Breaking News
Loading...

Terkini

Tuesday, December 2, 2014
Max Havelaar dan Cermin Tujuh Sisi

Max Havelaar dan Cermin Tujuh Sisi


"Kita bersuka cita bukan karena memotong padi;
Kita bersuka cita karena kita memotong padi yang kita tanam sendiri."

Dua kalimat dalam potongan pidato seorang mantan Asisten Lebak, Banten, menjadi salah satu jenis mantra yang berhasil menyihir sebuah zaman. Satu dari sekian banyak tipologi manusia yang hidup pada abad 19, sekaligus menjadi ciri khas dalam warna sejarah kekuasaan Belanda di tanah Nusantara. Seorang pria yang berdiri bukan hanya bertumpu pada bara idealisme, tapi juga beralaskan rasa kemanusiaan yang begitu dalam.

Dibandingkan nobel, pria itu mendapatkan lebih dari sebuah penghargaan. Keluasan berpikir, ketajaman nurani, hidup, dan tumbuh dengan kebebasan penuh, nyatanya berhasil menguar sampai saat ini. Sampai banyak orang di kemudian hari menjadikan apa yang ia lakukan sebagai bentuk pembebasan itu sendiri. Kebebasan untuk menggagas, kebebasan untuk berkehendak merdeka.

Begitu menarik ketika kita berani menguak setiap sisi dalam buku ini. Mulai dari bentang sejarah hingga sajian sastra yang mau tidak mau, suka tidak suka, ternyata punya pengaruh besar terhadap khazanah kesusastraan Indonesia. Sastra dan sejarah, keduanya saling berkelindan, dan tentu saja, bukanlah stuiversroman seperti yang dilontarkan Roolvink. Karena Max Havelaar lahir dari napas kebenaran dan keberanian. Ya! Berani! Maka untuk membaca dan mengisahkannya kembali, Anda hanya butuh satu modal. Satu saja, dan itu amat sederhana; berani berbuat benar dengan tindakan tepat.

Sisi Pertama: Perseptif Realisme
Saya tidak akan banyak membahas isi bukunya (kisah di dalamnya), ataupun profil asli penulisnya, karena akan lebih asyik jika Anda membaca langsung dan bisa merasakan sendiri bagaimana ketidakteraturan seorang Multatuli menuliskan kisah demi kisah dengan sudut pandang yang cukup membingungkan.

Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker) pun mengakui sendiri bahwa ia tak pandai menulis. Tapi nyatanya, hasil tulisannya memberi kesan baru dalam kesusastraan di Belanda. Padahal, sebelum Multatuli muncul dengan Max Havelaarnya, tulisan-tulisan yang beredar dan membudaya di negeri kincir angin itu didominasi oleh sastra klasik, bersumber dari alkitab (kitab keagamaan). Tentu, bisa dibayangkan bahasa yang ada pada saat itu tak mudah dipahami masyarakat secara luas, atau dengan kata lain, terlalu ekslusif dan terkesan “mahal”.

Hingga Multatuli mendobrak zaman dengan Max Havelaar yang disajikan secara merakyat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian, percakapan yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Bahkan, Pramoedya Ananta Toer (Pram) ternyata memiliki latar sejarah sastra yang tak bisa lepas dari jejak Multatuli. Model penyajian kisah kehidupan pada masa, situasi, dan kondisi yang tak jauh berbeda dari zaman Multatuli, mudah ditemukan dalam Tetralogi Pulau Buru. Dan empat buku tebal itu sukses melambungkan nama Pram di kancah internasional.

Apa yang kemudian membuat karya Multatuli melambung tinggi, hingga Pram berani berkata bahwa Max Havelaar adalah kisah yang membunuh kolonialisme, adalah tentang apa yang saya katakan di awal tadi. Keberanian.

Laiknya Snowden, Multatuli telah membongkar skandal yang belum diketahui orang-orang. Meskipun saya rasa, ada beberapa hal yang berbeda jauh dari keduanya, Snowden dan Multatuli. Terlepas dari motif, konspirasi, atau alasan apapun yang selama ini simpang siur meramaikan opini masyarakat. Mengapa pada akhirnya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker mengasingkan diri ke Jerman hingga akhir hayatnya, sedangkan Snowden, bukannya mengasingkan diri, tapi santai berpelesir ke tempat rekreasi dengan mudah setelah membongkar permainan busuk para penguasa. Setidaknya, mereka berupaya untuk menembus kenyataan yang tak tampak di permukaan.

Multatuli menuliskan novel berjudul Max Havelaar, diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi pada dirinya sendiri selama 15 tahun tinggal di Indonesia, pada masa penjajahan Belanda. Novel Max Havelaar merupakan tulisan pertama yang membeberkan kepada dunia mengenai penindasan kolonialisme di Hindia Belanda.

Sisi Kedua: Konsepsi Sastra dan Posisi Pengarang
Pada dasarnya, karya sastra “tidak berbeda” dengan karya sejarah, filsafat, atau sosiologi. Kesemuanya mengangkat bahan yang sama; masalah manusia dan kemanusiaan. Yang membedakannya adalah bagaimana bahan yang sama itu diolah, disajikan, dan diberi penekanan lewat sudut pandang masing-masing. Sejarah, misalnya, mencoba merekonstruksi peristiwa manusia dan kemanusiaan yang terjadi pada masa lalu. Filsafat mencoba mengangkat hakikat keberadaan manusia lewat uraian-uraian rasional, logis, dan sistematik. Adapun sosiologi, mencoba mengangkat keberadaan individu dalam kaitannya dengan individu lain dan lingkungan masyarakat dan kebudayaannya.

Lalu, bagaimanakah dengan karya sastra?
Dalam hal inilah uniknya kedudukan karya sastra. Ia dapat memanfaatkan fakta historis, pemikiran filosofis, atau fakta sosiologis. Malah, ia juga dapat menggabungkan ketiganya sekaligus. Saya berani berkata bahwa Multatuli tidak hendak menulis dengan pilihan-pilihan bahasa maupun teknik menulis yang menyajikan keindahan estetik, sebagaimana karya sastra pada umumnya. Ia hanya menulis. Tahu dan melihat langsung kebusukan yang ditemukan, kemudian menjerit melalui tinta dan kertas-kertas.

Recreatio!
Penciptaan kembali suatu peristiwa dalam kehidupan, menjadi sesuatu yang punya makna bagi kehidupan manusia. Karya sastra yang lahir dari tangan Multatuli mungkin juga sebagai tanggapan atas kondisi sosial kultural yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai tanggapan, niscaya ada kehendak untuk menyampaikan sesuatu atau menawarkan pesan tertentu. Di sinilah seorang sastrawan (karena kemudian Mulatuli dianggap telah menjadi pendobrak bagi lahirnya sebuah kebaruan dalam khazanah sastra dunia, maka menjadi boleh ia disebut sebagai sastrawan) sering memainkan peran sosialnya.

Sisi Ketiga: Licentia Poetica (Kebebasan Berkreasi)
Kebebasan berkreasi dimanfaatkan para pengarang untuk menghasilkan berbagai kebaruan. Lewat kebebasan itulah, Multatuli merasa dapat “bebas sebebas-bebasnya” untuk mengungkap apa saja yang terlintas dalam perasaan dan pikirannya. Meskipun setelah itu ia dicekal oleh pemerintah Belanda karena pengaruh hebat yang ditimbulkan dari tulisannya.

Pertama, Multatuli adalah anggota masyarakat, lahir dan besar dalam satu lingkungan masyarakat tertentu, dengan kaidah, norma, hukum, dan undang-undang yang tak bisa lepas begitu saja. Dalam kaitan dengan hal itu, kebebasan berkreasi seorang sastrawan seyogianya diungkapkan lewat simbolisasi-simbolisasi terselubung yang maknanya dapat ditafsirkan secara khas, sekaligus universal.

Ada hal-hal dalam sikap Multatuli yang kemudian tak sedikit menuai kritik. Misalnya, ia hanya mampu menelanjangi bagaimana rupa orang Jawa –yang dalam konteks ini bukan mengarah pada suku Jawa, tapi yang dimaksud adalah orang Hindia-Belanda secara keseluruhan atau Indonesia– ketika itu saat menghadapi kemelut penjajahan, tanpa pernah turun langsung, tanpa pernah berbuat, tak ada kontribusi apapun kepada yang terjajah di sekelilingnya.

Kedua, selain sebagai anggota masyarakat, Multatuli juga warga negara yang berada di bawah kekuasaan politik pemerintah. Sebagai warga negara, ada ketentuan politik tertentu yang hendak dijalankan pemerintah. Jika ada karya sastra yang bertentangan dengan politik yang hendak dijalankan pemerintah itu, maka jangan heran jika kemudian muncul pelarangan atas karya yang bersangkutan.

Ada yang dijunjung tinggi: kebenaran, kejujuran, moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Melalui tulisan, sesungguhnya penulis hendak mengajak masyarakat guna meningkatkan nilai-nilai moralitas, memperhalus etika agar lebih berbudi luhur, dan mendorong peningkatan peradaban manusia. Menurut hemat saya, Multatuli hanya ingin jujur dengan apa yang dilihatnya. Tak ada sudut pandang sastra yang ia lihat. Jika kemudian karyanya meledak hingga ubun-ubun kesusastraan, maka itu tak lebih dari timing yang tepat. Menurut saya lho ya.. :D

Sisi Keempat: antara Saya dan Aku, Korupsi dan Penipuan
Max Havelaar dalam beberapa cetakan dari beberapa penerbit, dengan beberapa penerjemah seperti H.B. Jassin, Rosihan Anwar, dan terakhir, Ingrid Dwijani, penerbit Qanita – Mizan yang mendominasi rak-rak di toko buku, telah menciptakan pengertian baru. Contohnya sederhana, seperti penggunaan kata “Anda” yang diciptakan Rosihan Anwar. Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin yang diterbitkan Djambatan sebanyak sembilan edisi menggunakan kedua kata ganti tersebut secara tepat. Untuk menunjukkan suasana masa lampau, H.B. Jassin menggunakan kata ganti “Saya”. Sementara ketika Multatuli yang bercerita atau di dalam puisi sebagai pernyataan diri, maka yang digunakan adalah “Aku”. Ia juga memilih kata “Anda”, bukan “Kau” atau “Kamu”.

Sedangkan pada penerbit Narasi (2008) dan Qanita (2014) posisi “Saya” dan “Aku” dipulul rata. Contoh:
1. Narasi (2008)
Saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, saya, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”
2. Qanita (2014)
Aku adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.”
“Ya, aku, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.”

Selain itu, diksi “korupsi” yang muncul pada terjemahan Andi Tenri Wahyuni, penerbit Narasi (2008) jauh berbeda dari terjemahan H.B. Jassin, penerbit Djambatan dan Ingrid Dwijani, penerbit Qanita (2014). 
Contoh:
1. Djambatan (1972-2005)
“… dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat.”
2. Qanita (2014)
“… dan, akhirnya, aku tahu bahwa untuk mengakhiri semua penipuan ini, aku tidak bisa lagi menjadi pejabat.”
3. Narasi (2008)
“Dan, akhirnya, saya sadar bahwa saya harus berhenti jadi pejabat jika saya ingin mengakhiri semua korupsi ini.”

Lebih tepat dan tajam jika menggunakan pilihan ketiga, yaitu kata korupsi. Pada terjemahan pertama dan kedua dimaksudkan untuk memperhalus kata tersebut. Padahal, dalam terjemahan bahasa Inggris, yang digunakan adalah kata korupsi.

“And, finally, I realize that I must not be an official if i’m to put an end to all this corruption.” (Penguin Classics, 1987)

Pemilihan kata korupsi menjadi demikian tepat bila kita lihat carut marut Tanah Air Indonesia Raya. Setuju? :)

Pembedaan itu hanya dimaksudkan agar pembaca dapat mudah larut dalam peristiwa pada tahun-tahun penjajahan. Karena kata “Saya” dan “Aku” menunjukkan ruang, menampakkan keakraban atau keintiman yang berbeda. Jelas sekali bahwa bahasa Indonesia begitu kaya kosa kata dan pengertian-pengertian yang berbeda sesuai konteks peristiwa dan alur cerita. Telepas dari upaya agar hasil terjemahan tidak berbeda jauh dari naskah aslinya yang berbahasa Belanda, karena pasti ada beberapa nuansa klasik yang hilang ketika selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kesungguhan penerjemah dan penerbit untuk kembali memunculkan Max Havelaar ke permukaan, patut diapresiasi.

Selain bahasa, soal sudut pandang yang cukup kacau, melompat-lompat, sempat membuat geger teori teknik penulisan yang selama ini ada. Lagi-lagi saya juga cukup mengatakan bahwa Multatuli melahirkan tulisan pada waktu yang tepat. Sehingga semua teori seolah mati karena kebenaran dan nilai kemanusiaan yang ia bawa. Sorry to say… :D Dan tentulah 15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk membentuk pola pikir, yang kemudian memberikan nyawa pada tulisannya.

Sisi Kelima: Sejarah dan Budaya
Ada satu pernyataan dari Sejarawan UI yang saya bubuhi garis bawah dan tanda seru: Indonesia bisa dipahami sebagai entitas solid karena karya sastra. Sekarang, budaya membaca sinopsis sebuah buku sudah cukup mewakili proses membaca keseluruhan isi buku. Lalu dengan bebas kita bicara bahwa kita tahu buku itu. Tahu semuanya. Padahal, hanya sinopsis yang dibaca. Dan ini budaya yang cacat. Karya sastra yang seharusnya menjadi tradisi intelektual, pada akhirnya terseok-seok, sampai pincang akibat dilibas dengan kultur instan.

Padahal, jika sebentar saja kita mau sabar terhadap proses membaca itu sendiri, khususnya tulisan Max Havelaar –yang saya kira cukup membingungkan untuk dibaca oleh anak muda era korea– maka kita akan menemukan satu kerangka berpikir seorang tokoh bernama Max Havelaar, yang tak lain dan tak bukan adalah sang penulis itu sendiri: Multatuli atau Eduard Douwes Dekker. Sampai pemerintah Belanda berpikir untuk segera menyelesaikan semuanya. Menyudahi kekuasaannya yang sudah bercokol lama di Hindia Belanda. Menginginkan permainan yang lebih fair.

Subagio Sastrowardoyo (1983) dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita, menuliskan bahwa ia telah tersentuh oleh tenaga cipta yang hebat dan kekal dari lingkungan luas, hutan-hutan lebat, dan rakyat yang terjajah. Multatuli tumbuh di tengah gejolak sosial, politik, dan pemerintahan yang pada akhirnya membentuk kepribadiannya. Tanah Nusantara dengan segala problematika yang menggugah dan menginspirasi.

Dampak yang muncul terhadap orang Indonesia, mungkin tak banyak. Bisa dibilang sangat kecil. Apalagi buku Max Havelaar baru diterjemahkan pada tahun 1972, sedangkan Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945. Tapi ternyata, pengarang eropa lah yang merasakan efek awalnya. Karya-karya yang didominasi bahasa “eksklusif” bersumber dari alkitab, kemudian seperti mulai menemukan udara segar untuk mudah diterima dan semakin dekat dengan berbagai golongan masyarakat. Bentuk yang memungkinkan kritik secara terbuka adalah novel. Potret sosial yang dikemas dalam bentuk cerita fiksi. Dan fiksi, bukan berarti menipu.

Mendorong pula lahirnya cerbing atau cerita berbingkai. Menurut Sastrowardojo, Max Havelaar mengandung tiga buah cerita pokok. Pertama, pengalaman Havelaar menjadi asisten residen Lebak. Kedua, pedagang kopi Droogstoppel yang tinggal di Amsterdam. Ketiga, kisah Saijah dan Adinda di desa Badur. Inilah salah satu usaha untuk memperbaharui bentuk sastra lama dengan teknik yang lebih modern.

Sisi Keenam: Merayakan Max Havelaar
Ini gila! Saya sungguh terkagum-kagum dengan seseorang yang duduk di depan, paling kiri dari foto ini, menggunakan pakaian berwarna hijau.

C360_2014-10-21-10-13-32-673

Beliau adalah Ubaidilah Muchtar, pemandu reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten. Tepatnya di kampung Ciseel yang waktu tempuhnya panjang sekali, dengan medan yang sangat sulit. Jembatan putus yang dilalui anak-anak yang akan berangkat sekolah, yang mungkin selama ini Anda simak di televisi. Jalur curam, kanan-kiri jurang, topografi berbukit-bukit, fasilitas yang tak mudah diperoleh, betul-betul jauh dari peradaban.

Dan beliau yang biasa dipanggil Kang Ubay, menempuh jarak Depok – Banten, hanya untuk menghidupkan tradisi intelektual yang mulai terkikis, di Taman Baca Multatuli. Max Havelaar adalah bacaan wajib bagi anak-anak di kampung Ciseel! Dahsyat!

Saya sempat berlinang mendengar penuturan beliau. Membaca novel Max Havelaar 142 kali, dan ia tak membacanya seorang diri. Melainkan bersama dengan anak-anak kampung yang duduk di Sekolah Dasar. Yang membuat saya terhenyak, adalah kondisi kampung tempat Kang Ubay mengajar di Taman Baca Multatuli. Kampung yang baru dua tahun terakhir ini dialiri listrik, tapi sudah sejak lama anak-anaknya gemar membaca Max Havelaar. Sungguh, bahkan saya sendiri mudah terserang kantuk dan bosan ketika membaca Havelaar. Cukup sulit mencerna beberapa maksud dari kalimat di dalam novel tersebut. Malu juga, ternyata saya dikalahkan oleh anak SD. Telak.

Selain Kang Ubay sudah membacanya sebanyak 142 kali, beliau juga punya sembilan cetakan Max Havelaar, kecuali cetakan ke-4. Itu artinya mulai cetakan penerbit Djambatan (H.B. Jassin) sampai Qanita (Ingrid Dwijani) beliau punya semua. Wow! Addict banget ya

Allah.. bahkan saya menangis ketika menulis ini.
Kang Ubay berucap lantang, bahwa anak-anak yang telah membaca Max Havelaar, bukan hanya menjadi seorang anak yang berpengetahuan luas akan sejarah tempat tinggalnya di Lebak, Banten. Tapi mereka terlahir kembali dengan semangat belajar dan impian yang melangit.

Maka, demi memaknai tulisan bernas dalam novel tersebut, setiap tahun, sekitar bulan Mei, mereka merayakan Max Havelaar. Membuat pertunjukan drama dengan properti asli, seperti kerbau, pakaian penduduk desa di Banten, dll. Tentu, properti itu mudah diperoleh di kampung pedalaman seperti di Ciseel. Saya akan menyusun rencana untuk bisa menyaksikan perayaan itu langsung. Apalagi kalau sudah sampai pada kisah Saijah Adinda :P

Seperti satu rahasia ini. Tokoh dalam sampul novel Max Havelaar terbitan Qanita, ternyata adalah dua anak didik Kang Ubay yang dulu tengah memainkan drama Max Havelaar. Model perempuan di sampul bernama Suryati, sekarang SMP di Jakarta. Dan yang laki-laki, saya lupa namanya siapa. :D

maxhavelaar-53ed6b1c40fbf
*Yah, kebongkar deh misteri sampul Max Havelaar, haha*

Sisi Ketujuh: Max Havelaar dan Konteks Kekinian
Saya pikir kebiasaan baik anak-anak di Taman Baca Multatuli, kampung Ciseel, mampu menjawab semua pertanyaan tentang apa yang bisa Anda, saya, dan kita semua dapatkan dari sebuah buku berjudul Max Havelaar, dalam situasi dan kondisi yang sudah nyaman seperti sekarang ini. Mereka sudah menjawab tantangan zaman secara sederhana; membangun kembali tradisi membaca, budaya bercerita (berdiskusi dan mendongeng), menulis kembali apa yang sudah dibaca, dan memerankan tokoh dari cerita dalam buku (bermain drama)! :D

Model yang sederhana, tapi jelas sangat sulit menerapkan proses reading group sebagai tahap awal untuk memahamkan isi Max Havelaar yang njlimet kepada anak-anak SD. Bagaimana kemudian anak-anak pedalaman Lebak itu bisa tumbuh dengan rasa bangga terhadap Bangsanya, melangitkan impian dengan lantang bahwa kelak mereka akan memimpin Negeri dengan kejujuran dan dedikasi terbaik.

unnamed1

by. Hatma Hanis
Ya! Anak-anak! :’)
semoga Allah membalas semua kebaikan Kang Ubay,
dan kelak, anak-anak Lebak bisa tumbuh dengan pemahaman baik
Bogor; Jumat, 24 Oktober 2014
08:33 WIB
Sumber: http://sekarsekarsekar.wordpress.com/2014/10/24/max-havelaar-dan-cermin-tujuh-sisi/
Thursday, November 13, 2014
no image

142 Kali Membaca Max Havelaar


Oleh: Ubaidilah Muchtar

Sampai sekarang Max Havelaar dibaca yang ketiga kali sejak 23 Maret 2010. Selama 4 tahun 7 bulan membaca Max Havelaar dalam bentuk reading group. Pembacaan yang pertama tepat selama 11 bulan (23 Maret 2010-21 Februari 2011). Pembacaan yang kedua selama 2 tahun 3 bulan (30 Mei 2011-21 Agustus 2013). Pembacaan yang ketiga (11 September 2013-sekarang).

Pembacaan Max Havelaar yang pertama tamat setelah 37 pertemuan. Pembacaan yang kedua tamat setelah 78 pertemuan. Pembacaan yang ketiga sudah memasuki pertemuan yang ke-27. Novel Max Havelaar dibaca setiap Selasa atau Rabu dalam group selama 1,5-2 jam sekali dalam seminggu. Selain Max Havelaar ada juga pembacaan novelet Saija (Bahasa Sunda) setiap Kamis sore. Pembacaan Saija (Bahasa Sunda) sejak 22 Februari 2011 hingga sekarang sudah tamat 4 kali.

Pembacaan Max Havelaar sejak pertama 23 Maret 2010 hingga 14 Agustus 2014 lalu sebanyak 142 kali pertemuan. Pembacaan superlelet ini diikuti peserta dengan ragam usia yang berbeda. Dari anak-anak yang belum dapat membaca hingga dewasa.

Rata-rata peserta yang hadir di setiap pembacaan beragam. Pembacaan Max Havelaar yang pertama dimulai dengan peserta 17 orang pada pertemuan pertama dan 32 orang di pertemuan terakhir (Pertemuan ke-37). Rata-rata peserta pada pembacaan pertama 19 orang. Pertemuan dengan peserta paling banyak terjadi pada pertemuan ke-37 dengan peserta 32 orang. Sementara pertemuan ke-10 dan 12 tercatat sebagai pertemuan peserta paling sedikit yaitu 7 orang.

Pembacaan Max Havelaar yang kedua diikuti rata-rata peserta 21 orang. Pertemuan dengan peserta paling banyak terjadi pada pertemuan ke-74 dengan peserta 42 orang. Sedangkan pertemuan dengan peserta 4 orang terjadi pada pertemuan ke-42. Pertemuan pertama pembacaan kedua diikuti 21 orang dan pada pertemuan terakhir (ke-78) ada 20 orang yang hadir.

Pada pembacaan yang ketiga Max Havelaar (hingga pertemuan ke-27), rata-rata peserta 18 orang. Pertemuan dengan jumlah peserta terbanyak terjadi di pertemuan ke-1 (35 orang). Sementara pertemuan dengan peserta paling sedikit terjadi di pertemuan ke-19 (7 orang).

Pembacaan kali kedua Max Havelaar tamat lebih lama karena jumlah peserta berusia muda lebih banyak. Hal tersebut menyebabkan banyak kosa kata dan kalimat yang membutuhkan penjelasan lebih dalam. Berbeda saat pembacaan pertama Max Havelaar yang sebagian besar pesertanya adalah anak-anak usia SMP dan SMA. Selain tingkat penguasaan kosa kata dan kalimat juga konsentrasi peserta yang harus terus dijaga. Selain itu pada pertemuan kedua, jumlah peserta yang semakin banyak dengan ruangan yang lebih luas. Sehingga memungkinkan banyak peserta muda yang terus bergerak. Maka selain bertugas memandu pembacaan Max Havelaar, pemandu juga terkadang harus mengkondisikan peserta muda.

Pembacaan Max Havelaar setiap Selasa atau Rabu sore selama 1,5-2 jam sekali dalam seminggu hanya membaca 3-5 halaman. Novel Max Havelaar dengan jumlah halaman 396 yang kami baca merupakan terbitan Narasi Jogja tahun 2008.

Ritual khatam Max Havelaar juga ditandai dengan makan-makan. Peserta makan bersama nasi liwet dengan lauk dan lalapan beralas daun pisang. Peserta perempuan mempersiapkan makan dengan memasak sendiri. Sementara peserta laki-laki menyiapkan daun pisang dan mengumpulkan kayu bakar. Taman Baca Multatuli memang tidak mendapatkan bantuan finansial dari siapa-siapa, maka kegiatan seperti makan-makan ini dilakukan dengan urunan.

Sebagai penanda lain, ditayangkan film Max Havelaar atau film dokumenter tentang Multatuli di saat khataman membaca Max Havelaar. Kegiatan ini untuk menambah pemahaman peserta. Menonton film Max Havelaar di akhir pembacaan dimaksudkan peserta tidak kecewa. Jadi khatamkan dulu pembacaannya baru menonton filmnya. Itu di saat khatam Max Havelaar.

Pada saat pembacaan berlangsung, peserta juga disuguhkan beberapa benda/alat peraga penunjang teks. Berbagai jenis caping, ikat kepala (rombal/romal), lesung, alu, poster, kayu manis, memo, dan gambar-gambar lainnya. Benda-benda yang dimaksud yaitu sebagian kecil dari yang terdapat dalam novel Max Havelaar. Penghadiran benda-benda tersebut untuk menguatkan pemahaman teks kepada peserta.
Selama pembacaan Max Havelaar berlangsung, beredar buku folio bergaris berisi kesan dan pesan setiap peserta. Peserta menuliskan nama, pesan, dan kesan mengikuti reading group Max Havelaar di buku tersebut. Buku tersebut kini berjumlah tiga buah. Berisi setidaknya 2.764 kesan atau kesan peserta. Tidak semuanya menuliskan kesan atau pesan, tentu. Ada pula peserta yang menuliskan kritik dan otokritik. Buku merah, demikian kami menyebut buku kesan dan pesan peserta reading group Max Havelaar tersebut.

Kesan dan Pesan (1)
Di pertemuan pertama, pembacaan pertama Max Havelaar 23 Maret 2010 tidak ada satu pun yang menggunakan istilah reading group. Tentu, belum melekat di telinga anak-anak. Atau mungkin istilahnya yang belum disampaikan. Semua anak-anak dalam kesan dan pesan di buku merah menulis dengan ungkapan, membaca. Perhatikan tulisan kesan dan pesan mereka.

Rohanah menulis, “Rajin-rajin belajar membaca!”. “Teman-teman, ayo, kita membaca buku cerita,” tulis Anisah. Sementara Siti Nurhalimah menulis, “Baca Multatuli, yuk!” Pendi mengingatkan temannya agar jangan bercanda, “teman-teman jangan bercanda, dong!”. Lain lagi Pepen dan Coni, mereka mengingatkan agar menjaga buku. Siti Alfiah, Pipih, dan Sumi hampir senada mengajak untuk membaca, “Teman-teman, jangan lupa membaca di Taman Baca Multatuli!”

Istilah reading group baru muncul pertama kali di pertemuan ketiga, Selasa, 6 April 2010. Aliyudin menulis, “Teman-teman jangan lupa ya kalau hari Selasa ke Taman Baca Multatuli ikutan reading Grofs.” Reading Grofs yang dimaksud tentunya, reading group. Sementara judul novel mulai terlihat di pertemuan keempat. Dedi Kala yang pertema kali menulis Max Havelaar. Dedi Kala menulis Max Havelaar dengan kurang ‘a’ di kata Havelaar. Berikut kesan dan pesan yang ditulis Dedi Kala, “Teman-teman jangan lupa baca buku Max Havelar. Dan baca bukunya jangan sambil ribut karena kalaw baca buku cerita dengan ribut nanti tida nyaman tau.”

Melaju ke pertemuan kedua. Pertemuan kedua pembacaan pertama dilaksanakan hari Selasa, 30 Maret 2010 dengan 10 peserta. Di buku catatan kesan dan pesan mengikuti reading group terdapat nama-nama: Anisah, Maman, Dedi Kala, Siti Alfiah, Siti Nurajijah, Mariah, Sumi, Pipih Suyati, Adien, dan DH. Rahman. Selanjutnya pertemuan ketiga hari Selasa, 6 April 2010 dengan 8 peserta. Pertemuan keempat, 12 April 2010 dengan 11 peserta. Hingga ke pertemuan ke-37.

Pertemuan ke-37 adalah pertemuan terakhir pembacaan pertama. Di buku catatan kesan dan pesan reading group tertulis: Senin, 21 Februari 2011. Tercatat ada 32 peserta yang mengisi buku merah ini. Ketiga puluh dua anak yang mengisi di buku merah, yaitu: Elis, Rukanah, Sadah Padilah, Ucu Suhernah, Mariam, Herti, Oom, Suryati, Suarsih, Suha, Dedi Kala, Herman, Irman, Tomi, Yani, Dede, Ano, Sujatna, Unang, Sumyati, Samnah, Azis, Cecep, Sanadi, Radi, Mariah, Aliyudin, Siti Nurajijah, Pipih Suyati, Nuraenun, Rohanah, dan Nuraeni.

Saya pilihkan tiga kesan dari Pipih Suyati, Aliyudin, dan Nuraenun. Pipih Suyati menulis, “Pada hari Senin tgl 21.02.2011 yaitu terakhir kami reading Multatuli. Selama beberapa bulan kami membaca Multatuli, akhirnya selesai juga pada hari Senin ini.” Sementara Aliyudin menuliskan kesannya seperti ini, “Di akhir cerita Max Havelaar ngomong bahwa Max Havelaar itu adalah Multatuli. Kata Max Havelaar, ‘Ya, saya Multatuli (yang telah banyak menunjukan) mengangkat pena!’. Dan di akhir atau menyelesaikan dan namatkan saya dan teman-teman bersama Pak Ubai di Taman Baca Multatuli kami makan bersama”. Bagaimana kesan Nuraenun. Ini dia kesannya, “Teman-teman, reading Multatuli akhirnya selesai juga ya.”  

Pembacaan kedua Max Havelaar dimulai Selasa, 31 Mei 2011. Pertemuan pertama pembacaan kedua yang mengisi buku merah tercatat ada 21 peserta. Kedua puluh satu peserta tersebut, yaitu Nuraenun, Sujana, Radi, Irman, Oom, Unang, Rukanah, Sadah, Suarsih, Suha, Elah Hayati, Sangsang, Asep, Ano Sumarna, Yani, Sanadi, Sujatna, Mariah, Rohanah, Nurdiyanta, dan Aliyudin.

Yani menulis di buku merah, “Hai teman-teman, hari ini Selasa tanggal 31-05-2011 mulai reading group Max Havelaar. Bagi adik-adik yang belum reading dari bab pertama (1) sekarang sudah dimulai. (Semangat reading group Max Havelaar)”. Kesan yang lain, “Teman-teman mulai hari ini reading group Max Havelaar dimulai lagi. Makanya teman-teman yang belum reading dari awal, ikut reading hari ini, OK…?” tulis Aliyudin.

Pada pertemuan ke-78 (tamat kedua), Rabu, 21 Agustus 2013 yang mengisi buku merah ada 20 peserta. Amsor, Irman, Sujana, Siti Nurasiyah, Saep, Yeni, Mamay, Rini, Samnah, Rita, Pameng, Yani, Resti, Susanti, Sumyati, Idayanti, Iis Dahlia, Sadah Padilah, Rukanah, dan Elis.

Sujana mengabarkan khatam kedua ini dengan menulis, “Teman-teman, hari ini kita namatkan Buku MAX HAVELAAR”. Sementara Rita menulis kesannya, “Riding (maksudnya: Reading) Max Havelaar menyenangkan sekali.”

Kesan dan Pesan (2)
Selain peserta dari anak-anak Kampung Ciseel, Cigaclung, Cikadu, Babakan Aceh, dan Cangkeuteuk yang berada di Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten peserta dari luar Lebak juga pernah ada. Ini sedikit dari mereka yang pernah mengikuti reading group Max Havelaar.

Di pembacaan pertama Max Havelaar ada dua orang peserta dari luar Ciseel yang ikut serta membaca Max Havelaar. Siapa dia. Mereka yaitu Suryo Wibowo dan Pram. Mereka datang di pertemuan ke-12 tanggal 8 Juni 2010. Hari Selasa. Ini kesan mereka, “Teman-teman teruskan membaca Max Havelaar! Teruskan semangat kalian!” dan “Kalian semua: HEBAT!!! Banyak baca & menulis, ya…” Suryo merupakan juru foto dan Pram pewarta. Mereka dari Tempo majalah.

Saat pembacaan Max Havelaar kali kedua berlangsung, pada pertemuan kedua, Selasa, 7 Juni 2011 ada tiga orang ikut serta. Satu dari Jakarta dan pasangan suami istri dari Italia. Mas Wid Widodo  dari DAAI TV yang pertama. Carlo Laurenti serta Maria Eleonora Catureali orang kedua dan ketiga.

Mas Wid Widodo sayangnya tak sempat mengisi buku merah. Sore itu selepas ikut membaca Max Havelaar ia kembali ke Jakarta. Sementara Carlo dan Maria tinggal empat hari di Ciseel. Berikut kesan Carlo di buku merah, ia mencatat.

“A most unespected boomerang of my homage to Multatuli in Italian Cultural Institute last week. Now I understand in a new light the mind of Multatuli! It is home the most hidden place that one can look at Europe with different eyes.”

Carlo Laurenti merupakan penerjemah puisi-puisi Lu Xun (188?/1936). Hampir 15 tahun lamanya ia menggeluti puisi-puisi Lu Xun. Selain menerjemahkan puisi Lu Xun. Carlo juga membuat beberapa film dokumenter tentang China dan sastrawan dunia.
Sementara itu Maria Eleonora menuliskan kesannya di buku merah seperti berikut:

“I have come in a far away village, green hills and mountains and paddy fields. I have been roudied by an unfrebeing recital on “MAX HAVELAAR” by Multatuli. Children, boys and girls listening and participating in a still a now always actual story.”

Di bulan Juli masih di pembacaan kedua, pertemuan keempat, Selasa, 12 Juli 2011 ada tiga kawan dari DAAI TV yang ikut membaca Max Havelaar. Vince Rumintang, Bannu Maulana, dan Prayitno. Mereka membuat liputan untuk program Meniti Harapan: Menyerap Semangat Multatuli. Berikut kesan ketiganya.

“Pertama kali menginjakan kaki di Multatuli cuma kaget, ternyata jaraknya jauh dan susah ditempuh. Hanya untuk melihat taman baca di pemukiman warga. Eh… pas liat anak-anak semangat baca, dan tahu tentang Multatuli seneng banget. Malah malu, karena saya tidak tahu banyak soal Multatuli. Teman-teman di Taman Baca Multatuli terus tingkatkan minat bacanya! I Love U all… mmmuah…”

“Keep your spirit an dedication to increase their knowledge. One day they gonna be better then they are now … and it come from you…”

“Buku Max Havelaar wajib dibaca masyarakat Indonesia karena isinya inspiratif dan bisa membangkitkan nasionalisme yang tinggi. Untuk lebih cinta pada negara dan bangsa Indonesia.”

Masih di Juli juga hadir Mbak Nima Sirait dan Mas Sapto Agus. Mereka berdua juga dari DAAI TV. Mereka sedang membuat film dokumenter Rumah Multatuli untuk program Refleksi. Mbak Nima menulis di buku merah.

“Teman-teman Taman Baca Multatuli, kalian sangat beruntung sudah mengenal, membaca, dan mendalami karya sastra sekelas Multatuli di usia yang sangat muda. Manfaatkan fasilitas taman baca ini sebaik-baiknya dengan membaca banyak buku. Buku akan membawa kalian ke tempat mana saja di dunia, menjadikan kalian apa saja yang kalian cita-citakan. Semangat selalu ya…”

Sementara Mas Sapto Agus menulis.

“Sangat mengagumkan melihat semangat kalian. Galilah terus ilmu dari buku yang kalian baca. Kalian boleh berada di tempat yang jauh dan terpencil tapi pikiran kalian akan sanggup keluar dari keterpencilan ini dengan membaca.”
Pertemuan ke-30 pembacaan kedua Max Havelaar juga ada beberapa kawan kru Kick Andy Hope dari Metro TV. Pertemuan ke-30 dilaksanakan pada 10 Maret 2012. Di buku merah terdapat nama-nama: Budiyanto, Sriyanto, Hermawan Prasetyo, Bambang Rakhmanto, Aisy Ilfiyah, Bronto, Kumala Dewi, dan Andika Maryanto. Mereka berkunjung ke Ciseel dari tanggal 9 hingga 12 Maret 2013. Berikut kesan yang terulis di buku merah:

“Melihat anak-anak antusias melakukan RG Max Havelaar di pinggir kali, sangat menyenangkan.”
“Hmmm diajak shooting ke lokasi-lokasi yang mengagumkan + medan yang begitu luar biasa.”
“Hidup sastra and Jas Merah!”
“Saya kalah saing dengan anak-anak Kp. Ciseel, mereka tahu cerita Max Havelaar, saya tidak…”
“Medan RG luar biasa… tapi semangattt….”
“Amazing!”
“Gokillah, pokoknya! Keep reading guys!

Pada pembacaan ketiga kali novel Max Havelaar tepatnya pada Rabu 11 September 2013, di pertemuan pertama itu hadir empat kru dari Bali TV. Salah satunya Mas Juli. Mas Juli dan kawan-kawan sedang membuat dokumenter untuk program Sebuah Pengabdian yang ditayangkan di Bali TV dan Bandung TV. Dokumenter yang mereka buat berjudul; Asa di Kampung Ciseel. Berikut salah satu kesan yang mereka tuliskan di buku merah.

Reading book ‘Max Havelaar’ ini sangat luar biasa dalam arti mampu membantu dan menambah wawasan masyarakat Kampung Ciseel. Dengan kondisi kampung yang terisolir dan kurangnya sarana infrastruktur namun dengan adanya reading book ‘Max Havelaar’ ini setidaknya mampu mengobati hasrat masyarakat khususnya anak-anak dalam hal membaca.”

Pada pertemuan keempat pembacaan ketiga tanggal 7 Oktober 2013 juga datang peserta dari Metro TV mereka sedang membuat liputan untuk program Wideshoot. Selama dua hari mereka mengikuti kegiatan di Taman Baca Multatuli. Saya mohon maaf sebab kesan mereka di buku merah tidak ditemukan. Namun Rukanah—peserta dari Ciseel—sempat menuliskan kesannya seperti berikut.

“Teman-teman hari ini hari Senin. Kita kedatangan tamu 3 orang. Tamu yang gendut itu namanya Kak Ari. Dua temannya lagi aku lupa (Mas Albar dan Pak Malik—penulis). Oh, ya, terima kasih Kak sudah datang ke Taman Baca Multatuli. Kami sangat senang atas kedatangan Kakak ke Ciseel, kampung kami.”

Selasa, 11 Maret 2013 pertemuan ke-18 pembacaan ketiga, ikut membaca Max Havelaar: Wilma van Der Maten. Wilma koresponden dari Radio VPRO NEDERLAND. Sore itu ia duduk bersama membaca Max Havelaar Bab 5. Wilma memberikan kesannya seperti berikut:
“Had a great trip. I will come back. Lebak is so beautiful especially your village. I can imagine your more happy there then in Jakarta. Hope we meet soon again also my best wishes to the Multatuli children. Salam!
           
Pada September 2013 hadir tesis dari Ahmad Subhan yang meneliti aktivitas reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli. Ahmad Subhan merupakan mahasiswa Program Pendidikan Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tesisnya berjudul: “Konstruksi Makna Membaca di Taman Baca Multatuli, Kampung Ciseel, Sobang, Lebak, Banten.”

Merayakan Max Havelaar
Setiap tahun, selama 4 tahun ini di sela pembacaan Max Havelaar, perayaan Max Havelaar dilaksanakan. Merayakan lahirnya novel Max Havelaar di sekitar bulan Mei setiap tahunnya. Max Havelaar terbit sebagai buku pada 14 Mei 1860.
Warga Ciseel dan peserta reading group Max Havelaar juga tetamu datang bergembira. Ada drama Saijah Adinda dengan kerbau sungguhan. Ada pencak silat, debus, qasidah. Ada pembacaan puisi Max Havelaar. Ada tarian dan nyanyian. Ada kesenian gondang dan gegendeh (kesenian memukul lesung). Ada jalan-jalan ke perkampungan Badui. Ada menyusuri jejak Multatuli di Rangkasbitung.
Peserta kegiatan menuliskan pengalamannya selama mengikuti kegiatan yang diberi nama Ciseel Day. Catatan-catatan tersebut lalu dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku sederhana. Catatan kegiatan Ciseel Day 1 Tahun 2011 terkumpul dalam buku Rumah Multatuli: Kumpulan Catatan 2011Menyusuri Jejak Multatuli. Sementara buku kumpulan catatan kegiatan Ciseel Day Tahun 2012 terkumpul dalam buku Ciseel Day 2. Hingga tahun 2014 kegiatan Ciseel Day sudah yang keempat kali. Catatan tahun ke-3 dan ke-4 kegiatan Ciseel Day 2013 dan 2014 dalam proses pembuatan.
Peringatan hari lahirnya Max Havelaar sebaiknya juga dijadikan tradisi yang akan terus diulang pada setiap tahunnya. Juga di tempat yang lain. Ada orang bertanya: mengapa?
Multatuli dan Max Havelaar penting sebagai pengarang, pengarang besar yang secara kebetulan berkebangsaan Belanda. Negeri kecil tempat ia lahir. 2 Maret 1820 di Amsterdam. Mengapa Multatuli dan Max Havelaar harus diperingati. Mengapa tidak memperingati Liebig, Moliere, Schiller, Goethe, Heine, Lamartine, Thiers, Say, Malthus, Scialoja, Smith, Shakespeare, Byron, Vondel ….
Jawabannya, karena di samping kebesarannya sebagai pengarang, Multatuli besar pula sebagai seorang humanis. Multatuli yang menuntuk keadilan bagi rakyat Indonesia. Dialah orang pertama yang mengatakan, bahwa orang Indonesia pun sama manusianya dengan orang kulit putih, manusia dengan segala sifat-sifat dan konsekuensi-konsekuensinya.

Oleh karena itu, ceritaku hanya ditujukan kepada mereka yang mampu meyakini hal yang sulit bahwa di balik permukaan hitam itu ada jantung yang berdenyut-denyut, dan bahwa orang yang diberkahi warna kulit putih dan peradaban yang mengikutinya—yaitu kemurahan hati, pengetahuan perdagangan, agama, kebajikan, dan lain-lain—bisa menggunakan sifat-sifat orang kulit putih ini dengan lebih baik daripada mereka yang kurang diberkahi dalam hal warna kulit dan kecerdasan mental. (Qanita, 2014, hlm. 353) 

Multatuli yang pertama kali berteriak bahwa “Orang Jawa diperlakukan dengan buruk!”, “Orang Jawa dieksploitasi secara berlebihan!”. Multatuli menuntut hak dan keadilan bagi “orang Jawa” bagi bangsa Indonesia. Bagi bangsa “pribumi”. Multatuli melakukan hal tersebut dengan gagah dan penuh keberanian. Ia mengorbankan kedudukan dan karirnya untuk memasuki kehidupan yang bahkan hingga kematiannya penuh kepahitan, kemelaratan, dan penderitaan.
Multatuli jelas menentang penghisapan dan penindasan. Multatuli menuntut kasih sayang, perikemanusiaan, dan pengertian. Meskipun belum kepada terhapusnya penjajahan. Akan tetapi, Multatuli telah berupaya untuk membuka mata dan pikiran dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia serta memberi inspirasi kepada bangsa Indonesia untuk merdeka.
Kepada Multatuli, bangsa Indonesia berutang budi. Karena itu kalau ada pengarang Belanda yang peling dikenal di Indonesia dialah Multatuli. R.A Kartini mendapat pengaruh Multatuli. Juga para pemimpin lainnya.
Lalu, apakah sebenarnya yang diperjuangkan Multatuli? Apakah yang digugat oleh Multatuli?
Multatuli menggugat tanam paksa yang memberi keuntungan berlimpah kepada kaum penjajah. Ia menggugat liberalisme yang saat itu sedang dipropagandakan. Ia menggugat rodi, menggugat permintaan paksa dan korupsi dengan menggunakan jabatan.

“Max mengetahui adanya banyak sarana untuk mendatangkan roti ke Rangkas Bitung tanpa harus membayar; tapi KERJA TANPA BAYARAN, penyakit kanker Hindia itu sangat mengerikan bagi Havelaar.” (Qanita, 2014, hlm. 292)

Di tempat kemiskinan atau bencana kelaparan menciutkan jumlah penduduk, ini dikatakan sebagai paceklik, kekeringan, hujan, atau sesuatu yang lain, dan TIDAK PERNAH KARENA SALAH PEMERINTAHAN.” (Qanita, 2014, hlm. 301)

“Selisih antara uang yang dikeluarkan dan nilai yang mereka peroleh dengan uang itu DIPENUHI DENGAN KERJA PAKSA.” (Qanita, 2014, hlm. 324) 

Multatuli memiliki arti politik penting ke arah timbulnya perubahan-perubahan cara pemerintahan di Indonesia. Meskipun tentang besar dan seberapa jauh pengaruhnya masih dapat diperdebatkan. Tapi di antara kita, bukankah masih teringat kepada Pidato Havelaar di hadapan para pemimpin Lebak, juga petikan-petikan kisah Saijah dan Adinda. Itulah sedikit di antara yang memengaruhi hati dan pikiran kita. Bukankah kesadaran di hati dan pikiran kita timbul dari Multatuli, dari Max Havelaar?

Tentang Max Havelaar
Mengapa namanya Taman Baca Multatuli? Bagaimana caranya memulai membentuk kelompok baca? Mengapa yang dibacanya novel bukan cerpen? Mengapa membaca novel Max Havelaar? Mengapa proses bacanya pelan-pelan? Ini sedikit dari beberapa pertanyaan yang sering muncul. Tentu saja pertanyaan yang sangat wajar dilontarkan.
            Eduard Douwes Dekker, pengarang Max Havelaar telah tinggal di Indonesia selama lima belas tahun. Kenyataan inilah yang menjadi penting diketahui karena masa yang lama menetap inilah yang memberikan kepadanya pokok bercerita yang menggugah perhatian banyak orang. Selain juga menentukan pertumbuhan dirinya sebagai pengarang yang berarti dalam sejarah sastra. Karena tinggalnya di Indonesialah yang memungkinkan pribadinya beserta bakatnya berkembang seperti tercermin dalam karyanya Max Havelaar.
            Pengalaman hidupnya di negeri jajahan dengan berbagai masalah sosial, politik, dan pemerintahan yang mengharubiru jiwanya, serta tempat tinggal yang jauh dari perkembangan sastra yang sudah konvensional di negeri Belanda, telah memberikan kesempatan kepada dirinya dengan corak keseorangannya. Multatuli telah berhasil dengan Max Havelaarnya, karena seperti dituliskan oleh Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), ia telah “tersentuh oleh tenaga cipta yang hebat dan kekal dari lingkungan luas, hutan-hutan lebat, dan rakyat yang terjajah”.
            Max Havelaar merupakan tulisan pertama yang membeberkan kepada dunia mengenai penindasan kolonialisme di Hindia Belanda. Max Havelaar menginspirasi tokoh-tokoh bangsa untuk mengobarkan semangat kemerdekaan, kebebasan, dan keadilan.
            Di dalam Max Havelaar terdapat nilai-nilai antipenindasan, antikorupsi, kemanusiaan yang tinggi, dan perjuangan terhadap persamaan harkat manusia. Di Max Havelaar diksi “korupsi” tampil di saat Havelaar baru saja menerima surat penolakan dari Gubernur Jenderal. Surat tertanggal 23 Maret 1856. Ketika Havelaar tahu bahwa ia akan dipindahkan ke Ngawi. Havelaar menolak pemindahtugasannya tersebut. Ia tahu di Ngawi bupati bertalian keluarga dengan istana Jogja. Havelaar mengenal Ngawi sebab ia pernah dua tahun di Bagelen. Havelaar merasa percuma ke sana ke mari, bekerja seolah-olah ia berkelakuan buruk.

“…… dan, akhirnya, aku tahu bahwa untuk mengakhiri semua penipuan ini, aku tidak bisa lagi menjadi pejabat.” (Qanita, 2014, hlm. 449)

“……dan akhirnya saya sadar bahwa untuk mengakhiri segala penipuan itu, saya harus jangan jadi pejabat.” (Djambatan, 1972, 1973, 1974, 1977, 1981, 1985, 1991, 2000, 2005, hlm. 337, 337, 241, 241, 219, 337, 337, 337, 337)

            Kata “penipuan” (cetak tebal dari penulis) dapat ditemukan pada Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin (Djambatan) dan Ingrid Dwijani Nimpoeno (Qanita). Sementara pada terjemahan Andi Tenri Wahyuni (Narasi) tertulis.
           
“Dan, akhirnya, saya sadar bahwa saya harus berhenti jadi pejabat jika saya ingin mengakhiri semua korupsi ini.” (Narasi, 2008, hlm. 377)
             
            Saya kira tepat apabila terjemahannya menggunakan kata “korupsi”. Seperti juga tertulis dalam terjemahan bahasa Inggris.

“And, finally, I realize that I must not be an official if I’m to put an end to all this corruption.” (Penguin Classics, 1987, p. 310)
           
            Selain tentang kata “korupsi” juga soal penggunaan kata ganti “Saya” dan “Aku” dalam Max Havelaar. Novel Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin yang diterbitkan Djambatan sebanyak sembilan edisi menggunakan kedua kata ganti tersebut secara tepat. Untuk menunjukkan suasana lampau H.B. Jassin menggunakan kata ganti “Saya”. Sementara ketika Multatuli yang bercerita atau di dalam puisi sebagai pernyataan diri maka yang digunakan adalah “Aku”.
Penggunaan kata “Saya” menyiratkan suasana yang berefek lama. H.B. Jassin memilih “Anda” bukan “Kau” atau “Kamu”. Sementara kata ganti “Aku” untuk menyatakan personal dan pernyataan diri. H.B. Jassin menggunakan kedua kata ganti tersebut tidak asal-asalan.
            Pada Max Havelaar terbitan Qanita dan Narasi saya menemukan hal yang sebaliknya. Penggunaan kedua kata ganti digunakan pukul rata. Pada terbitan Qanita kata ganti “Aku” mendominasi. Sebaliknya pada terbitan Narasi kata ganti “Saya” yang digunakan.
           
“Saya adalah makelar kopi, tinggal di Lauriergracht No. 37.” (Djambatan, 1973, hlm. 1)
“Aku makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.” (Qanita, 2014, hlm. 17)
“Saya adalah makelar kopi, dan tinggal di Lauriergracht No. 37, Amsterdam.” (Narasi, 2008, hlm. 11)     
           
dan

“Ya, aku Multatuli, yang telah banyak menderita, mengangkat pena.” (Djambatan, 1973, hlm. 346)
“Ya, aku, MULTATULI, “yang telah banyak menderita”, aku mengambil alih pena.” (Qanita, 2014, hlm. 461)
“Ya, saya, Multatuli, “yang telah banyak menunjukkan”, mengangkat pena.” (Narasi, 2008, hlm. 386)

Ini sedikit tentang mahakarya sastra yang terus dibaca meski usianya kini tak lagi muda: 154 tahun. ***

Depok, 18 Oktober 2014
Ubaidilah Muchtar, pemandu reading group Max Havelaar di Taman Baca Multatuli, Lebak, Banten.

*** Bahan Obolan Pembaca Media Indonesia, Sabtu, 18 Oktober 2014 di Freedom Institut,  kerjasama Penerbit Mizan dan Media Indonesia.
Back To Top