkan fasilitas taman baca ini sebaik-baiknya dengan membaca banyak buku. Buku akan membawa kalian ke tempat mana saja di dunia, menjadikan kalian apa saja yang kalian cita-citakan. Semangat selalu ya…”

Sementara Mas Sapto Agus menulis.

“Sangat mengagumkan melihat semangat kalian. Galilah terus ilmu dari buku yang kalian baca. Kalian boleh berada di tempat yang jauh dan terpencil tapi pikiran kalian akan sanggup keluar dari keterpencilan ini dengan membaca.”
Pertemuan ke-30 pembacaan kedua Max Havelaar juga ada beberapa kawan kru Kick Andy Hope dari Metro TV. Pertemuan ke-30 dilaksanakan pada 10 Maret 2012. Di buku merah terdapat nama-nama: Budiyanto, Sriyanto, Hermawan Prasetyo, Bambang Rakhmanto, Aisy Ilfiyah, Bronto, Kumala Dewi, dan Andika Maryanto. Mereka berkunjung ke Ciseel dari tanggal 9 hingga 12 Maret 2013. Berikut kesan yang terulis di buku merah:

“Melihat anak-anak antusias melakukan RG Max Havelaar di pinggir kali, sangat menyenangkan.”
“Hmmm diajak shooting ke lokasi-lokasi yang mengagumkan + medan yang begitu luar biasa.”
“Hidup sastra and Jas Merah!”
“Saya kalah saing dengan anak-anak Kp. Ciseel, mereka tahu cerita Max Havelaar, saya tidak…”
“Medan RG luar biasa… tapi semangattt….”
“Amazing!”
“Gokillah, pokoknya! Keep reading guys!

Pada pembacaan ketiga kali novel Max Havelaar tepatnya pada Rabu 11 September 2013, di pertemuan pertama itu hadir empat kru dari Bali TV. Salah satunya Mas Juli. Mas Juli dan kawan-kawan sedang membuat dokumenter untuk program Sebuah Pengabdian yang ditayangkan di Bali TV dan Bandung TV. Dokumenter yang mereka buat berjudul; Asa di Kampung Ciseel. Berikut salah satu kesan yang mereka tuliskan di buku merah.

Reading book ‘Max Havelaar’ ini sangat luar biasa dalam arti mampu membantu dan menambah wawasan masyarakat Kampung Ciseel. Dengan kondisi kampung yang terisolir dan kurangnya sarana infrastruktur namun dengan adanya reading book ‘Max Havelaar’ ini setidaknya mampu mengobati hasrat masyarakat khususnya anak-anak dalam hal membaca.”

Pada pertemuan keempat pembacaan ketiga tanggal 7 Oktober 2013 juga datang peserta dari Metro TV mereka sedang membuat liputan untuk program Wideshoot. Selama dua hari mereka mengikuti kegiatan di Taman Baca Multatuli. Saya mohon maaf sebab kesan mereka di buku merah tidak ditemukan. Namun Rukanah—peserta dari Ciseel—sempat menuliskan kesannya seperti berikut.

“Teman-teman hari ini hari Senin. Kita kedatangan tamu 3 orang. Tamu yang gendut itu namanya Kak Ari. Dua temannya lagi aku lupa (Mas Albar dan Pak Malik—penulis). Oh, ya, terima kasih Kak sudah datang ke Taman Baca Multatuli. Kami sangat senang atas kedatangan Kakak ke Ciseel, kampung kami.”

Selasa, 11 Maret 2013 pertemuan ke-18 pembacaan ketiga, ikut membaca Max Havelaar: Wilma van Der Maten. Wilma koresponden dari Radio VPRO NEDERLAND. Sore itu ia duduk bersama membaca Max Havelaar Bab 5. Wilma memberikan kesannya seperti berikut:
“Had a great trip. I will come back. Lebak is so beautiful especially your village. I can imagine your more happy there then in Jakarta. Hope we meet soon again also my best wishes to the Multatuli children. Salam!
           
Pada September 2013 hadir tesis dari Ahmad Subhan yang meneliti aktivitas reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli. Ahmad Subhan merupakan mahasiswa Program Pendidikan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tesisnya berjudul: “Konstruksi Makna Membaca di Taman Baca Multatuli, Kampung Ciseel, Sobang, Lebak, Banten.”

Merayakan Max Havelaar
Setiap tahun, selama 4 tahun ini di sela pembacaan Max Havelaar, perayaan Max Havelaar dilaksanakan. Merayakan lahirnya novel Max Havelaar di sekitar bulan Mei setiap tahunnya. Max Havelaar terbit sebagai buku pada 14 Mei 1860.
Warga Ciseel dan peserta reading group Max Havelaar juga tetamu datang bergembira. Ada drama Saijah Adinda dengan kerbau sungguhan. Ada pencak silat, debus, qasidah. Ada pembacaan puisi Max Havelaar. Ada tarian dan nyanyian. Ada kesenian gondang dan gegendeh (kesenian memukul lesung). Ada jalan-jalan ke perkampungan Badui. Ada menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung.
Peserta kegiatan menuliskan pengalamannya selama mengikuti kegiatan yang diberi nama Ciseel Day. Catatan-catatan tersebut lalu dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku sederhana. Catatan kegiatan Ciseel Day 1 Tahun 2011 terkumpul dalam buku Rumah Multatuli: Kumpulan Catatan 2011Menyusuri Jejak Multatuli. Sementara buku kumpulan catatan kegiatan Ciseel Day Tahun 2012 terkumpul dalam buku Ciseel Day 2. Hingga tahun 2014 kegiatan Ciseel Day sudah yang keempat kali. Catatan tahun ke-3 dan ke-4 kegiatan Ciseel Day 2013 dan 2014 dalam proses pembuatan.
Peringatan hari lahirnya Max Havelaar sebaiknya juga dijadikan tradisi yang akan terus diulang pada setiap tahunnya. Juga di tempat yang lain. Ada orang bertanya: mengapa?
Multatuli dan Max Havelaar penting sebagai pengarang, pengarang besar yang secara kebetulan berkebangsaan Belanda. Negeri kecil tempat ia lahir. 2 Maret 1820 di Amsterdam. Mengapa Multatuli dan Max Havelaar harus diperingati. Mengapa tidak memperingati Liebig, Moliere, Schiller, Goethe, Heine, Lamartine, Thiers, Say, Malthus, Scialoja, Smith, Shakespeare, Byron, Vondel ….
Jawabannya, karena di samping kebesarannya sebagai pengarang, Multatuli besar pula sebagai seorang humanis. Multatuli yang menuntuk keadilan bagi rakyat Indonesia. Dialah orang pertama yang mengatakan, bahwa orang Indonesia pun sama manusianya dengan orang kulit putih, manusia dengan segala sifat-sifat dan konsekuensi-konsekuensinya.

Oleh karena itu, ceritaku hanya ditujukan kepada mereka yang mampu meyakini hal yang sulit bahwa di balik permukaan hitam itu ada jantung yang berdenyut-denyut, dan bahwa orang yang diberkahi warna kulit putih dan peradaban yang mengikutinya—yaitu kemurahan hati, pengetahuan perdagangan, agama, kebajikan, dan lain-lain—bisa menggunakan sifat-sifat orang kulit putih ini dengan lebih baik daripada mereka yang kurang diberkahi dalam hal warna kulit dan kecerdasan mental. (Qanita, 2014, hlm. 353) 

Multatuli yang pertama kali berteriak bahwa “Orang Jawa diperlakukan dengan buruk!”, “Orang Jawa dieksploitasi secara berlebihan!”. Multatuli menuntut hak dan keadilan bagi “orang Jawa” bagi bangsa Indonesia. Bagi bangsa “pribumi”. Multatuli melakukan hal tersebut dengan gagah dan penuh keberanian. Ia mengorbankan kedudukan dan karirnya untuk memasuki kehidupan yang bahkan hingga kematiannya penuh kepahitan, kemelaratan, dan penderitaan.
Multatuli jelas menentang penghisapan dan penindasan. Multatuli menuntut kasih sayang, perikemanusiaan, dan pengertian. Meskipun belum kepada terhapusnya penjajahan. Akan tetapi, Multatuli telah berupaya untuk membuka mata dan pikiran dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia serta memberi inspirasi kepada bangsa Indonesia untuk merdeka.
Kepada Multatuli, bangsa Indonesia berutang budi. Karena itu kalau ada pengarang Belanda yang peling dikenal di Indonesia dialah Multatuli. R.A Kartini mendapat pengaruh Multatuli. Juga para pemimpin lainnya.
Lalu, apakah sebenarnya yang diperjuangkan Multatuli? Apakah yang digugat oleh Multatuli?
Multatuli menggugat tanam paksa yang memberi keuntungan berlimpah kepada kaum penjajah. Ia menggugat liberalisme yang saat itu sedang dipropagandakan. Ia menggugat rodi, menggugat permintaan paksa dan korupsi dengan menggunakan jabatan.

“Max mengetahui adanya banyak sarana untuk mendatangkan roti ke Rangkas Bitung tanpa harus membayar; tapi KERJA TANPA BAYARAN, penyakit kanker Hindia itu sangat mengerikan bagi Havelaar.” (Qanita, 2014, hlm. 292)

Di tempat kemiskinan atau bencana kelaparan menciutkan jumlah penduduk, ini dikatakan sebagai paceklik, kekeringan, hujan, atau sesuatu yang lain, dan TIDAK PERNAH KARENA SALAH PEMERINTAHAN.” (Qanita, 2014, hlm. 301)

“Selisih antara uang yang dikeluarkan dan nilai yang mereka peroleh dengan uang itu DIPENUHI DENGAN KERJA PAKSA.” (Qanita, 2014, hlm. 324) 

Multatuli memiliki arti politik penting ke arah timbulnya perubahan-perubahan cara pemerintahan di Indonesia. Meskipun tentang besar dan seberapa jauh pengaruhnya masih dapat diperdebatkan. Tapi di antara kita, bukankah masih teringat kepada Pidato Havelaar di hadapan para pemimpin Lebak, juga petikan-petikan kisah Saijah dan Adinda. Itulah sedikit di antara yang memengaruhi hati dan pikiran kita. Bukankah kesadaran di hati dan pikiran kita timbul dari Multatuli, dari Max Havelaar?

Tentang Max Havelaar
Mengapa namanya Taman Baca Multatuli? Bagaimana caranya memulai membentuk kelompok baca? Mengapa yang dibacanya novel bukan cerpen? Mengapa membaca novel Max Havelaar? Mengapa proses bacanya pelan-pelan? Ini sedikit dari beberapa pertanyaan yang sering muncul. Tentu saja pertanyaan yang sangat wajar dilontarkan.
            Eduard Douwes Dekker, pengarang Max Havelaar telah tinggal di Indonesia selama lima belas tahun. Kenyataan inilah yang menjadi penting diketahui karena masa yang lama menetap inilah yang memberikan kepadanya pokok bercerita yang menggugah perhatian banyak orang. Selain juga menentukan pertumbuhan dirinya sebagai pengarang yang berarti dalam sejarah sastra. Karena tinggalnya di Indonesialah yang memungkinkan pribadinya beserta bakatnya berkembang seperti tercermin dalam karyanya Max Havelaar.
            Pengalaman hidupnya di negeri jajahan dengan berbagai masalah sosial, politik, dan pemerintahan yang mengharubiru jiwanya, serta tempat tinggal yang jauh dari perkembangan sastra yang sudah konvensional di negeri Belanda, telah memberikan kesempatan kepada dirinya dengan corak keseorangannya. Multatuli telah berhasil dengan Max Havelaarnya, karena seperti dituliskan oleh Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), ia telah “tersentuh oleh tenaga cipta yang hebat dan kekal dari lingkungan luas, hutan-hutan lebat, dan rakyat yang terjajah”.
            Max Havelaar merupakan tulisan pertama yang membeberkan kepada dunia mengenai penindasan kolonialisme di Hindia Belanda. Max Havelaar menginspirasi tokoh-tokoh bangsa untuk mengobarkan semangat kemerdekaan, kebebasan, dan keadilan.
            Di dalam Max Havelaar terdapat nilai-nilai antipenindasan, antikorupsi, kemanusiaan yang tinggi, dan perjuangan terhadap persamaan harkat manusia. Di Max Havelaar diksi “korupsi” tampil di saat Havelaar baru saja menerima surat penolakan dari Gubernur Jenderal. Surat tertanggal 23 Maret 1856. Ketika Havelaar tahu bahwa ia akan dipindahkan ke Ngawi. Havelaar menolak pemindahtugasannya tersebut. Ia tahu di Ngawi bupati bertalian keluarga dengan istana Jogja. Havelaar mengenal Ngawi sebab ia pernah dua tahun di Bagelen. Havelaar merasa percuma ke sana ke mari, bekerja seolah-olah ia berkelakuan buruk.

“…… dan, akhirnya, aku tahu bahwa untuk mengakhiri semua penipuan ini, aku tidak bisa lagi menjadi pejabat.” (Qanita, 2014, hlm. 449)

“……dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat.” (Djambatan, 1972, 1973, 1974, 1977, 1981, 1985, 1991, 2000, 2005, hlm. 337, 337, 241, 241, 219, 337, 337, 337, 337)

            Kata “penipuan” (cetak tebal dari penulis) dapat ditemukan pada Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin (Djambatan) dan Ingrid Dwijani Nimpoeno (Qanita). Sementara pada terjemahan Andi Tenri Wahyuni (Narasi) tertulis.
           
“Dan, akhirnya, saya sadar bahwa saya harus berhenti jadi pejabat jika saya ingin mengakhiri semua korupsi ini.” (Narasi, 2008, hlm. 377)
             
            Saya kira tepat apabila terjemahannya menggunakan kata “korupsi”. Seperti juga tertulis dalam terjemahan bahasa Inggris.

“And, finally, I realize that I must not be an official if I’m to put an end to all this corruption.” (Penguin Classics, 1987, p. 310)
           
            Selain tentang kata “korupsi” juga soal penggunaan kata ganti “Saya” dan “Aku” dalam Max Havelaar. Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin yang diterbitkan Djambatan sebanyak sembilan edisi menggunakan kedua kata ganti tersebut secara tepat. Untuk menunjukkan suasana lampau H.B. Jassin menggunakan kata ganti “Saya”. Sementara ketika Multatuli yang bercerita atau di dalam puisi sebagai pernyataan diri maka yang digunakan adalah “Aku”.
Penggunaan kata “Saya” menyiratkan suasana yang berefek lama. H.B. Jassin memilih “Anda” bukan “Kau” atau “Kamu”. Sementara kata ganti “Aku” untuk menyatakan personal dan pernyataan diri. H.B. Jassin menggunakan kedua kata ganti tersebut tidak asal-asalan.
            Pada Max Havelaar terbitan Qanita dan Narasi saya menemukan hal yang sebaliknya. Penggunaan kedua kata ganti digunakan pukul rata. Pada terbitan Qanita kata ganti “Aku” mendominasi. Sebaliknya pada terbitan Narasi kata ganti “Saya” yang digunakan.
           
“Saya adalah makelar kopi, tinggal di Lauriergracht No. 37.” (Djambatan, 1973, hlm. 1)
“Aku makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.” (Qanita, 2014, hlm. 17)
“Saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.” (Narasi, 2008, hlm. 11)     
           
dan

“Ya, aku Multatuli, yang telah banyak menderita, mengangkat pena.” (Djambatan, 1973, hlm. 346)
“Ya, aku, MULTATULI, “yang telah banyak menderita”, aku mengambil alih pena.” (Qanita, 2014, hlm. 461)
“Ya, saya, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.” (Narasi, 2008, hlm. 386)

Ini sedikit tentang mahakarya sastra yang terus dibaca meski usianya kini tak lagi muda: 154 tahun. ***

Depok, 18 Oktober 2014
Ubaidilah Muchtar, pemandu reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten.

*** Bahan Obolan Pembaca Media Indonesia, Sabtu, 18 Oktober 2014 di Freedom Institut,  kerjasama Penerbit Mizan dan Media Indonesia.
Wednesday, November 12, 2014
no image

Ubai Meraih Nugra Jasadarma Pustakaloka 2014



Catatan Yopi Setia Umbara
Sumber: http://www.buruan.co/ubai-meraih-nugra-jasadarma-pustakaloka-2014/


Ubai bersama istri, Linda Nurlinda. (Foto: Dokumentasi Ubaidilah Muchtar)
Ubai bersama istri, Linda Nurlinda. (Foto: Dokumentasi Ubaidilah Muchtar)

Ubaidilah Muchtar (saya lebih akrab menyebutnya Ubai) pengasuh Taman Baca Multatuli di Kampung Ciseel meraih penghargaan Nugra Jasadarma Pustakaloka 2014 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (23/10/2014). Anugerah itu diterimanya sebagai penghargaan dari pemerintah kepada masyarakat yang berperan aktif dalam pengembangan perpustakaan dan gemar membaca di daerah.

Taman baca yang berada nun jauh di pelosok Kampung Ciseel, Kabupaten Lebak, Banten, itu didirikan bersamaan dengan diangkatnya Ubai sebagai guru sipil di sana. Taman baca yang menggunakan nama pena penulis novel Max Havelaar (Eduard Douwes Dekker) itu kini semakin dicintai masyarakat setempat.

Saya mengenal Ubai sejak kuliah di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun 2003. Ia adalah senior yang supel dan rendah hati kepada dan senang membimbing junior-juniornya. Ia juga pekerja keras dan rinci dalam apa saja yang ia kerjakan. Kepada saya ia selalu menganjurkan supaya rajin membaca buku.

Di jaman Gedung Pentagon dulu, Ubai adalah sosok yang paling rajin mengabadikan momen dan berbagai hal yang ia temukan dalam jurnal hariannya, seperti saya pernah membaca kumpulan jurnal harian dan puisinya—yang ia buat secara stensilan—dari perpustakan Himpunan Bahasa Dan Sastra Indonesia (Hima Satrasia) UPI. Mulai dari karakter orang-orang yang “nyantri”sampai tulisan di dinding wc gedung itu ia tulis secara rinci di jurnal hariannya.

Di akhir tahun 2004, saya dan kawan-kawan di Pentagon menerima kabar duka. Ayahanda Ubai meninggal dunia (tepatnya pada 9/12/2004) di Pamanukan, Subang, kampung halamannya. Tanggal itu saya ingat, karena bertepatan juga dengan pertandingan Piala Tiger 2004 antara Indonesia vs Singapura yang berakhir dengan skor 0-0. Pada hari itulah untuk pertama kalinya saya mengunjungi rumahnya dalam rangka melayat.

Ubai dan anak-anak pembaca novel "Max Havelaar". (Foto: Dokumentasi Ubaidilah Muchtar)
Ubai dan anak-anak pembaca novel “Max Havelaar”. (Foto: Dokumentasi Ubaidilah Muchtar)

Lima tahun kemudian, tapatnya pada 10 November 2009, Ubai mendirikan Taman Baca Multatuli. Taman baca itu berada di kaki Gunung Halimun Salak, sebuah daerah yang belum terjamah modernitas. Di taman baca itu anak-anak membaca novel Max Havelaar karya Multatuli secara pelan-pelan dan rutin. Mereka membaca bersama dalam bentuk reading group.

Pembacaan novel Max Havelaar menjadi satu dari banyak kegiatan yang dilakukan di Taman Baca Multatuli. Selain membaca Max Havelaar anak-anak juga membaca novelet Saija (bahasa Sunda), menulis catatan harian, bermain drama Saijah dan Adinda, menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung, pergi ke Badui, dan kegiatan dalam rangka memperingati kalahiran novel Max Havelaar dengan tajuk Ciseel Day.
Pada kegiatan Ciseel Day ditampilkan atraksi kesenian rakyat, pencak silat, pembacaan puisi, tarian dan nyanyian rakyat, menulis catatan perjalanan, dan kegiatan lainnya. Terakhir Ciseel Day yang diselenggarakan pada 7-8 Juni 2014, sekaligus memperingat 154 tahun Multatuli.

Selamat kepada Ubai atas penghargaan Nugra Jasadarma Pustakaloka 2014, semoga Taman Baca Multatuli semakin berkembang, dan menjadi cahaya literasi bagi masyarakat di Ciseel.

Bravo Ubai! Bravo Taman Baca Multatuli![]
Sumber foto: Dokumentasi Ubaidilah Muchar
no image

Ubaidilah Muchtar Terima Penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka

Banten,pojoksamber.com- Ubaidilah Muchtar, pegiat Taman Baca Multatuli mendapatan penghargan Nugra Jasadarma Pustaloka. Ia menerima penghargaan untuk kategori Masyarakat yang Berperan Aktif Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Gemar Membaca.

Ubaidilah Muchtar-lah yang mendirikan Taman Baca Multatuli pada Maret 2010. Ubai berhasil menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anak Ciseel. Ubai berhasil mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan para orangtua di Ciseel yang akrab dengan istilah reading group.

Penghargaan ini diberikan oleh Perpustakaan Nasional RI terhadap Pimpinan Daerah, Masyarakat dan Media yang Berperan Aktif Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Gemar Membaca, Buku Terbaik Tahun 2014, Pustakawan Terbaik, Lomba Bercerita bagi Siswa-siswi SD/MI Tingkat Nasional, Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik, Perpustakaan SLTA Terbaik.

Ubaidilah rencananya akan menerima penghargaan tersebut pada acara Gemilang Perpustakaan Nasional yang akan dilaksanakan pada Kamis, 23 Oktober 2014 Pukul 18.30 WIB di Gedung SMESCO Jakarta. Pemberian penghargaan ini juga akan dimeriahkann oleh artis-artis ibukota seperti Hijau Daun, Dewi Gita, Cakra Khan dll. Selamat Kang Ubay, terus semangat. (Oki)

SUMBER: http://www.pojoksamber.com/ubaidilah-muchtar-terima-penghargaan-nugra-jasadarma-pustaloka/
no image

Gemilang Perpusnas : Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka 2014

Pancoran, Jakarta—Sebut saja Usin walau sebagian banyak orang memanggilnya dengan nama Husin. Sosok yang terlihat tegar dibalik kulitnya yang legam. Dulu, Usin dikenal sebagai bandit. Usia belasan tahun sudah pernah mencicipi dinginnya penjara, termasuk mendekam di Nusa Kambangan. Dia sudah beberapa kali menjadi residivis. Hitamnya masa lalu sudah benar-benar ia ditinggalkan.

Kini, keseharian bapak 4 anak dan 7 cucu hanyalah mengurusi kaum marjinal di sebuah ‘lapak’ sederhana yang dinamai Taman Baca Masyarakat (TBM) Rangkah, Surabaya. Mungkin sebagian orang yang baru mendengar akan ngeri jika tahu dimana lokasi TBM berada, yaitu diatas areal pemakaman umum.

Dulu, TPU Rangkah dikenal punya citra yang buruk. Selain menjadi lokasi seks bebas, berbagai tindak criminal kerap terjadi. Lalu, sejak kedatangan Usin, pria kelahiran Lamongan tahun 1956, perlahan-lahan citra TPU Rangkah beranjak berubah menjadi tempat yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Selama 24 jam, TBM Rangkah melayani siapa saja yang datang yang mau belajar dan membaca. Tiap malam belasan anak-anak sekitar makam belajar mengaji ditemani beberapa relawan.

Bagi kaum marjinal di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, sosok Deasy Sekar Chamdy tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Ia bersama relawan Forum Indonesia Membaca membuka sudut-sudut baca di rumah-rumah warga. Tidak hanya aktivitas membaca, disana mereka pun diajari kelas kreatif, kelas seni dan kelas berbagi.

Lain lagi dengan kisah Ubaidilah Muchtar yang mempelopori TBM Multatuli di Lebak (Banten), tepatnya di Kampung Ciseel, dibawah kaki Gunung Halimun. Sangat jauh dari pusat kota. Tapi, disini puluhan anak-anak terpenuhi dahaga ilmu pengetahuannya di sela-sela kesibukan membantu para orang tuanya.

Ubai, tidak menuntut mereka untuk cepat membaca, tapi secara sabar dituntun untuk mengerti dan memahami yang dibaca. Tidak peduli dimana mereka melakukannya. Kadang di atas jejeran batu di atas sungai, hamparan rumput, atau di mushola. Buku Max Havelaar menjadi favorit dari anak-anak. Bahkan, mereka melakukan napak tilas (menyusuri jejak Multatuli) dengan berjalan kaki di Banten.

Ada lagi sosok Hendriyadi. Lelaki yang berani mengimpikan kapal perpustakaan demi memenuhi hasrat informasi dan pengetahuan anak-anak yang mendiami Pulau Pahawang (Lampung) dan di sekitarnya. Kerja kerasnya bahkan telah diakui dunia internasional.

Itu hanya secuplik kisah para penerima anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional 2014. Mereka berkumpul bersama 53 penerima anugerah serupa atas bidangnya masing-masing, antara lain pemimpin daerah, masyarakat dan media yang berperan aktif terhadap pengembangan perpustakaan dan minat baca, buku terbaik, pustakawan, lomba bercerita, lomba perpustakaan desa/kelurahan, dan perpustakaan SLTA terbaik.

Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka merupakan bentuk penghargaan tertinggi yang diberikan Perpusnas kepada pihak-pihak yang dianggap memberikan kontribusi besar bagi pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerahnya. Ketentuan tersebut telah diatur dalam Pasal 51 ayat 6 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang berhasil melakukan gerakan pembudayaan gemar membaca.

Malam penghargaan anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka dikemas dalam konsep entertainmen bertajuk Gemilang Perpusnas 2014. Gemilang Perpusnas diisi oleh hiburan musik dan band dari sejumlah pendukung acara, antara lain Cakra Khan, Petra Sihombing, Dewi Gita, Andhika Pratama, Ussy Sulistiawaty, Marsya Idol, Inne Octa, Vinnie Lupita, Hijau Daun Band, serta penampilan atraktif dari para finalis Abang None Jakarta. Acara tersebut dipandu oleh Cah Lontong dan Natalie Sarah.

Pembinaan minat baca merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat saat ini. Perpustakaan adalah media penerang terhadap perkembangan intelektual masyarakat. Kian sering masyarakat memanfaatkan perpustakaan, akan muncul sikap kritis dan koreksi terhadap hal yang merugikan. Informasi yang terkandung dalam suatu bacaan mampu memenuhi kebutuhan pengetahuan dan pengalaman manusia.

Perpustakaan yang timbul dari keinginan masyarakat akan menjadikan kegiatan di perpustakaan berjalan dengan baik. Masyarakat juga akan mendapatkan nilai tambah. Perpustakaan menjadi tetap eksis dan berkembang mengikuti kemajuan masyarakat.

Selamat kepada para penerima..

Terus semangat menggelorakan perpustakaan dan minat baca !

Berikut Hasil Lengkap Penerima Nugra Jasadarma Pustaloka 2014:

BUKU (PUSTAKA) TERBAIK 2014 BIDANG SOSIAL, POLITIK DAN EKONOMI

Juara I
Dr. Ir. Pigoselpi Anas, M.Si.
Membongkar akar kemiskinan nelayan
Penerbit: Roda Bahari
Juara II
Dr. Darmansjah Djumala, MA
Soft power untuk Aceh resolusi konflik dan politik desentralisasi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Juara III
Suryana
Ekonomi kreatif, ekonomi baru : mengubah ide dan menciptakan peluang
Penerbit: Salemba Empat

LOMBA BERCERITA SISWA SD/MI TINGKAT NASIONAL 2014

JUARA 1
Alaisya Puja Djafar
Provinsi Papua
Juara 2
Lidiya Pratiwi
Provinsi: Kepulauan Bangka Belitung
Juara 3
Adhika Mazaya Faizal
Provinsi Banten

LOMBA PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN TAHUN 2014

Juara 1 Cluster A
Perpustakaan Tunas Bangsa Pandan Wangi, Jawa Timur (Lumajang)
Juara 1 Cluster B
Perpustakaan Umum Kelurahan Keputraan, Sumatera Selatan (Lubuk Linggau)
Juara 1 Cluster C
Perpustakaan Kelurahan Walia Buku, Sulawesi Tenggara (Bau-bau)

LOMBA PERPUSTAKAAN SLTA TINGKAT NASIONAL 2014

Juara 1
Perpustakaan MA Al-Irsyad, Jawa Tengah
Juara 2
Perpustakaan SMA Kolese de Britto, Daerah Istimewa Yogyakarta
Juara 3
Perpustakaan SMA Negeri 1 Dampit, Jawa timur

PUSTAKAWAN BERPRESTASI TERBAIK NASIONAL TAHUN 2014

Peringkat 1
Yunita Riris Widawaty, SS, M.Hum
Banten
Peringkat 2
Ahmad Hidayah, S.Hum
Jawa Tengah
Peringkat 3
James Frederich Kurniajaya, S.IIP
Sulawesi Selatan

KATEGORI MASYARAKAT

- Husin (TBM Rangkah), Kota Surabaya, Jawa Timur
- Hendriyadi (Rumah Baca Harapan/Rubah), Pulau Pahawang, Lampung
- Ubaidilah Muchtar (Taman Baca Multatuli) - Lebak, Banten
- Dessy Sekar Chamdy (Library @Batavia), Jakarta Utara, DKI Jakarta
- Agus Munawar (Sudut Baca Soreang), Kab. Bandung, Jawa Barat

KATEGORI MEDIA

- Radio Citra (Wonosobo, Jateng)
- Linggau Pos (Lubuklinggau, Sumsel)

KATEGORI PIMPINAN DAERAH

- Ir. H. Sigit Widyonindito, MT (Walikota Magelang)
- dr. Basyir Ahmad (Walikota Pekalongan)
- dr. Basuri Tjahaja Purnama, M.Gizi, Sp.Gk (Bupati Belitung Timur)
- Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si (Ketua PKK Prov Jatim)
- H. Lukman Hakim, SH, MH (Walikota Metro, Lampung)
- H.S.N Prana Putra Sohe (Walikota Lubuklinggau, Sumatera Selatan)


Sumber: http://www.pnri.go.id/BeritaAdd.aspx?id=172
no image

Mengilhami Karya Sastra dan Semangat Kebangsaan



Minggu, 26 Oktober 2014 Penulis: MI/ARZIA TIVANY WARGADIREDJA
"SEBAB kita bersukacita bukan karena memotong padi, kita bersukacita karena padi yang kita tanam sendiri." Itulah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Max Havelaar dalam pidatonya yang ia sampaikan di depan persidangan di Lebak pada 1856. Melalui pidatonya tersebut, tersirat hasrat besar dirinya membebaskan Lebak yang begitu tandus dibekap rakus, dan masyarakatnya melarat tak bisa berbuat. Kisah ini kemudian dikemas kembali oleh penerbit Qanita, Mizan Pustaka, yang diterjemahkan kembali oleh Inggried Dwijani Nimpoeno, dan didiskusikan dalam OPMI Bedah Buku Max Havelaar di Freedom Institute, Jakarta, Sabtu (18/10) lalu.

Terjemahan versi Qanita, Mizan Pustaka, dianggap belum semenarik terjemahan pertamanya, yakni karya HB Jassin yang dinilai sangat cermat menempatkan intimasi dan penggambaran suasana berdasarkan waktu dengan kata `aku' dan `saya', tetapi novel terjemahan Inggried Dwijani Nimpoeno ini pun dinilai menarik dan tetap bisa menggambarkan pengaruhnya bagi pembaca. Salah satu pembahas yang hadir dalam bedah buku ini adalah pendiri taman bacaan Multatuli, Ubaidilah Muchtar. Menurutnya, kisah buku ini bukanlah roman semata. "Kisah ini bukan roman, ini adalah gugatan." tegasnya.

Bisa jadi perkataan Ubai benar, seperti yang banyak orang ketahui, buku ini memang berkisah tentang perlawanan seorang Asisten Residen Lebak yang dikisahkan bernama Max Havelaar. Max Havelaar menentang sistem kolonialisme yang telah diterapkan selama bertahun-tahun oleh Belanda. Tidak hanya vokal menentang sistem yang dibuat negaranya sendiri, Havelaar pun harus menyaksikan kesengsaraan masyarakat Lebak dari penindasan dan perampasan hak yang dilakukan pemimpin mereka sendiri yang menjadi cerminan feodalisme yang telah mengakar di Banten, bahkan di seluruh kawasan Hindia Belanda.

Multatuli, melalui penokohan dirinya sebagai Max Havelaar tetap bersikukuh pada pandangannya bahwa sistem tanam paksa harus segera diakhiri . Dia pun kerap memberikan kritik dan protesnya pada gubernur jenderal, tetapi usaha tersebut malah dianggap sebagai penghalang, dan itu menjadi penyebab dia dipindahkan ke Ngawi. Havelaar pun menolak, dan memilih untuk kembali ke Eropa, dan menuliskan kisahnya dalam sebuah buku berjudul asli Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (1860). Sastra sekaligus autobiografi Roman ini dibingkai melalui be berapa jalinan cerita, mulai dari kisah yang dipaparkan Droogstoppel, seorang makelar kopi di Belanda yang chauvinis, kaku, dan menjemukan yang menjadi representasi bangsa kolonial. Cerita ini pun pada intinya menceritakan tentang kisah pribadi Multatuli yang diwakili oleh Max Havelaar selama menjadi pegawai pemerintah Belanda di Hindia Belanda. Ada pula kisah cinta tragis mengenai Saijah dan Adinda, yang menjadi korban penindasan dan keserakahan para feodal.

"Bisa dibilang, ini adalah autobiografi yang Multatuili tulis sendiri, tetapi keberadaannya sebagai karya sastra tetap diterima" jelas Ubaidilah. Karya ini tidak hanya mengentaskan sistem tanam paksa, tapi juga menjadi salah satu karya penting dalam dunia sastra, baik Belanda maupun Indonesia. Seperti diketahui se belumnya, Max Havelaar menjadi salah satu karya paling berpengaruh da lam kesusastraan Belanda pada sekitar abad ke-19, seperti yang pernah dise butkan Maritha Matijsen, seorang profesor sastra Belanda abad ke-19.

Namun, di sisi lain, mahakarya Multatuli ini pun memberikan pengaruh be sar bagi dunia sastra Indo nesia, "Karya ini berperan sebagai tonggak awal sastra Indonesia dengan fiksionalisasi potret sosial yang ada," jelas sejarawan UI Hilman Farid. Pada abad ke-19, di Indo nesia terdapat keterbatasan bentuk dalam sastra. Menurutnya, kritik-kritik yang disampaikan dalam roman ini memberikan napas bagi pencapaian tema Indonesia sebagai gagasan, sekaligus cita-cita yang harus direalisasikan.

Jika Pramoedya Ananta Toer menye butnya kisah yang membunuh kolo nialisme, sejatinya kalimat tersebut tak berlebihan. Bagi Hilmar, novel Max Havelaar berperan penting terhadap banyak perubahan yang terjadi. "Karya ini berhasil membongkar skandal yang selama berpuluh tahun dilihat tapi tak disadari," ungkapnya. Hilmar pun berpendapat, energi yang dimiliki oleh novel realisme memiliki kelebihan untuk menyampaikan kritik. "Kritik dalam bentuk novel bisa mengungkapkan cerita yang lebih mendalam dan bisa menciptakan perubahan dengan daya yang masif dan global," jelasnya.

Melalui karya ini, pembaca dibuat sadar bahwa kolonialisme akan senantiasa bergantung pada feodalisme."Kolonialisme itu ibaratnya parasit yang menempel pada feodalisme, tanpa feodalisme kolonialisme sulit untuk tumbuh," ungkap Hilmar. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa di dunia. Buku ini pun diyakini sebagai penggerak perubahan berakhirnya sistem tanam paksa yang menyengsarakan rakyat pribumi di Hindia Belamda. Diawali dengan diberlakukannya Agrarische Wet atau Undang-Undang Agraria.

Kisah tentang kolonialisme dan feodalisme senantiasa relevan, dan keniscayaannya terbukti kini. Setelah 154 tahun sejak kelahiran buku ini, kisah antara rakyat dan penguasa Banten tak jauh berubah. Kisahnya tetap terwakili oleh dinasti era kini. "Mungkin seharusnya anggota DPR dan pemimpin di negeri ini harus baca Max Havelaar," singgung Ubai. Hingga kini, keadaan masyarakat Banten khususnya Lebak tak bisa dibilang jauh berbeda. "Di Lebak, tempat anak-anak Taman Bacaan Multatuli, listrik itu baru masuk 2 tahun terakhir," ungkap Ubai. Kondisi itu seharusnya tak terjadi mengingat Banten terletak di Pulau Jawa. Hal ini menjadi kontras jika dibandingkan dengan dinasti keluarga gubernur Banten yang seakan raja.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/hottopic/read/5322/Mengilhami-Karya-Sastra-dan-Semangat-Kebangsaan/2014/10/26
Back To Top