Breaking News
Loading...

Terkini

Wednesday, May 26, 2010
no image

Reading Groups Minggu Ke-9 Novel Max Havelaar



Oleh Ubaidilah Muchtar

Reading Groups Minggu Ke-9 Max Havelaar berlangsung Selasa, 18 Mei 2010. Pukul 16.00 kami memulai proses reading. Minggu yang lalu salah seorang peserta ditinggal ayahnya. Maman Suparman, nama peserta yang minggu lalu ditinggal ayahnya. Ayah Maman meninggal karena darah tinggi. Sehari sebelum meninggal bidan desa mengecek tensi dareahnya. Katanya, tensi darahnya 230. Bidan melarang ayah Maman untuk memakan daging ayam. Namun larangan bidan tidak diikutinya. Ia tak kuasa ketika melihat daging ayam. Maka disantapnya sepotong paha ayam. Meskipun ajal tentu saja bukan dari mematuhi larangan bidan atau dari memakan paha ayam. Tentu saja bukan. Maka sebelum acara Reading Gropus Max Havelaar minggu ini dimulai, aku meminta kepada para peserta untuk berdoa bersama. Berdoa untuk ayah Maman dan keluarga yang ditinggalkannya. Aku memimpin doa dan para peserta mengikuti. Maman cukup aktif mengikuti Reading Groups Max Havelaar. Ia termasuk yang getol membaca. Jika teman yang lain masih berkutat di sekitar melihat gambar ia telah menekuni teks. Kelihatannya ia tidak terlalu memusingkan buku yang sedikit gambarnya. Maman juga pernah cerita kepadaku. Ia ingin sekolah musik. Ia sempat bertanya, "Sekolah apa yang bisa menjadikan musisi?" Maman menyukai musik. Meskipun di sini tentu saja alat musik jarang ditemukan. Selain rebana. Ia ingin belajar gitar. Aku pernah berkata ada seorang kawan yang mau menyumbangkan gitar untuk Taman Baca Multatuli. Ia terlihat senang. Namun siapa yang mau mengajarinya. Hal itu tentu saja dapat diatasi jika sudah ada gitarnya. Kini aku punya janji untuk Maman. Hari ini Maman tidak ikut reading. Di rumahnya masih ada acara pembacaan doa untuk ayahnya yang meninggal Kamis malam. Tenaganya masih dibutuhkan di rumah. Maka aku paham jika ia tidak hadir di acara reading minggu ke-9 ini.

Seusai berdoa aku mengajak peserta untuk membuka bab 7. Ya, kami memasuki minggu ke-9 dan akan memulai membaca bab 7. Di luar masih ada sisa hujan. Sejak tengah hari tadi hujan turun dengan deras. Aku merasa bahwa setiap Selasa hujan turun. Hujan yang turus dengan deras. Hujan yang diikuti tipuan angin kencang. Hujan yang menerbangkan daun-daun. Hujan yang membuat pohon-pohon jengjen sering menderit keras saat batang-batangnya bertemu. Hujan yang terkadang meluapkan air dan menggenangi halaman depan gedung smp dan airnya tiba di beranda kelas. Begitu pula yang terjadi Selasa ini.

Maka ketika hujan mereda dan hari menjadi sore aku bergegas menuju Ciseel. Kini aku telah memegang Max Havelaar dengan mereka para peserta reading duduk melingkar. Kami duduk di ruang tengah. Taman Baca Multatuli menempati ruang tengah di rumah milik Pak RT. Ada dua rak buku di ruangan tengah ini. Satu rak khusus untuk karya Multatuli. Sedang yang satu lagi berisi buku bacaan umum dan majalah anak-anak. Di dinding ruang tengah tergantung lima buah pigura foto Multatuli dan sebuah poster peringatan 150 tahun Max Havelaar dan 100 tahun Multatuli Genootschap—masyarakat pecinta Multatuli di Amsterdam. Di poster tersebut terdapat foto Multatuli sedang memegang dagu dengan beberapa tulisan di antaranya: Lezingentournee Langs Bibliotheken. Di bawahnya tertulis 'Andre dienen den ik te Lebak diende, kan ik niet'. Ada juga tulisan: 15 Mei Symposium: 'De toekomset van Multatuli. Ada juga tulisan: 30 Oktober Boekpresentatie En Symposium: 'Multatuli en de Emancipatie'. Tepat di depan pigura di tembok samping terpasang papan tulis. Papan tulis dengan kapur. Tertulis di sana: Reading Groups Max Havelaar Every Tuesday: 16.00-17.30 Everyone Welcome at any time. Taman Baca Multatuli Ciseel Sobang Lebak Banten. Web: www.readingmultatuli.blogspot.com. Di samping pigura di depan rak khusus karya Multatuli tergantung dua buah caping. Caping lebar dengan warna keemasan berdampingan dengan caping cetok dari bambu. Caping besar biasa disebut 'Parada' oleh warga Ciseel. Kedua caping ini dipakai Saijah dalam perjalanan meninggalkan Badur menuju Batavia. Caping lebar ia kenakan saat perjalanan dari Badur menuju Tangerang. Sementara caping cetok ia gunakan saat perjalanan dari Tangerang menuju Batavia. Rumah yang dijadikan Taman Baca Multatuli memiliki dua kamar. Di langit-langit terpasang lampu neon 10 Watt dari tenaga surya. Tenaga surya yang dialirkan ke dalam aki. Akinya terpasang di atas pintu di salah satu kamar. Rumah ini masih menyatu dengan rumah panjang. Rumah panjang yang terdiri dari 3 kamar berderet. Rumah tersebut dihuni oleh Pak RT. Di bagian dapur dan kamar mandi kedua rumah ini bertemu. Dapurnya masih tradisional. Menggunakan kayu bakar sebagai bahan utama untuk tungku perapiannya. Memasak menggunakan seeng dari tembaga. Di bagian atas tungku terdapat rak-rak untuk menyimpan kayu bakar. Rak itu disebut 'para'. Jika sedang memasak asapnya mengepul keluar. Kayu yang terbakar terkadang mengeluarkan bunga api. Bunga api itu sering disebut 'silalatu'. Suaranya khas kayu terbakar. Tungku itu memiliki dua lubang. Lubang yang besar untuk memasak nasi sedangkan lubang kecil digunakan untuk menggoreng atau memasak air. Aku suka menggoreng tempe atau tahu di lubang tungku kecil. Aku senang duduk di depan tungku jika hujan lebat turun atau setelah pekerjaan memasak selesai. Kami makan bersama. Biasanya selepas Maghrib. Rumah ini selalu ramai dikunjungi. Beberapa orang tua senang berkumpul di rumah Pak RT. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja pengangkut kayu. Mereka memanggul kayu dari Ciseel hingga tepi sungai Ciminyak. Jaraknya sekitar dua hingga tiga kilometer. Setiap kayu yang dipanggul besarannya berbeda-beda. Jika panjangnya enam meter dengan ukuran kayu lima belas kali lima belas diupah sepuluh ribu perbatang. Mereka menyebut potongan kayu dengan kata "balken". Ada juga pekerja penebang yang hadir saat berkumpul. Mereka senang berbincang. Ditemani beberapa bungkus rokok yang disediakan tuan rumah. Paling banyak mereka menghisap rokok "Toppas". Jika mau menyeduh kopi mereka menyeduh sendiri. Minum kopi menjadi kebiasaan utama di kampung Ciseel. Hampir seluruh warga memiliki kopi. Mereka akan dengan cekatan menghidangkan kopi untuk tamunya. Jika tidak ada gula putih maka gula merah pun jadi. Mereka menumbuk kopi sendiri. Mereka menjemur, menumbuk, dan mengayak kopi sendiri. Aku senang bisa ikut duduk bersama. Seminggu ini aku membawa buku-buku cerita dan guguyonan (cerita lucu) bahasa Sunda. Pak RT membawa buku tersebut ke dalam kumpulan para pekerja. Ada yang duduk ada juga yang sambil telungkup. Kami mendengar Pak RT membaca guguyonan. Kami tertawa terpingkal-pingkal. Aku sering mendapat giliran membaca. Mereka senang mendengar cerita-cerita lucu. Hidup mereka sederhana. Terkadang pekerjaan selama seminggu hanya cukup untuk membeli beras. Jika mereka datang berkumpul mereka membawa senter. Di luar gelap. Mereka memakai sarung untuk menahan dingin. Aku juga sering mendengar cerita-cerita tentang kampung Ciseel dan sekitarnya dari mereka. Juga cerita tentang kerbau dan macan. Bahkan saat kusampaikan bahwa aku memiliki kain yang dipakai ikat kepala Saijah mereka dengan senang hati mengajariku cara memakai kain tersebut. Kain ikat kepala berwarna  biru ini disebut rombal. Rombal juga dipakai para jawara di daerah Lebak dan sekitarnya. Menurut mereka kain rombal dapat dipakai dengan dua pilihan. Pertama, cara jawara, yaitu kain digulung, diletakkan di bagian belakang kepala lalu dililit ke depan dan ditarik kembali serta diikat di belakang kepala. Cara kedua dinamakan cara dalang, yaitu cara mengikatnya sama hanya saja ujung kain diletakkan di atas kepala. Cara kedua membuat seluruh bagian kepala tertutup. Sementara cara pertama kepala bagian atas tetap terbuka. Saijah memakainya saat meninggalkan Badur. Sobekan kain itu pula yang menjadi tanda mata untuk kekasinya, Adinda. Adinda ternyata menyimpannya dengan sepenuh cinta. Saat Saijah menemukan Adinda dalam keadaan tanpa busana dan mengenaskan setelah disiksa oleh penjajah Belanda di Lampung, Adinda masih memegang kain tersebut. Sesobek kecil kain biru lusuh menutup luka yang menganga di dada gadis itu, luka yang rupanya mengakhiri pergulatan yang berlangsung lama. Betapa besar kesetiaan Adinda untuk kekasihnya, Saijah.

Aku dan tiga orang teman mendiami rumah Pak RT sejak setahun yang lalu. Pak RT pula yang membantu membuatkan rak untuk buku. Aku selalu meminta izin jika hendak memasang sesuatu. Pak RT bersikap baik. Ia masih muda. Usianya tidak terlalu jauh selisih denganku. Pekerjannya memborong kayu. 

Kami melakukan reading groups dengan duduk melingkar di atas sebuah karpet using. Aku duduk di antara para peserta. Aku membaca paragraph pertama bab 7.
Residen Banten memperkenalkan Regen dan Pengawas pada Asisten Residen baru. Havelaar menyapa kedua pejabat itu dengan hormat. Dengan kata-kata ramah dia membuat Pengawas merasa senang—selalu ada hal yang menyakitkan jika bertemu dengan pimpinan baru—seolah-olah dia ingin langsung menetapkan keakraban yang akan membuat hubungan mereka berikutnya lebih mudah. Pertemuan dengan Regen seperti dalam rangka sedang menyesuaikan siapa yang berhak atas payung emas namun pada saat yang sama menjadi "adik"nya. Dengan keramahan yang bermartabat dia mencercanya atas ketelitiannya yang berlebihan, yang telah membawanya keluar dari dalam cuaca seperti itu ke perbatasan divisinya; karena terus terang, menurut aturan etiket Regen tidak perlu melakukan hal itu. (hal. 108)

Peserta menanyakan apa yang dimaksud dengan paying emas. Aku sampaikan untuk membaca catatan nomor 41 di bagian bawah halaman tersebut. Catatan tersebut menyatakan bahwa menurut adat Jawa, payung emas mengindikasikan tingkatan seorang pemimpin. Payung tersebut biasa dibawa di belakangnya. Warna ini ditentukan oleh aturan resmi. Payung yang disepuh warna terang digunakan oleh pemimpin tingkat tertinggi.

Aku juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan payung emas seperti yang sering ada di upacara adat. Misalnya di acara pernikahan. Biasanya pengantin dipayungi oleh para pengawal. Payungnya berwarna kuning keemasan.

"Ada juga payungnya yang bertingkat-tingkat." Kata Nurdiyanta.
"Ya, itu juga bisa." Kataku.
"Etiket itu apa?" Tanya Pipih.
"Etiket itu aturan kesopanan, aturan sopan santu, tata karma," jelasku.
"Maksud kata 'Adik' itu apa?"
"Adik pada kalimat tersebut maksudnya adalah Asisten Residen nantinya akan berada diposisi seolah-olah menjadi adiknya Regen. Meskipun secara jabatan mereka setingkat sama namun karena pengalaman, usia, dan kekuasaannya, Regen seolah-olah menjadi kakak dalam urusan pemerintahan.


Kubaca paragraf selanjutnya. Paragraf selanjutnya berisi dialog antara Asisten Residen dengan Regen. Pada paragraf yang lain Havelaar juga berdialog dengan Pengawas. Mereka berbicara seolah-olah sudah saling kenal lama. Mereka membicarakan Regen. "Apakah Regen selalu teliti?", "Dia adalah pria berpendidikan, bukan?", "Dan dia memiliki keluarga yang besar?", "Dan, sekarang beritahu saya, apakah banyak orang yang melalaikan pembayaran pajak lahan mereka?" itulah sebagian dari pertanyaan yang disampaikan Havelaar kepada Pengawas Verbrugge yang selalu mengiyakan pertanyaannya. Pengawas sadar bahwa ia tidak harus mengajari Havelaar sebab Havelaar sudah banyak tahu. Termasuk menantunya Regen, Raden Wirakusuma. Kemudian mereka duduk bersama Adipati, Residen, dan Ny. Havelaar. Verbrugge sadar bahwa pandangan Komandan yang menyatakan bahwa Havelaar adalah bodoh itu salah. Verbrugge kini sadar bahwa Havelaar sudah mengetahui dengan baik kondisi Lebak meskipun belum pernah menjejakan kaki di Lebak sebelumnya. Verbrugge tentu saja belum mengerti mengapa Havelaar bergembira atas kemiskinan di Lebak, namun dia meyakinkan diri bahwa dia telah salah mengartikan kata-kata Havelaar. Bagaimana pun saat Havelaar seringkali mengulang kata-kata itu, dia melihat banyaknya kebenaran dan kebaikan dalam kegembiraan itu.


Havelaar dan Verbrugge duduk di meja dan membicarakan hal-hal remeh sambil minum the, mereka menunggu hingga Dongso datang dan member tahu Residen bahwa kuda-kuda baru telah diikat ke kereta. Para penumpang berusaha menempatkan diri senyaman mungkin, dan berangkat. (hal. 112)


Para peserta dengan cepat memahami setiap paragraf. Aku hanya menjelaskan sesekali untuk mengulang kalimat-kalimat yang perlu penekanan. Setting tempat perbincangan antara Havelaar dan Verbrugge serta antara Havelaar dengan Regen bagi peserta terlihat dapat dicerna dengan baik. Aku sampaikan bahwa mereka, para peserta kini telah mulai mengerti dengan bahasanya Multatuli. Kini kusampaikan kegembiraanku ini. Maka kulanjutkan kembali pembacaanku.


Guncangan dan goyangan membuat sulit untuk bercakap-cakap. Max kecil tetap diam dengan sebuah pisang, dan ibunya yang memangkunya, tentu saja menolak untuk mengakui bahwa, dia lelah saat Havelaar menawarkan untuk membebaskan dia dari anak yang berat itu. Selama penghentian paksa di lubang berlumpur, Verbrugge bertanya pada Residen apakah dia telah berbicara pada Asisten Residen baru mengenai Ny. Slotering.
….       
Kereta menghentak keras setelah berhasil keluar dari lumpur, seakan member tanda seru pada pernyataan Tina bahwa bepergian adalah hal mustahil bagi Ny. Slotering. Semua orang mengucapkan "Whoah!" yang biasanya mengikuti hentakan seperti itu; Max menemukan lagi pisangnya yang sempat hilang saat terjadi hentakan di pangkuan ibunya; dan mereka sudah membenahi letak duduk mereka untuk menuju lubang lumpur berikutnya, sebelum akhirnya Residen dapat kembali menyimpulkan kalimat dengan menambah:
"Seorang. Wanita. Pribumi."
"Oh, itu bukan hal penting," ucap Ny. Havelaar mencoba untuk member tahu dia. (hal. 113-114) 

Aku sampaikan kepada para peserta bahwa Havelaar, Asisten Residen baru menggantikan pendahulunya. Pendahulunya bernama Slotering. Slotering meninggal dunia dua bulan sebelum kedatangan Havelaar. Slotering meninggalkan seorang istri dan beberapa anak. Ny. Slotering saat ditinggal oleh Slotering sedang mengandung. Ny. Slotering adalah wanita pribumi. Wanita asli Indonesia. Meskipun suaminya seorang Belanda. Ny. Slotering meminta izin kepada Havelaar untuk tetap mendiami rumah dinas almarhum suaminya hingga ia melahirkan beberapa bulan ke depan. Havelaar dan Tine, istrinya tentu saja membolehkan permintaan tersebut. Rumah yang didiami Ny. Slotering berada tak jauh dengan rumah yang didiami Havelaar. Rumah tersebut mempunyai pekarangan yang luas dan kebun yang luas. Rumah tersebut dibangun oleh Gubernur untuk kepala administrasi divisi. Rumah tersebut kini telah hilang dan kini menjadi RSUD Adjidarmo Rangkasbitung. Meskipun satu bagian dari rumah tersebut masih tersisa.

Paragraf selanjutnya aku baca. Paragraf panjang tersebut bercerita tentang masyarakat Eropa di Hindia Belanda Timur. Masyarakat Eropa di Hindia Belanda Timur dibagi menjadi dua golongan. Pertama orang Eropa asli. Kedua, mereka yang memiliki sedikit banyak darah "pribumi". Golongan kedua ini yang biasa disebut "Liplap" atau anak pribumi yang banyak mendapat sorotan dalam paragraf-paragraf selanjutnya beserta contohnya.

Selanjutnya paragraf bergerak menuju persiapan upacara pelantikan Asisten Residen yang baru. Pelatikan akan dilaksanakan di beranda depan rumah Bupati. Jauh-jauh hari Verbrugge telah memerintahkan kepada Pemimpin Distrik, Patih, Kliwon, Jaksa, penagih Pajak, beberapa Mantri, semua pejabat pribumi harus menghadiri acara itu. Mereka diharuskan berkumpul di ibukota kedivisian, yaitu Rangkasbitung.

Di tempat upacara berlangsung, Residen dan Asisten Residen mengenakan pakaian resmi. Mereka dijamu dengan musik gong dan gemelan. Pemimpin dengan tingkat terbawah duduk di tikar, dalam lingkaran yang lebar, di ujung beranda yang panjang terletak sebuah meja untuk Residen, Adipati, Asisten Residen, Pengawas, dan dua atau tiga pemimpin lain. Ada teh, ada kue. Upacara segera dimulai.

Residen berdiri dan membaca perintah Gubernur Jenderal yang menunjuk Max Havelaar sebagai Asisten Residen Divisi Banten-Kidul (Banten Selatan), para pribumi menyebutnya Lebak. Lalu dia mengambil Pengumuman Resmi yang berisi naskah sumpah pengambilalihan kantor secara umum, yang melampirkan: "bahwa, untuk ditetapkan atau dipromosikan pada tugas…, (orang yang dimaksud) harus berjanji atau tidak memberikan apa pun pada siapa saja, dan juga tidak akan memberi janji atau sesuatu; bahwa dia akan setia dan patuh pada Yang Mulia Raja Belanda; bahwa dia akan mematuhi Perwakilan Yang Mulia di Dominion Hindia Timur; bahwa dia akan dengan tegas mengawasi dan diawasi hukum dan regulasi yang telah atau akan dibuat, dan bahwa dalam segala hal dia akan bersikap baik… (dalam hal ini: Asisten Residen)".
Ini, tentu saja, diikuti dengan sakramen: "Maka bantulah saya Tuhan yang Maha Kuasa". (hal. 119-120)

"Sakramen itu apa?" Tanya Pipih.
"Sakramen itu doa penutup kepada Tuhan." Jawabku agak kurang yakin.
"Regulasi itu apa?"
"Regulasi itu peraturan atau aturan," jawabku pada Pepen.
"Ini sumpahnya?" Tanya Siti Alfiah.
"Ya, ini sumpah jabatan yang diucapkan Havelaar sebagai Asisten Residen Lebak menggantikan Slotering yang meninggal dua bulan sebelumnya." Terangku.


Reading Groups Minggu ke-9 berakhir di saat Havelaar membacakan sumpahnya untuk menjaga masyarakat pribumi dari eksploitasi, tekanan, perlakuan buruk, dan pemerasan. Di paragraf ini kami mengakhiri acara Reading Groups Minggu Ke-9, Selasa, 18 Mei 2010. Aku sampaikan terima kasihku atas kehadiran para peserta. Siang berganti malam. Hewan-hewan siang diganti oleh hewan-hewan malam. Rabu malam ini juga seperti Rabu malam sebelumnya. Di Taman Baca Multatuli sebenarnya ada kawan yang menginap. Namun beberapa minggu ini ia tidak ada. Maka kupastikan semua buku sudah ada di tempatnya. Kurapikan segalanya. Kunyatakan bahwa semua aktivitas ini membuatku merasa lebih berarti. Malam seperti ini di luar hanya gelap. Suara adzan di masjid. Aku berkemas ke sana. Ke asal suara. Aku berharap dia yang jauh di sana selalu baik meski aku tidak tahu benar adanya. Begitu harapanku di tiap siang dan malam. Sebab di sini dunia serasa sunyi. 
no image

Reading Groups Minggu Ke-8 Novel Max Havelaar [lanjutan]



Oleh Ubaidilah Muchtar

Pembaca yang terhormat,
Aku ingin melanjutkan catatan kecilku. Catatan Reading Gropus minggu ke-8 yang sempat terpotong. Sempat tidak aku selesaikan. Kini aku melanjutkannya kembali. Ya, ini kelanjutan catatan Reading Groups minggu ke-8 dari novel Max Havelaar. Novel yang kini usianya 150 tahun. Novel yang di museum Multatuli di Amsterdam sampai tahun 2007 tersedia 59 jilid dengan berbagai bahasa di dunia. Termasuk bahasa kita, Indonesia. Novel yang diusulkan oleh Universitas van Amsterdam untuk dijadikan sebagai warisan dunia. Ini catatanku. Catatan Reading Groups hari Selasa, 11 Mei 2010.
Aku membaca paragraf panjang ini. Keenam belas peserta memegang buku yang sama. Mereka menyimak dengan saksama.
Havelaar adalah seorang pria berusia tiga puluh lima tahun. Tubuhnya langsing dan gerakannya cekatan. Tak ada yang luar biasa dari penampilannya kecuali bagian atas bibirnya yang pendek dan suka bergerak-gerak, dan mata besarnya yang berwarna biru pucat, yang tampak seperti melamun jika dia sedang dalam perasaan tenang, namun menembakkan api jika dia menemukan sebuah ide bagus. Rambut lurusnya tergerai panjang dan lembut di pelipisnya, dan saya sangat memahami bahwa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya akan memperoleh kesan bahwa mereka berhadapan dengan salah satu orang hebat di bumi baik di kepala dan di jiwa. Dia adalah sebuah "perahu kontardiksi". Tajam seperti silet, namun berhati lembut seperti seorang gadis, dia selalu menjadi yang pertama dalam merasakan kepedihan yang ditimbulkan dari kata-kata pahitnya, dan dia lebih menderita akibatnya dibandingkan dengan orang yang disakitinya. Dia cepat mengerti; dia langsung memehami hal yang sangat terhormat dan paling membingungkan; dia gembira jika dapat memecahkan masalah sulit, yang untuk itu tidak diperlukan banyak tenaga, pembelajaran atau kerja keras… Namun seringkali dia tidak memahami sesuatu yang sederhana, anak kecil dapat menjelaskan hal itu padanya. Penuh rasa cinta pada kejujuran dan keadilan, dia seringkali mengabaikan orang terdekatnya, tugas yang paling nyata, dengan maksud untuk meluruskan kesalahan yang terletak lebih tinggi, lebih jauh, atau lebih dalam, dan hal itu mungkin membuatnya butuh usaha besar untuk berjuang. Dia ksatria dan pemberani, namun seperti Don Quixote, sering menyia-nyiakan keberaniannya di kincir angin. Dia terbakar dalam ambisi yang tak terpenuhi, sehingga membuat segala perbedaan dalam masyarakat tampak tidak penting baginya, lagi pula dia berpikir bahwa kebahagiaan terbesarnya terletak dalam ketenangan, kehidupan rumah tangga yang terasing. Seorang penyair dengan perasaan tertinggi atas kata, dia memimpikan sisitem matahari dari sebuah percikan, mengisinya dengan makhluk ciptaannya, merasakan dirinya sebagai pemimpin dari dunia yang dia wujudkan sendiri… lalu, segera setelah itu dia benar-benar mampu melanjutkan, tanpa khayalan sedikit pun, sebuah percakapan mengenai harga beras, aturan tatabahasa, keuntungan ekonomis dari peternakan di Mesir. Tidak satu pun pengetahuan yang asing baginya. Dia meramalkan apa yang tidak dia ketahui, dia memiliki panca indera tingkat tinggi untuk menerapkan hal kecil yang dia ketahui—semua orang tahu namun hanya sedikit saja, dan dia, meskipun mengetahui lebih banyak dari orang lain, bukan pengecualian terhadap aturan ini—menerapkan hal kecil yang dia ketahui dengan cara yang akan melipatgandakan ukuran pengetahuannya. Dia akurat dan teratur, lagipula sangat sabar; namun semua itu adalah disiplin diri—keakuratan, kedisiplinan, dan kesabaran tidak begitu saja ada pada dirinya, karena dalam benaknya ada kecenderungan untuk berfoya-foya. Dia lambat dan berhati-hati dalam menilai, meskipun dia tidak menunjukkannya saat dia menyatakan kesimpulannya dengan cepat. Keyakinannya sangat jelas untuk dinilai orang sebagai sesuatu yang kekal, dan lagi dia sering membuktikan bahwa kepercayaan itu kekal. Segala sesuatu yang hebat dan mulia, menarik perhatiannya, dan pada saat yang sama dia juga sesederhana dan senaif anak kecil. Dia jujur, terutama saat kejujuran berubah menjadi kedermawanan, dan bersedia melupakan hutang sebesar ratusan gulden karena dia telah mendermakan ribuan gulden. Dia jenaka dan menghibur saat dia merasa leluconnya dipahami, namun bila tidak dia kasar dan membatu. Hangat pada teman-temannya, dia—terkadang terlalu bersedia—berteman dengan mereka yang menderita. Dia senditif terhadap cinta dan perhatian…jujur dengan perkataannya, sekali diucapkan… tunduk terhadap hal-hal kecil, namun teguh pada sikap keras kepala bila dia anggap berguna untuk menunjukkan karakter… rendah hati dan penolong terhadap orang-orang yang mengakui keunggulan mentalnya, namun penuntut saat mereka mencoba memperdebatkannya… terus terang keluar dengan rasa bangga, dan diam tak menentu ketika dia khawatir ketulusannya dianggap sebagai ketololan… ketika terpengaruh dengan hawa nafsu mengenai kesenangan rohani… pemalu dan kaku ketika dia mencoba menjelaskan hal yang tidak dipahami mengenai dirinya, namun pandai berbicara ketika dia merasa bahwa kata-katanya jatuh di tanah yang subur… melempem ketika tidak didesak oleh dorongan hatinya, namun antusias, bersemangat jika begitu… Terakhir, dia ramah, berkelakuan baik, dan suci dalam perilakunya: itulah, kurang lebih, Havelaar! (hal. 101-103)
Aku sampaikan deskripsi Havelaar ini dengan pelan. Ini paragraph yang panjang. Maka harus kubaca dengan pelan. Sebab aku tak yakin jika kubaca dengan cepat para peserta dapat menyimak dengan baik. Maka kubaca dengan pelan saja. Aku berharap dengan kubaca pelan maka pemahaman setiap kalimatnya akan lebih mudah bagi para peserta. Tentu saja mereka belum menguasai semua kosakata pada paragraph tersebut. Tanpa kupersilakan untuk mulai diskusi dan bertanya, beberapa di antara mereka sudah melayangkan beberapa kata yang tidak dipamaninya.
"Cekatan itu apa?" Tanya Sanadi
"Cekatan itu terampil, bekerja dengan cepat, lawan dari kata lamban."
"Oh, jadi Havelaar orangnya langsing dan kerjanya cepat?"
"Iya."
"Mata besarnya yang berwarna biru pucat, yang tampak seperti melamun jika dia sedang dalam perasaan tenang, namun menembakkan api jika dia menemukan sebuah ide bagus. Maksudnya apa?" Tanya Pepen.
"Maksudnya kalau perasaannya sedang tenang, matanya terlihat seperti melamun. Nah, jika ia sedang menemukan ide maka akan terlihat senang atau semangat atau cingeus?" jawabku.
"Ide itu apa?" Tanya Jajat.
"Ide itu gagasan, pikiran, temuan." Jelasku
"Tergerai?"
"Tergerai artinya jatuh. Seperti rambut."
"Pelipis?"
"Pelipis itu ini." aku menunjuk ke pelipis. "Bagian kepala dekat jidat. Adanya di samping."
"Dia berhati lembut seperti seorang gadis." Kubaca kalimat tersebut. "Hati gadis itu lembut ya?"
"Ye…..!!!!" kata Pipih, Anisah, dan Sumi bersamaan.
Aliyudin dan Pendi serta peserta laki-laki yang lain menggoda Pipih.
"Perahu kontradiski itu apa maksudnya?" Tanya Pepen lagi.
"Maksudnya di dalam diri Havelaar ini terdapat hal-hal yang terlihat saling bertentangan. Kontradiski itu artinya berlawanan, bertentangan, beradu seperti ada tajam seperti silet namun lembut seperti hati seorang gadis."
"Seperti Don Quixote, sering menyia-nyiakan keberaniannya di kinicir angin. Itu apa maksudnya?"
"Wah, nanti Pak Ubay cari dulu maksudnya ya untuk yang ini!"
Aku mengulang lagi bagian-bagian yang mendeskripsikan Havelaar untuk lebih memahamkan mereka. Maka kami pun berkutat agak lama di paragraph panjang ini. Setelah dirasa paham dan tidak ada pertanyaan, aku melanjutkan kembali membaca paragraf selanjutnya. Paragraf selanjutnya mengemukakan tentang makna "kurang-lebih" dalam mendeskripsikan sosok Havelaar. Penulis menyatakan bahwa ia merasa gambaran tentang Havelaar ini sangat tidak lengkap. Kesulitan ini sering tampak dari kebiasaan para novelis yang dengan mudah membuat pahlawan dalam novelnya setan dan malaikat. Hitam dan putih sangat mudah dilukiskan sementara menerangkan atau menirukan warna yang terletak di antara kedua warna itu sangat sulit. Satu hal yang pasti menurutnya bahwa Havelaar bukanlah pria biasa.

Paragraph selanjutnya bercerita tentang pengalaman. Ya, pengalaman. Menyombongkan pengalaman telah menjadi hal biasa yang menggelikan. Kejadian-kejadian penting dapat memberikan pengaruh kecil atau tidak sama sekali pada tipe pembawaan seseorang. Selanjutnya disinggung tentang novel Robinson Crusoe; My Prisons oleh Silvio Pellico; karya memikat Saintine Picciola; perjuangan dalam dada seorang "perawan tua", yang di sepanjang hidupnya mencintai seseorang tanpa pernah mengkhianati dengan sepatah kata pun tentang apa yang terjadi di dalam hatinya.

Havelaar memiliki emosi yang tetap muda meski di Indonesia usia tiga puluh lima tahun tidak dapat dikatakan muda lagi. Dia dapat bermain layang-layang dengan anak kecil. Dia bermain loncat kodok. Dia menggambar motif bordir dengan anak perempuan. Dia bahkan memegang jarum (menyulam, membuat bordir) dengan senang hati.

Aku membaca paragraph terakhir bab 6. Ini dia paragraph yang kumaksudkan.
Babu yang dia bantu keluar dari kereta, mewakili semua babu di Hindia Timur ketika mereka sudah tua. Jika Anda mengenal pelayan sejenis ini, maka saya tidak perlu memberitahu seperti apa tampangnya. Dan jika Anda tidak tahu, saya tidak bisa memberitahu. Hanya ada ini yang bisa membedakannya dengan perawat wanita lain di Hindia… bahwa pekerjaannya sangat sedikit. Karena Ny. Havelaar merupakan teladan dalam mengasuh anak, dan apa saja yang harus dilakukan untuk atau dengan Max Kecil dia lakukan sendiri, hal yang sangat menakjubkan bagi wanita lain, yang tidak setuju seorang ibu menjadi "budak bagi anaknya". (hal107)
Beberapa peserta tertawa kecil. Terutama dengan kalimat "Jika Anda mengenal pelayan sejenis ini, maka saya tidak perlu memberitahu seperti apa tampangnya. Dan jika Anda tidak tahu, saya tidak bisa memberitahu."
"Lucu," kata Pipih. "Katanya jika kita tahu, maka ia tidak memberitahu. Tapi jika tidak tahu malah tidak diberitahu."
"Nyonya Havelaar ini rajin ya." Kata Dedi Kala.
"Iya. Ia mau mengerjakan banyak hal untuk anaknya. Ia tidak mengandalkan babu. Ia tidak menyerahkan semua kebutuhan anaknya pada pembantunya. Bahkan pembantunya malah sedikit pekerjaannya. Ia menentang sebagian pendapat yang mengatakan bahwa mengurus anak itu repot dan capek. Hanya menjadi budak saja bagi anaknya. Ia justru mau menjadi budak bagi anaknya." Jelasku.
Kami selesai bab 6 sebelum gelap menyergap. Aku sampaikan terima kasih atas kehadiran mereka. Aku mempersilakan para peserta memakan makanan yang aku bawa. Kami berbicara sambil menikmati makanan ringan. Aku meminta mereka untuk mengisi daftar hadir Reading Groups sepeti biasa. Mereka menuliskan kesan dan pesannya. Aku sampaikan beberapa pesan mereka.

-          Saya Minong baru kali ini say abaca buku ini ternyata mantab. (Minong)
-          I Love riding grup. (Johar)
-          Saya suka baca buku Max Havelaar. (Andi Suhandi)
-          Saya sangat kagum atas kedermawanan Max Havelaar (Pipih Suyati)
-          Saya suka sama buku ini tapi saya tidak suka sama Adipati Karta Nata Nagara. (Dedi Kala)
-          Teman-teman ayo kita baca-baca di Taman Baca Multatuli. Jangan lupa yah, membaca Multatuli itu setiap hari Selasa. (Sujatna)
-          Teman-teman ikutilah readingmultatuli. Reading Groups Max Havelaar. (Sumi)
Aku menutup Selasa ini. Di luar gelap mulai datang menyergap. Sunyi. Suara hewan malam terdengar jelas. Kodok dan jangkrik ramai bersuara. Angin bertiup melambaikan spanduk di depan Taman Baca Multatuli. Aku bersiap menuju Maghrib. Seekor katak meloncat dari dapur. Di tungku perapian (hawu) kubakar plastik bungkus makanan. Kuambil air di bak. Kubasuh wajah. Kualamatkan doaku. Kusampaikan permohonanku. Semoga semua berjalan dengan baik. Itu saja.
Friday, May 21, 2010
no image

Mencoba Mencari Jejak Multatuli [Bagian 2]


Oleh Ubaidilah Muchtar

Rabu ini, 3 Maret 2010. Niatnya mau bergerak lebih pagi. Namun, apa mau dikata. Beberapa tugas sekolah menjegalku. Ini memang bagianku. Membuat proposal dan hal tulis-menulis. Sementara sarana begitu terbatas. Maka jika ada waktu untuk menyelesaikan proposal dan mengeprintnya tak akan disia-siakan. Seperti juga Rabu ini. Maka genset kunyalakan. Laptop kubuka. Kutuntaskan tugasku.
Saat azan Dzuhur selesai pekerjaan usai. Dengan sedikit berlari, aku menuju Taman Baca Multatuli. Bersiap dan merapikan perbekalan. Hari ini tujuanku mengunjungi Pendopo Kabupaten Lebak. Lokasinya di kompleks Pemerintah Kabupaten Lebak. Menurut informasi, di pendopo disimpan foto-foto Multatuli. Tepatnya di ruang makan.
Bebukitan hijau sepanjang Sajira. Tak banyak kendaraan melintas. Hanya sesekali saja. Jalan berkelok-kelok. Tebing dan jurang di sepanjang jalan. Terkadang serasa dekat dengan awan karena berada di ketinggian. Kadang menukik tajam. Tikungan tajam. Melihat ke kiri dan kanan. Sepanjang mata memandang. Hamparan pohon-pohon hijau. Sajira begitu sunyi meski di siang hari. Selepas Sangiang, rumah-rumah terlihat mulai padat.
Memasuki wilayah Kopi, melewati pohon sawit berbaris rapi. Jalanan makin mulus. Kupercepat langkah kendaraanku.Tiba di pertigaan Terminal Curug. Berbelok ke kiri. Melewati komples dinas pendidikan. Jalan dua lajur. Tiba di pertigaan Ona, berbelok ke kiri melewati balong [kolam]. Tiba di depan kompleks Pemerintah Kabupaten Lebak. Disambut gerimis yang turun pelan-pelan.
Sehabis berbenah. Merapikan helm dan kawan-kawannya. Melipat karet ban. Mengeluarkan tas dari boks plastik yang bertengger di jok. Aku memasuki gedung baru. Kantor Sekda Kaupaten Lebak. Aku berjalan di lorong yang bersih. Setelah bertanya, aku temukan ruang bagian umum. Tujuanku Pak Wahyu. Di dalam beberapa orang terlihat sedang berbincang Salah satunya mengenakan sapari dengan papan nama di dada. Kubaca, Pak Epi namanya. Aku bertanya padanya. Ia katakan, Pak Wahyu sedang ke luar. Aku sampaikan maksudku. Meminta ijin untuk masuk pendopo. "Pendopo sedang direnovasi," kata Pak Epi. "Jika mau melihat foto-foto Multatuli, coba cari di arsip," lanjutnya.
Aku tanyakan di mana letak arsip. Ia memberi petunjuk. Tak lama menunggu. Aku begerak menuju arsip.
Tiba di arsip. Bangunannya kecil. Terpencil. Terjepit di antara bangunan-bangunan yang lebih besar. Letaknya di pojok bagian selatan di kompleks pemkab Lebak. Di bagian depan lantai I bangunan arsip aku sampaikan tujuanku ke seorang ibu yang menunggu meja. Mungkin bagian resepsionisnya. Aku dipersilakan menuju lantai II. Melewati tangga yang tak begitu lebar. Aku tiba di lantai II yang sempit. Di lantai II ini aku bertemu Pak Maman, Pak Bunyamin, dan tiga orang staff. Pak Maman dan Pak Bunyamin sudah berumur. Sedang ketiga staffnya seumuran denganku. Mereka ramah. Menjawab yang kutanyakan bahkan dengan senang hati memperbolehkan aku mengambil foto.
Panjang lebar berbicara dengan mereka. Di luar hujan turun dengan deras. Menurut Pak Maman, bekas rumah Multatuli yang berada di bagian belakang RSUD Adjidarmo akan dibangun perpustakaan Multatuli. Perpustakaan yang akan didanai pihak Belanda. Akan menempati lahan sekira 850 meter. Nantinya akan ada perpustakaan, kantin, taman, dan fasilitas lainnya. Pembangunannya akan menggusur sebagian dari kamar mayat RSUD Adjidarmo. Seharusnya rencana itu sudah rampung April mendatang. Bertepatan dengan 150 tahun Max Havelaar. Namun rencana itu belum terlihat hingga kini. Salah satu yang menjadi perdebatan hingga saat ini mengenai boleh tidaknya ada patung Multatuli.    
Pak Bunyamin mempersilakan aku untuk mengambil foto. Foto-foto yang kuambil tak lain adalah foto-foto Multatuli. Foto-foto Multatuli yang ada di bagian arsip terdiri dari beberapa foto Multatuli, foto tas Multatuli "Si Jimat", foto tugu Multatuli, foto rumah Multatuli di Bogor, foto globe milik Multatuli, foto kunci Multatuli, foto piring Multatuli, foto rumah Multatuli. Saat ditanyakan di mana kini benda-benda dalam foto tersebut, Pak Bunyamin menggelengkan kepalanya. "Hanya ini yang ada," jelasnya.
Kuucapkan terima kasih. Kuturuni tangga bagian arsip. Kuikuti saran Pak Maman, menurutnya bangunan rumah bekas Multatuli yang sudah dihancurkan untuk pembangunan RSUD Adjidarmo itu sama dengan bangunan yang ada di belakang pendopo kabupeten. Kulangkahkan kaki. Menuju bagian belakang pendopo yang sedang direnovasi. Terlihat pekerja sedang mengecat dinding dan memasang plafon. Jepret, jepret. Kuambil foto. Saat asyik mengambil foto, datang petugas berbaju sapari hitam. Melihat pakaiannya, ia ajudan bupati. Ia memintaku untuk secepatnya meninggalkan lokasi. "Bapak sedang marah. Cepat pergi!" katanya. Sengaja kuperlambat pengambilan gambar. Ia tampak tak sabar. Aku mundur. Ia sibuk dan terlihat bingung. Kesibukan memang tampak.
Hujan meninggalkan basah. Aku bergerak meninggalkan Lebak. Malam merayap melewati jalanan yang kulalui.

Monday, May 17, 2010
no image

Reading Groups Minggu Ke-8 Novel Max Havelaar



Oleh Muchtar Ubaidilah

Tengah hari lebih sedikit kira-kira pukul setengah satu aku pulangkan siswa kelas tujuh dan delapan. Sejak pukul setengah dua belas tiga orang teman guru sudah pulang. Bu Iis, Bu Dian, dan Pak Aang namanya. Kini aku tinggal sendirian. Jam terakhirku di kelas tujuh. Dua jam terakhir hari ini aku meminta anak-anak untuk menulis halus. Menuliskan peribahasa "Gajah mati di pelupuk mata tak kelihatan, semut mati di seberang lautan terlihat jelas". Beberapa anak-anak kelas tujuh memang senang menulis halus. Aku mengetahuinya setelah satu tahun ini kuperhatikan. Mereka suka ketika dua jam terakhir hari Selasa seperti kali ini tiba. Mereka memintaku untuk menulis halus. Maka menulis halus di hari Selasa ini menjadi kegiatan rutin. Aku selalu menyiapkan penggaris kayu. Penggaris kayu itu kugunakan untuk membuat enam garis di papan tulis. Jika aku lupa, anak-anak kelas tujuh selalu mengingatkanku. "Pak, menulis halus!"

Saat mereka menulis halus, aku merasa mereka lebih tenang. Kini tulisan mereka makin bagus. Tangan mereka lebih terampil. Aku yakin mereka akan belajar lebih bersabar. Aku meminta mereka untuk menuliskan peribahasa tersebut lima kali banyaknya dan satu kali untuk artinya. Sebagian dari mereka sudah memiliki buku tulis sambung sementara lainnya belum. Bagi yang belum memiliki mereka dengan suka rela membuat garis-garis terlebih dahulu. Mereka dengan senang hati melakukannya. Mereka suka menulis halus.

Langit di atas sekolah cerah. Namun tidak dibagian yang lain. Kulihat mendung menggelayut. Awan gelap menunggu turun. Gunung Menir di belakang sekolah tertutup kabut. Anak-anak kelas delapan gelisah. Aliyudin dan Pendi nongol di pintu kelas tujuh. "Pak, pulang!" Aku mengangguk pelan. Aku menuju kelas delapan yang hanya dipisah dengan pintu. Kelas tujuh dan delapan disambungkan dengan pintu. Aku sering mengajar di dua kelas secara bersamaan. Jadi aku bisa bolak-balik di antara kelas tersebut. Anak-anak kelas delapan membaca doa. Doa sebelum yang dibacanya pernah kuajarkan waktu bulan puasa tahun lalu. Waktu itu ada semacam pesantren Ramadhan. Waktu itu aku mengisinya. Aku juga mengajarkan doa. Doa yang dibaca menjelang pulang sekolah. Aku menunggu mereka berdoa. Mereka membaca surat Al-Ashr lalu membaca doa untuk kedua orang tua lalu membaca doa bepergian dan membaca doa akhir pertemuan. Aku menuju pintu dan memberikan tangan. Mereka ingin segera pulang. Sejak pukul enam atau tujuh pagi perut mereka tak diisi makan atau minum. Aku pernah meminta mereka membawa bekal makan atau minum. Namun tidak semua melaksanakannya. Mereka memang terbiasa. Tapi aku terus mengingatkan. Sebagian kini kulihat ada yang membawa bekal makan dan minum.

Kelas delapan sudah pulang. Aku kembali ke kelas tujuh. Mereka sudah selesai menulis halus. Aku meminta mereka untuk menunjukkan hasil pekerjaannya. Setelah terkumpul mereka membaca doa. Doa sebelum pulang. Doa yang sama yang dibaca kelas delapan. Kelas tujuh sudah pulang. Maman bertanya padaku, "Pak hari ini ada reading?" Kuiyakan pertanyaan Maman.

Aku menuju warung teh Piah. Letaknya lebih tinggi dari sekolah. Menuju warungnya berarti melewati gedung SD dan lapang sepak bola. Warungnya terletak di atas lapang sepak bola. Aku meminta digorengkan telur. Kulihat teh Piah kesulitan sebab sedang menggendong Lena, anaknya yang sedang rewel. Topik, kakanya Lena melayani anak-anak kecil yang membeli makanan kecil. Topik tahun ini lulus SMP. Aku meminta untuk menggoreng telur sendiri. Aku terbiasa melakukannya. Maka kuambil penggorengan dan kunyalakan tungku perapian. Kumasukan potongan kardus dan nyala api pun mengenai kayu. Asap mengepul dari tungku tanah. Asapnya terkadang menyesakkan napas. Aku duduk di atas bale-bale bambu. Rumah Topik seperti rumah-rumah kebanyakan. Beratap kirai beralas bambu berdinding bambu juga. Aku menyiapkan telur dan mengocoknya di mangkuk. Kugoreng telur. Aku makan ditemani Topik. Topik Ahyani nama lengkapnya.

Langit makin gelap kulihat. Tanda hujan lebat akan turun. Guru-guru SD tidak ada di tempat. Biasanya aku melihat ada guru SD yang tinggal. Hari ini tidak ada. Gedung SD dan SMP berdampingan. Gedung SD letaknya lebih tinggi daripada gedung SMP. Tadi sehabis makan aku minta dua liter bensin. Bensin ini akan kupakai untuk menyalakan mesin genset. Mesin genset disimpan di gudang. Gudang letaknya dekat lapang sepak bola. Selain genset di gudang juga disimpan alat-alat peraga sains. Sayang alat-alat peraga ini belum pernah dipakai.

Kutarik tali untuk menjalankan genset. Genset menyala. Bau asap mesin memenuhi ruangan. Ruangan yang tidak terlalu besar ini. Aku menutup pintu gudang setelah menyambungkan genset dengan instalasi yang menghubungkan ke ruang guru. Suara gemuruh terdengar dari Gunung Menir. Kulihat di atas Gunung Menair begitu gelap. Hujan deras bergemuruh. Kupercepat langkah menuju ruang guru. Di sini aku sendiri. Menyalakan laptop dan menyambungkannya dengan gunungan kabel yang tertancap pada stopkontak. Aku memulai menulis saat hujan tiba di atas ruangan. Suaranya bergemuruh. Hujan dibarengi angin yang bertiup kencang. Aku mengambil ember. Ember kusimpan untuk menampung air. Tadi sebelum kunyalakan genset aku sempat ke kamar mandi dan tidak ada air. Aku mengambil air wudhu dari ember bekas cat. Aku bertemu Tuhan di samping meja-meja.

Kulanjutkan menulis. Aku sedang menyelesaikan catatan reading groups minggu ketujuh. Aku berencana menyimpannya di blog reading multatuli. Aku ingin menyelesaikannya hari ini sebab besok saat aku turun gunung aku akan mampir di warnet di Cipanas. Hujan masih turun dengan deras. Deru angin masih kudengar. Aku menyelesaikan tulisan. Langit gelap. Kini pukul dua siang tapi rasnya hendak malam saja. Aku teringat dua jam ke depan harus reading namun hujan belum juga reda. Aku akan menunggu hingga hujan reda. Aku tak yakin jika harus memaksa pulang. Dari sekolah menuju Taman Baca Multatuli sekitar satu kilometer jauhnya. Melawati sawah dan kebun. Aku harus membawa dua tas. Maka kuteruskan menulis. Pegal menulis, aku memeriksa tulisan halus anak-anak kelas tujuh.

Jam di dinding menunjukkan pukul tiga. Hujan belum juga reda. Kututup laptop. Kuberlari ke gudang. Kumatikan genset. Aku kembali ke ruang guru. Kugelar karpet. Aku ingin tidur sebentar sambil menunggu hujan reda. Namun serasa makin deras saja. Butiran hujan menimpa genting. Aku tertidur namun dalam tidurku tidak nyenyak. Aku selalu terbangun.

Air hujan tak lagi menimpa genting. Kulihat dari jendela. Hujan sudah tidak lagi turun. Hujan telah reda. Aku bereskan karpet dan bantal. Bantal yang sudah tidak berupa. Kurapihak juga laptop. Laptop milik sekolah. Kupastikan ruang guru terkunci. Klik, gembok kurapatkan. Ruangan ini memang tidak memiliki kunci. Hanya gembok kecil. Sepi di luar. Sepi sekali. Di depan sekolah air menggenang bercampur dengan lumpur merah. Kususuri jalan pulang. Jalan menuju kampung Ciseel. Menuju Taman Baca Multatuli. Di depan MI Al Hidayah kulihat Jajat, Pepen, dan beberapa anak bermain lumpur. Seluruh tubuhnya penuh dengan lumpur. Tampak kambing-kambing sedang merumput. Mereka bermain lumpur sambil menggembala kambing. Di pinggir jalan ada tumpukan kayu bayu bakar. Kayu bakar yang akan mereka bawa pulang. Pepen dan Jajat menggiring kambingnya pulang. Bau bunga kecubung menyeruak di pinggir jalan. Di pinggir hutan kudengar suara air bergemuruh. Di sawah kudengar suara mendentum. Ternyata suara itu berasal dari kaleng yang terpukul saat air penuh. Air dari pancuran yang mengarah ke sawah. Bunyinya, Tung...Tung...Tung....

Pepen membersihkan badan di pancuran di pinggir jalan. Aku meninggalkannya. Tiba di Taman Baca Multatuli kusimpan dua tas yang tadi bertengger di punggung dan di pinggang. Kubersihakan badan dan Ashar. Kulihat jam di dinding rumah kang Syarif di ruang sebelah menunjukan pukul setengah empat. Aku menuju rumah Pak Buhadi. Aku menuju ke rumahnya untuk mengambil tudung cetok (caping). Pak Buhadi pintar membuat anyaman-anyaman dari bambu. Di rumah Pak Buhadi aku diberi air nira yang diambilnya dari wajan besar. Rasanya manis berbau asap. Ia juga menunjukan cetakan gula merah.
Di Taman Baca Multatuli sudah banyak yang datang. Novel Max Havelaar sudah di tangan mereka. Kusampaikan terima kasih atas kehadirannya. Pepen yang tadi berbalut lumpur sudah bersih. Pipih, Sumi, dan Anisah wangi sekali. Mereka rajin mengikuti reading Max Havelaar. Aliyudin, Andi, Pendi, Sanadi, Nurdiyanta, Herman, Maman, Ajis, Dede, dan dua anak lainnya sudah memegang novel. Aku memegang satu. Minggu ini kami berenam belas akan menyelesaikan bab 6. Aku mengulang pembacaan minggu sebelumnya. Aku sekedar mengingatkan saja. Pendi terus memainkan caping kuminta untuk lebih fokus. Kumulai pembacaan bagian yang mengisahkan kehidupan Havelaar di Lebak.

"Dengan sopan dia mengulurkan tangannya pada seorang wanita, untuk membantu dia turun dari kereta; dan ketika wanita telah mengambil seorang anak, bocah kecil berambut lurus berusia sekitar tiga tahun, dari seorang laki-laki yang masih duduk di dalam, mereka memasuki pendopo. Setelah mereka turunlah pria kedua yang baru saja diceritakan, dan orang-orang yang cukup mengetahui Jawa akan menyadari adanya keanehan dari fakta bahwa, dia menunggu di pintu kereta untuk membantu seorang babu tua Jawa ke luar. Sementara, tiga pembantu lainnya telah melepaskan diri dari lemari kulit mengkilat yang  terikat di belakang kereta seperti tiram muda di punggung ibunya." (Hal. 97-98)

Aku akan katakan bahwa saat menulis catatan ini aku mengalami kesulitan. Entah apa yang sedang terjadi padaku. Tapi aku akan berusaha melanjutkannya.
Setelah membaca paragraf tersebut aku menyadari bahwa kereta yang mereka tumpangi ternyata ada gandengannya. Aku katakan pada para peserta. Bocak kecil yang dimaksud tentunya adalah Max Kecil. Dalam kehidupan sesungguhnya bernama Edu.
Kulanjutkan pembacaan. Paragraf berikutnya menyatakan bahwa yang turun pertama dari kereta itu tidak lain adalah Tuan Slymering, Residen Banten, daerah luas di mana Lebaj menjadi divisinya, kabupaten, atau, secara resmi disebut Asisten Residensi. Paragraf selanjutnya menceritakan ketidak sukaan penulis terhadap banyak penulis yang sering tidak hormat terhadap selera para pembaca. Hal ini terutama saat mereka mau menampilkan sesuatu yang menghibur dan merupakan parodi, bukannya lucu, sebuah kelebihan yang sering membuat orang bingung membedakannya dengan jenaka dalam bentuk terburuk.

Beberapa kalimat aku jelaskan. Di paragraf ini para peserta bertanya sebab banyak kata-kata yang tidak dipahaminya. Kata-kata tersebut seperti: parodi, lucu, jenaka, komedi, idiot, lelucon, retorika. Aku menjelaskan kata-kata tersebut. Selanjutnya kubaca paragraf panjang yang menjelaskan tentang cara berbicaranya Tuan Slymering. Tuan Slymering yang saat berbicara terlihat ganjil. Gaya bicara residen ini seperti menjilat.
Paragraf selanjutnya paragraf yang juga panjang. Paragraf yang mendeskripsikan Ny. Havelaar. Ny. Havelaar (Tine) digambarkan sebagai sosok yang tidak cantik, namun caranya memandang dan berbicara memiliki sesuatu yang sangat menyenangkan. Sikapnya tidak menunjukan kejumawaan. Ia santai namun tidak kaku saat masuk ke dalam kelompok para petinggi. Dia bukan seperti sikap sopan kelas menengah yang kaku dan tidak mengenakkan. Di deskripsikan juga caranya berpakaian dengan panjang lebar. Ia mengenakan pakaian sederhana. Baju dari kain muslin putih, dengan korset biru. Pakaian ini di Eropa disebut peignioir. Peignoir adalah pakaian bepergian. Di lehernya terbelit pita sutra tipis yang terhubung dengan dua liontin kecil. Rambutnya ditata ala chinoise (gaya Cina) dengan setangkai melati di kondenya.
Wah, deskripsi yang bagus! Peserta menanyakan kata-kata seperti liontin, ala, dan konde. Aku menjelaskannya. Selanjutnya deskripsi yang panjang tentang Havelaar. Ya, Havelaar Asisten Residen Lebak yang baru. Havelaar dideskripsikan sebagai pria berusia tiga puluh lima tahun. Tubuhnya langsing dan gerakannya cepat.
Sudah aku katakan aku kesulitan menulis catatan ini. Catatan reading groups minggu ke delapan novel Max Havelaar, Selasa, 11 Mei 2010. Maka aku memohon maaf jika catatan ini aku tutup sampai di sini. Aku ingin melanjutkannya di lain waktu. Aku berjanji. Jika aku lupa mohon pembaca mengingatkannya. Aku tidak tahu sepertinya ada yang membelenggu kepalaku. Aku mohon maaf.


       

Wednesday, May 12, 2010
no image

Reading Groups Minggu Ketujuh Max Havelaar



Oleh Ubaidilah Muchtar

Menunggu adalah hal yang melelahkan. (Multatuli)

Aku berada di bus menuju TIM. Membaca novel dengan lampu temaram. Mendengar nyanyian dari pengamen yang silih berganti muncul. Menyanyikan lagu yang tak lagi kuingat syairnya. Kadang terdengar suara klakson ditekan supir. Aku duduk di kursi kedua di belakang supir. Di depanku seorang ibu menggendong anak kecil yang sejak dari tadi menangis. Aku tenggelam dalam novel yang kupegang.
Hari ini hari Kamis. Hari terakhir anak-anak usia SD melaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional atau yang biasa disebut UASBN. Aku berharap semoga semua dapat menjawab soal-soal yang diujikan dengan baik. Aku memang kurang setuju dengan pola ujian seperti ini. Tapi aku tidak akan membicarakan masalah ini. Sebab aku tidak sedang ingin membicarakan ujian. Aku meninggalkan sekolah yang terletak di kawasan Cibubur. Sebenarnya lebih tepat dikatakan di Nagrak daripada Cibubur sebab terlalu jauh dari Cibubur. Tapi tak apa. Aku meninggalkan sekolah sekira pukul dua siang. Mampir sebentar ke bengkel untuk mengganti salah satu spare parts.
Selepas dari bengkel aku bergegas menuju Ciputat. Jalanan menuju Ciputat melewati Pasar Rebo macet. Di bengkel aku memastikan bahwa aku akan menuju TIM pukul empat sore ini. Tiba di Ciputat aku mendapat kabar bahwa istriku sudah tiba di rumah. Ia pulang lebih cepat. Mungkin terlalu lama menungguku. Aku melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Sebenarnya aku janji akan ke TIM pukul empat atau pukul lima. Namun pekerjaan rumah tidak juga selesai. Pukul lima sudah lewat. Aku membantu istriku di rumah. Kami berbagi pekerjaan. Kami saling memahami. Maghrib tiba semua pekerjaan usai. Setengah tujuh aku meninggalkan rumah. Istriku berpesan agar aku hati-hati di jalan. Aku berjalan. Berjalan sebentar ke jalan besar. Malam yang dingin pikirku. Angin bertiup seolah hendak menjauhkan hujan. Huja tak juga turun. Langit mendung. Aku menuju Ciputat dengan angkot. Jalan tak terlalu padat. Para pengendara berbagi jalan dengan pengguna yang lain. Aku tiba di Ciputat. Bus Ciputat jurusan Senen sudah tidak ada. Di bawah jembatan layang aku menghentikan angkot jurusan Pondok Labu. Aku akan ke Lebak Bulus. Aku yakin di Lebak Bulus masih ada angkutan yang akan mengantarku ke Cikini.
"Wah, kamu beruntung!" kata supir angkot D02 jurusan Pondok Labu yang kunaiki. Aku memang beruntung, tepat di Pasar Jumat aku melihat bus 76. Bus yang aku maksud. Bus yang akan mengantarku ke Cikini. Aku berhenti di pertigaan Pondok Pinang. Kubayar ongkos angkot. Kuhentikan bus. Aku naik bus.
Kini aku telah berada di depan bioskop Gandaria. Di bawah rel kereta api. Kususuri jalan Cikini Raya. Aku teringat beberapa tahun yang lalu. Aku pernah berjalan kaki menuju TIM dari Menteng. Tapi dugaanku salah. Ternyata dari perempatan Gandaria menuju TIM tidak sedekat yang kubayangkan. Namun aku menikmatinya. Di kanan jalan sepanjang pinggiran jalan banyak berjejer pedagang. Ada pecel lele, bubur ayam, mi ayam, bebek goring, dan masih banyak yang lainnya. Perutku minta diisi. Di depan stasiun kereta api Cikini. Banyak orang memasuki warung. Ya, warung nasi. Tapi warung nasi apa pikirku. Kulihat warung nasi Sederhana 2. Kulihat warung nasi Sederhana 2. Ingatanku tiba-tiba pergi ke Bandung. Di samping terminal ledeng ada juga warung nasi Sederhana. Dan jika tidak salah di Jalan Soekarno Hatta di Bandung juga ada warung nasi ini. Aku mengambil nasi. Kutanya pelayan di sana. Aku menggunakan bahasa Sunda. "Pepes naon eta, kang?". Pelayan di warung nasi itu hampir seluruhnya laki-laki kecuali yang menerima pembayaran. Mungkin jika perempuan memegang keuangan akan lebih tertib, pikirku. Ada pepes jamur, pepes ayam, pepes ikan, pepes tahu, dan pepes teri. Salah seorang pelayan menjelaskan. Aku mengambil pepes tahu dan ayam. Kuminta sayur asem. Di meja sudah ada sambal dan lalaban. Aku makan sendiri.
Pukul 20.15 aku tiba di gerbang Taman Ismail Marzuki. Kutanya petugas yang jaga. Kutanya di mana kantin berada. Aku diberi tahu untuk terus masuk. Kuikuti petunjuk yang diberikan. Aku menuju salah satu bangunan. Ternyata itu kafe. Aku dipersilakan masuk. Aku tak menemukan yang kucari. Aku diberitahu untuk mencari ke tempat sebelah. Di tempat sebelah pun tak kutemukan. Maka kulanjutkan berjalan lebih ke dalam. Kulihat yang kucari ada di sana. Ya, malam ini aku berjanji akan menjemput Mas Sigit. Namanya Sigit Susanto. Ia akan mengunjungi Taman Baca Multatuli.
Di kantin itu ada Mas Akmal, Mbak Oci, Mbak Ita, Mas Opang, Mbak Eci, dan dua orang temannya Mas Opang dari 1n3b.org. Aku mohon maaf sebab aku benar-benar lupa namanya. Kusampaikan permohonan maaf pada Mas Sigit. Permohonan maaf karena aku tak pergi sesuai janji. Malam merambat di bangku-bangku, di pohon-pohon, di taman, di aspal jalan, di buku-buku. Pukul sebelas kurang lima belas aku dan Mas Sigit meninggalkan TIM menuju Sawangan.
Subuh, aku terbangun. Istriku sedang di dapur. Memanggang roti dan menyeduh teh manis. Semalam ketika kami tiba istriku sudah lelap tertidur. Aku lekas menyelesaikan semua kebutuhan. Mas Sigit pun demikian. Sebelum berangkat kunikmati roti panggang isi coklat dan teh manis buatan istriku. Pukul setengah enam aku meninggalkan rumah. Istriku membawakan bekal untukku. Sekotak sale pisang kering dan sebungkus biskuit rasa kopi. Kumasukkan bekal dari sitriku. Kusampaikan terima kasih. Istriku mengantar sampai pintu gerbang rumah. Udara masih dingin. Aku menyusuri jalan yang sama. Jalan yang biasa kulalui setiap Senin pagi. Mengendarai motor yang sama. Di belakangku bukan kotak plastik ukuran 60 liter melainkan Mas Sigit. Aku mengenakan helm putih Mas Sigit helm warna biru. Kami melewati pertigaan sawangan. Lurus ke Parung. Berbelok di Pasar parung. Lurus menuju Ciseeng. Belok kanan menuju Rumpin. Lurus hingga sampai di Leuwiliang. Dari Leuwiliang lurus menuju Jasinga. Di pertigaan Kadaka/Bunar berhenti untuk sarapan. Menuku sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Nasi uduk, telur bulat, sayur, dan gorengan. Sementara Mas sigit menikmati lontong sayur.
Pukul 09.15 kami tiba di Ciseel. Di jalan kami bertemu Rusman. Ia muridku di SMP. Hari ini pengumuman kelulusan SMP. Rusman motornya rusak. Kuberikan kunci busi. Ia memintaku untuk terus melanjutkan perjalanan. Aku melewati Cangkeutuek. Cangkeuteuk, kampung terakhir dengan jalan berbatu, kampong terakhir berpenerang listrik Negara. Selepas Cangkeuteuk jalanan diisi tanah merah. Di jalan aku lihat Sukra dan Udin. Mereka sama dengan Rusman baru pulang membeli semen. Setiap motor membawa dua sak semen. Di perjalanan, Mas Sigit sering turun dari motor. Penyebabnya tak lain sebab jalan yang kami lalui harus melalui tanjakan tajam dan turunan curam. Di kiri jurang di kanan tebing. Jalan setapak di tengah hutan.
Tiba di Ciseel, aku berkemas harus ke sekolah. Mas Sigit kutinggalkan di rumah. Hari ini aku agak gugup. Sampai di sekolah dugaanku terbukti. Dari dua puluh anak satu terpaksa harus mengulang. Tapi tak mengapa. Sebab hampir di semua sekolah hal yang serupa ada.
Selepas shalat Jumat, di Taman Baca Multatuli kawan-kawanku yang mengajar di SMP berkumpul. Kepala sekolah juga ada. Mas Sigit ditanyai banyak hal tentang Swiss dan negara lainnya. Tentang sistem pendidikan, keuangan, pekerjaan, mata pencaharian, ongkos jika liburan ke Swiss, bahasa nasional, dan segala hal tentang Swiss. Juga tentang pengalaman-pengalamannya. Di sana ada Pak Abduh, Pak Dadang, Pak Ace, Pak Aang, dan Pak Didik. Salah satu pembicaraan berisi bahwa di Swiss anak-anak usia SD di bagian dadanya digantungi semacam palang mirip selendang yang jika terkena sinar lampu akan menyala. Selain itu Mas Sigit juga menjelaskan bahwa di Swiss tidak ada bahasa Nasional. Jadi jika wilayahnya lebih dekat dengan Jerman, maka menggunakan bahasa Jerman. Jika wilayahnya dekat dengan Itali menggunakan bahasa Italia. Di Swiss juga ada wajib militer. Dan banyak lagi pembicaraan kami siang itu.
Pukul setengah tiga, aku mengajak Mas Sigit berkeliling kampung. Kuajak dia mengunjungi SMP yang ada di kampung sebelah, Kampung Cigaclung. Kuajak ia melihat kondisi masyarakat di sana. Ada leuit (tempat penyimpanan padi), ada lapangan sepak bola, ada ibu penggembala kerbau, dan lainnya. Dari Cigaclung aku kembali ke Ciseel. Jalanku tak lagi melewati jalan yang sama. Aku melintasi rumah Pak Samanan. Pak Samanan sedang menumbuk kopi. Menumbuk kopi di lulumpang (lesung kecil). Anaknya Sarta dan dua adiknya sedang bermain layang-layang. Saudara perempuannya sedang menanak nasi. Rumahnya panggung. Temboknya terbuat dari bilik, anyaman bambu. Lantainya juga bambu. Atapnya ijuk. Aku mengambil beberapa foto. Pak Samanan sedang menumbuk kopi untuk membuang kulitnya. Aku dan Mas Sigit bergantian bertanya. Kami melanjutkan perjalanan. Di Ciseel banyak rumah model seperti rumah Pak Samanan. Di kolong rumahnya, mereka memelihara ayam atau entog.
Di depan Taman Baca Multatuli, Ibu Warni juga sedang menumbuk kopi. Kami berjalan ke bawah. Aku mengajak Mas Sigit ke rumahnya Pak Buhadi. Pak Buhadi pembuat caping di Ciseel. Capingnya buatannya bagus. Selain caping, ia juga dapat membuat benda-benda lain dari bambu. Semisal aseupan (kerucut), nyiru, boboko, said, dan enatah apa lagi. Aku tahu bentuknya namun tak tahu namanya. Lebih tepat lupa namanya. Kami tiba di rumah Pak Buhadi. Aku bertanya kepada istrinya. Aku bertanya caping pesananku. Istri Pak Buhadi menunjukkan caping pesananku. Namun tepiannya belum diwengku (diberi lis). Kami disuguhi lahang (air nira). Aku meminumnya. Mas Sigit pun mencicipinya.
Kami kembali ke Taman Baca Multatuli. Di jalan sebentar kulihat ada ibu-ibu sedang menumbuk kopi. Menumbuk kopi yang sudah jadi. Kopi ditumbuk di lesung kecil dari batu. Kopi disaring menggunakan saringan kecil. Kami mampir sebentar ke rumah Pak Barnas. Pak Barnas guru SD asli penduduk Ciseel. Pak Barnas orang berhasil. Sebab ia satu-satunya yang menjadi Amtenaar (pegawai negeri) di Ciseel.
Pukul empat tepat. Kami akan melaksanakan Reading Groups Max Havelaar Minggu Ketujuh. Sanadi datang lebih awal. Sanadi adalah putra dari Pak Buhadi. Sanadi membaca majalah. Aku mempersiapkan novel Max Havelaar. Sanadi ikut membantu. Kami menurunkan semua novel. Dua puluh jumlahnya. Novel yang kami baca terbitan Narasi tahun 2008. Novel terbitan Djambatan yang lima buah jumlahnya sering kami buka jika ada yang mau kami perbandingkan. Kami akan memasuki Bab 6. Bab 6 dari 20 Bab yang ada dalam novel Max Havelaar. Novel yang ditulis 150 tahun yang lalu oleh Multatuli. Novel yang berisi kritik terhadap perilaku penjajah. Sekaligus kritik terhadap perilaku para pejabat pribumi yang sewenang-wenang terhadap rakyatnya.
Aku membuka reading groups dengan memperkenalkan Mas Sigit. Kuminta Mas Sigit untuk memperkenalkan diri. Mas Sigit mengenalkan diri. Para peserta mendengarkan. Sebelum memperkenalkan diri, Mas Sigit bermain sulap. Sulapnya berupa buku. Buku yang jika dibuka terkadang isinya kosong, terkadang berisi sketsa binatang, dan terkadang sketsa binatang tersebut sudah diwarnai. Peserta terlihat senang. Semua tertawa riang. Semua penasaran. Bahkan ketika ada peserta yang baru datang, Mas Sigit mengulangi sulapannya. Mas Sigit lalu memperkenalkan diri. Ia  memulai dengan mengenalkan nama dan asal. Kemudian ia bercerita tentang reading groups. Menurutnya, ia pernah mengikuti reading groups seperti ini di Zurich. Novel yang dibacanya Ulysse. Ia menunjukkan bab Ulysses dibaca selama tiga tahun dalam bukunya, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia Jilid 2. Ia berpendapat bahwa Reading Groups Max Havelaar mungkin satu-satunya dan yang pertama yang ada di Indonesia. Kami mendengarkan. Aku sempat tak menyangka ketika Mas Sigit lalu menjelaskan agar para peserta pandai-pandai membagi waktu dan merayu orang tua. Ia berkata agar jangan sampai orang tua terutama para ibu mengeluhkan sebab anak-anaknya ikut reading groups dan tidak tuntas membantu orang tua. Aku mungkin sering lupa akan hal itu. Mereka adalah anak-anak petani miskin yang tenaganya sangat dibutuhkan di rumah. Pulang sekolah mereka menggembalakan kambing atau kerbau. Jika tak menggembala mereka mencari kayu bakar. Anak perempuannya memasak, mengambil air, dan mencuci. Mas Sigit lalu menyemangati agar para peserta terus menyelesaikan reading hingga tuntas. "Kalian mungkin pernah merasa bosan membaca, maka nanti Ubay selingan membaca yang bahasa Sundanya," terangnya. Aku mengambil buku yang dimaksud. Aku menunjukkan kepada peserta. Mas Sigit memintaku membaca beberapa paragraf dari buku tersebut.
Aku membaca beberapa paragraf dari buku "Saija" yang berbahasa Sunda. Ini bagian yang aku baca.
"Maung, maung!" ceuk adi-adina Ina pating jarerit, "lumpat Saija, eta aya maung dina ruyuk!"
Sakabeh barudak ngudar pasangan keclak narumpakan mundingna, tuluy dilumpatkeun sakalumpat-lampet, mapay sawah jeung galengan, bebelesekan dina leutak, ngambah kana bubulak, sampalan, tegal eurih, nobros ka leuweung ganggong, tuluy meuntas walungan, blas ka jalan ronda. Barang maranehna geus luut-leet kesang jol anjog ka lemburna, Desa Badur, kakara kanyahoan, yen Saija henteu aya, henteu bareng jeung maranehna ….
Sabab, Saija the kaburu ngudar pasangan, karepna rek lumpat nyingkahan bahla, cara barudak sejen; tapi barang manehna mancal, mundingna ngabelesat manten luncat, atuh manehna tikosewad, tibeubeut kanat taneuh. Maung luncat tina ruyuk rek ngarontok ka budak nangkarak, nu keur nunggu … ajalna.
Kumaha peta munding teh? (Saija, hal. 30-31)
Kutanya para peserta apakah mereka paham. Mereka mengakui paham dengan bahasa Sunda dalam buku "Saija" ini. "Saija" merupakan terjemahan dari Bab 17 novel Max Havelaar. Diterjemahkan oleh R.T.A. Sunarya tahun 1932. Buku ini aku dapatkan dari seorang kawan yang bekerja di Cornel University. Ia baik hati menyeken halaman demi halaman buku tersebut. Jumlahnya 65 halaman. Lalu aku memprin dan menjilidnya. Kubuatkan dua untuk saat ini. Kusimpan di Taman Baca Multatuli.  
Kami memulai reading groups Max Havelaar. Aku bertanya pada peserta tentang isi bab 5 yang dibaca minggu lalu. Pepen menjawab, "Bab 5 yang dibaca minggu kemarin bercerita tentang asal-muasal gaji para bupati dan perilaku bupati yang sering memanfaatkan tenaga rakyat dan mengambil benda-benda atau hewan peliharaan rakyatnya." Aku mengiyakan dan kutambahkan sedikit tentang kesulitan dalam membongkar kasus penyalahgunaan kekuasaan bupati tersebut.
Aku lalu membaca paragraf pertama. Peserta mendengarkan. Paragraf pertama menceritakan sikap dan kebiasaan pengawas Verbrugge. Secara umum sifatnya baik. Akan tetapi ada kalimat yang lalu kami diskusikan. Kalimat tersebut adalah salah satu sifat pengawas Verbrugge, yaitu "Pemalas sepanjang tidak ada yang dikerjakan". Kalimat ini bermakna bahwa pengawas Verbrugge sama seperti kita. Di mana tidak ada yang dikerjakan, maka ia berdiam diri saja. Pengawas Verbrugge memakai seragam katun biru, dengan motif dahan pohon ek—dan jeruk—terbordir di kerah dan lipatan lengan.
Mas Sigit bertanya tentang pohon eks. Aku sampaikan mungkin pohon ek itu seperti pohon cemara. Mariah bertanya apa itu kerah. Aku menunjuk ke bagian baju yang dikenakan Pepen. Sementara Dedi Kala bertanya kata terbordir. Kusampaikan terbordir artinya tergambar dengan hasil border. Bordir itu menggambar dengan benang.
Pengawas Verbrugge sedang menunggu kedatangan tamu. Ia duduk di pendopo bersama dengan Adipati Karta Nata Negara. Ia duduk bersebelahan dengan Adipati. Pengawas Verbrugge ditemani dengan dua puluh sampai tiga puluh pembantu orang Jawa. Di sana juga ada mantra dan penjaga yang berjongkok di dalam dan di luar pendopo.
Mereka sedang menunggu. Menunggu adalah hal yang melelahkan. Seperempat jam serasa satu jam, setengah jam serasa sehari, begitu seterusnya. (hal. 88). Mas Sigit bertanya kepada para peserta. Apakah benar menunggu itu hal yang melelahkan. Peserta ada yang menjawab iya dan ada yang menjawab tidak. Melihat kondisi kampung Ciseel yang sukar dijangkau mungkin menunggu merupakan hal lumrah sebab perjalanan tidak dapat dipastikan. Terkadang sangat cepat tiba. Terkadang mungkin terlambat.
Pembacaan selanjutnya mengarah pada karakter atau sifat Adipati Karta Nata Negara. Adipati adalah pria tua berpendidikan, yang dapat membicarakan beragam hal dengan kecardasan dan penilaian. Sosoknya tenang. Mata hitamnya yang cerah kontras dengan semangatnya. Rambutnya abu-abu. Bicaranya sedikit. Jika ia bicara harus dianggap sebagai memorandum. Apa yang diucapkannya sudah dipertimbangkan. Seperti karakter umum peranakan oriental. Jarang sekali orang yang sedang berbicara dengannya lalu memotong pembicaraan. Hal tersebut dapat berupa sebuah ketidaksopanan. (hal. 88-89)
"Kontras itu apa?" Tanya Aliyudin.
"Kontras itu bertentangan, berlawanan. Mata hitamnya yang cerah bertentangan dengan semangatnya. Matanya cerah sementara semangatnya seumpama rambutnya yang abu-abu penuh uban. Sudah tua." Jawabku.
"Oriental itu?" Tanya Mas Sigit.
"Oriental itu maksudnya ketimuran." Jawabku.
"Memorandum itu apa?" Tanya Pepen.
Saat menjelaskan kata ini aku terlalu bersemangat. Aku bahkan sampai mencontohkan peristiwa lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Mas Sigit lalu mengingatkanku bahwa itu referendum. Aku tersadarkan. Aku ulangi bahwa memorandum itu perintah. Berasal dari kata memo. Aku teringat pelajaran di SMP ada tentang menulis memo. Menulis perintah dengan singkat. Maka jika berkata-kata dengan Adipati, ucapannya itu harus dianggap sebagai sebuah perintah.

Aku membaca paragraf selanjutnya. Paragraf tentang kebiasaan Adipati nyeupah. Nyeupah sejenis kegiatan merokok jaman dahulu. Diterangkan pada paragraf ini bahwa Adipati menyuruh pembantunya membawakan kotak. Kotak yang ternyata berisi perlengkapan nyeupah. Kotaknya berupa kotak emas. Pembantu membawanya dengan berjalan jongkok dan menyerahkan kotak tersebut seperti menyerahkan bendera pusaka saat tujuh belasan di istana negara. Mengangkat kedua belah tangan yang disatukan seperti berdoa ke dahinya yang ditundukkan. Aku mencontohkan gerakan-gerakan tersebut. Isi kotak tersebut ada tembakau, limau, sirih, pinang, dan gambir. Caranya limau diperas di daun sirih, dicampur dengan tembakau dan gambir. Lalu disusurkan ke dalam mulut. Hingga bibir menjadi merah serta giginya menjadi merah kecoklatan.

Adipati lalu bercakap dengan pengawas Verbrugge tantang jalan yang menghubungkan antara Lebak dan Pandeglang. Regen (Bupati) tak suka dengan perkataan Verbrugge yang mengatakan "Di Pandeglang jalannya tidak begitu buruk." Regen tidak senang jalan di Pandeglang dipuji-puji. Hal tersebut sama dengan mengatakan bahwa Regen telah gagal membangun jalan dengan konstruksi baik di Lebak. Ketika itu Regen membela diri dengan mengatakan bahwa di Pandeglang jumlah penduduknya lebih banyak. Sementara di Lebak penduduknya hanya tujuh puluh ribu jiwa. Ketika berbicara tentang hal itu, mengenai jalan yang dapat menimbulkan perselisihan Verbrugge mengalihkan pembicaraan dengan bertanya pada Mandor Dongso apakah sudah ada yang datang. Saat itu memang ada yang datang. Yang datang adalah komandan Duclari. Letnan Duclari, komandan garnisun kecil di Rangkasbitung. Komandan Duclari pulang setelah berburu kijang. Komadan Duclari berteman baik dengan pengawas Verbrugge. Komandan Duclari berusia sekitar tiga puluh tahunan.

Komandan Duclari lalu ditawari minuman. Ia ditawari teh. Komandan Duclari meminta santan. Sampai di kalimat ini. Para peserta reading groups berdiskusi. Apa yang dimaksud dengan santan. Rasanya tidak mungkin siang hari meminum santan. Jarang sekali orang yang meminum santan. Aku menjelaskan bahwa yang dimaksud santan di sini adalah air nira (lahang). Air yang didapat dari sadapan pohon Aren. Diskusi selanjutnya seperti juga yang terdapat dalam teks. Yaitu tentang kopi daun. Kami, peserta diskusi tiba di kalimat.

"Apa? kopi daun, teh yang terbuta dari daun kopi? Seumur hidup belum pernah mendengar hal itu!"
"Itu karena kau belum pernah bertugas di Sumatra. Di sana itu merupakan hal biasa."
"Baiklah, kalau begitu, beri saya teh…tapi jangan yang dari kopi daun, juga tidak dari jahe. Tentu saja , kau pernah di Sumatra…dan sang Asisten Residen baru juga pernah, benar?" (Hal. 92)

Kami berdiskusi tentang apa kira-kira yang dimaksud dengan kopi daun. Hingga kami pun tak menemukan jawabannya. Tapi aku mengira bahwa yang dimaksud dengan kopi daun itu mungkin cingcau. Tapi entahlah. Nanti akan kucari lagi yang lebih yakin.

Duclari dan Verbrugge berbicara dengan bahasa Belanda. Bahasa yang tidak dipahami oleh Regen. Mungkin Duclari dan Verbrugge punya maksud lain atau karena merasa tidak sopan karena tidak mengikutsertakan Regen dalam pembicaraannya. Selanjutnya Ducalri menggunakan bahasa Melayu. Mereka membicarakan Asisten Residen baru yang akan datang. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Duclari dan Verbrugge lalu berbicara dalam bahasa Belanda lagi. Adipati tidak suka dengan pendapat Verbrugge. Adipati berpikiran bahwa lebih baik bertemu dahulu dengan seseorang sebelum membentuk opini mengenai dia.

Pepen bertanya arti kata opini. Aku menjelaskan bahwa opini itu pendapat. Pembacaan lalu diteruskan. Aku meneruskan mambaca. Bacaanku tiba pada bagian di mana Duclari dan Verbrugge yang sedang membicarakan Havelaar. Menurut Duclari, Havelaar itu bodoh. Duclari menyarankan agar Verbrugge tidak bertemu dengan Havelaar. Mereka lalu berharap agar Havelaar yang didengarnya ketika di Sumatra kini telah berubah.

"Kebanyakan dia sudah, tidak diragukan lagi! Dia sudah lebih dewasa sekarang, dan dia telah menikah selama bertahun-tahun, dan seorang Asisten Residen. Lagipula, saya selalu mendengar bahwa dia berbaik hati, dengan sudut hangat untuk keadilan di dalamnya." (Hal. 94)

Duclari lalu menyampaikan bahwa sesuatu telah terjadi pagi ini di Lebak. Verbrugge lalu meminta Duclari untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas berburunya. Hal ini mereka lakukan untuk mengelabui Regen. Duclari mengeluarkan sepasang burung dara hutan dari dalam tas berburunya. Mereka beranggapan Regen menyangka mereka sedang membicarakan tentang menembak. Duclari menyampaikan bahwa pagi tadi saat dia sedang berburu ada seorang pribumi (rakyat Lebak) yang mengadu padanya. Katanya apakah Duclari dapat meringankan derita yang dikeluhkan orang-orang. Duclari lalu melanjutkan bahwa dia sudah mengetahui banyak rakyat di Jawa (Lebak) yang menderita. Hanya saja mereka tidak mau dan sangat berhati-hati serta segan terhadap pemimpinnya. Verbrugge lalu bertanya apa jawaban Duclari untuk orang yang mengadu pagi itu. Duclari menjawab bahwa itu bukan urusannya. Duclari malah menyarankan untuk mengadu ke Verbrugge atau ke Asisten Residen baru yang akan datang.

Reading Groups Max Havelaar Minggu Ketujuh, Jumat 7 Mei 2010 berakhir ketika rombongan datang. Rombongan datang ketika Mandor Dongso berteriak sambil melambaikan tudungnya. Oh iya, di Taman Baca Multatuli ada tudung yang dimaksud. Tudung dengan bentuk piringan bulat besar terbuat dari anyaman. Biasa dipakai untuk berkebun. Melindungi dari matahari dan hujan. Mandor Dongso berteriak bahwa rombongan telah datang. Saat rombongan datang, Komandan Duclari meninggalkan pendopo diikuti pembantunya. Rombongan datang dengan kereta yang ditarik empat ekor kuda. Kereta kondisinya penuh dengan lumpur. Kereta berhenti di samping pendopo. Pendopo yang terbuat dari kerangka bambu dengan atap daun kirai.

Mandor Dongso ditemani para pembantu Regen membuka tutup kereta. Mereka melapaskan semua tali dan simpul yang mengikat tutup berupa kain hitam. Tutup kereta itu dimaksudkan agar para penumpang terhindar dari tiupan angin muson barat daya yang mengakibatkan hujan besar. Para penumpang belum turun. Mereka sangat lama saat turun. Maklum mereka berlama-lama di kereta dengan posisi terguncang-guncang dan duduk berdempetan.

Kami menyudahi reading groups minggu ketujuh ini. Aku mengucapkan terima kasih pada para peserta reading. Minggu ketujuh ini pesertanya luar biasa. Novel kami yang jumlahnya dua puluh buah turun semua. Bahkan beberapa anak membaca dengan berbagi. Kami berkemas. Aku membereskan buku. Siti Alfiah dan Pipih membantu membereskan buku. Gelap telah tiba. Siang hampir berganti malam. Kuminta peserta untuk foto bersama di depan Taman Baca Multatuli. Kuambil foto mereka. Malam telah datang. Aku menutup gorden dan pintu.

Sehabis Maghrib, Taman Baca Multatuli ramai. Anak-anak yang selesai mengaji datang kembali. Mas Sigit bercerita tentang pengalamannya saat menjadi pemandu wisata di Bali hingga bertemu istrinya. Mas Sigit juga bercerita tentang empat musim yang ada di Eropa lengkap dengan suka duka dan bulan-bulannya. Kami mendengarkan. Kami duduk di luar, di teras rumah. Di luar langit gelap. Kampung gelap. Memang begitu suasana jika malam tiba. Suara binatang seperti jangkrik, tonggeret, air di sungai serta suara-suara binatang yang lain terdengar jelas. Mas Sigit bertanya apakah ada yang pernah ke Jakarta. Semua menjawab belum pernah. Memang anak-anak di sini jangankan ke Jakarta, ke Pasar Cipanas yang jaraknya 20 kilometer juga banyak yang belum. Apa lagi Jakarta atau Rangkasbitung. "Apakah kalian ingin melihat Jakarta?" Mereka menjawab ingin. Tiga puluh menit kemudian, kami berpindah ke dalam. Di dalam, anak-anak ada yang membaca ada juga yang mendengarkan Mas Sigit bercerita tentang pengalamannya ketika naik pesawat. Anak-anak mendengarkan dengan sungguh. Saat ada yang lucu mereka tertawa. Saat ada yang menegangkan mereka berdiam. Mas Sigit lalu bercerita tentang pengalamannya ke Belanda. Persis sama dengan yang ada di Menyusuri Lorong-Lorong Jilid 1. Anak-anak tertawa saat cerita memasuki turis dari Amerika yang tercebur ke sungai karena terus mewawancarai Mas Sigit sambil naik sepeda.

Selesai bercerita, anak-anak main tebak-tebakan. Caranya dengan menghitung menggunakan kelima jari dari dua orang anak dan satu tangan Mas Sigit. Mas Sigit berhitung dengan urutan huruf. Saat berhenti dihuruf tertentu kedua kelompok yang bersaing harus menyebutkan nama yang disepakati. Baik nama kota, hewan, bunga, atau negara. Contohnya saat hitungan berhenti di huruf "M" setiap kelompok berteriak ada yang menyebut Mawar, ada juga yang menyebut Melati. Setiap kelompok yang tidak bisa menjawab berarti kalah. Kelompok yang kalah harus bernyanyi. Kelompok Pepen dan Aliyudin kalah pertama kali mereka bernyanyi lagu "Potong Bebek". Kelompok Pipih dan Rohanah kalah diputaran kedua. Kelompok mereka bernyanyi lagu wajib nasional. Aku lupa judul lagunya.

Selesai tebak-tebakan, Mas Sigit main sulap. Sulapnya menghilangkan koin dengan cara ditutup dengan gelas. Semua terbengong-bengong. Namun setelah sekian lama, anak-anak berteriak bahwa mereka tahu rahasianya. Mas Sigit pun memperlihatkan mulut gelas yang ia tutup dengan kertas putih. Jadi saat koin disimpan di atas kertas putih dan ditutup dengan gelas. Seolah-olah koin tersebut menghilang. Semua anak tertawa. Ramai sekali. Hujan mulai turun. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Sebagian anak-anak telah kembali ke rumah. Sebagian yang lain masih bertahan. Mereka yang bertahan membaca buku. Aku makan malam dengan Kang Sarif. Istri Kang Sarif masak jengkol. Ada ikan juga. Ada sambal juga. Pete juga ada. Kami makan dengan nikmat.

Pukul setengah sepuluh kami bersiap tidur. Kami tidur di tengah rumah. Seperti biasa. Teman-temanku yang menjadi guru pulang tadi siang. Kami hanya berdua. Aku berbincang sebelum tidur dengan Mas Sigit. Kebanyakan kami berbicara tentang sastra. Aku suka sastra. Waktu kuliah aku menjual buku-buku sastra. Aku membaca buku sastra sambil berjualan. Aku mendapatkan buku dari Palasari. Aku mengambil dan menjualnya. Malam merayap di mata kami. Aku bermimpi. Di dalam aku bersedih juga gembira. Novel Max Havelaarku basah kuyup. Aku bersedih. Tetapi di punggung novel yang basah itu tidak ada lem yang ada lempengan keju. Aku gembira.

Pukul lima subuh aku terbangun. Mas Sigit sudah mandi. Dia yoga sebelum mandi. Aku mandi. Kami berpamitan pukul setengah enam. Aku mengeluarkan motor. Di ujung kampung, ban motorku melindas anak ayam. Jalanan masih gelap. Aku sudah mencoba menjauhkan ayam tersebut. Namun seekor anak ayam tetap terlindas. Mas Sigit menyuruhku berhenti. Ia turun dan mencari anak ayam yang terlindas. Ia angkat badan anak ayam tersebut. Ia simpan di pinggir jalan. Di tepi selokan di atas rumput yang masih basah. Semalam hujan turun dengan lebat.

Jalan pulang lebih licin. Aku harus berhati-hati. Kami orang pertama yang melewati jalan. Di beberapa bagian jalan Mas Sigit harus turun. Aku tak mengijinkan ia untuk mendorong motorku dari belakang. Jika hal itu terjadi maka badannya akan penuh dengan lumpur. Sebab ban belakang motorku sering selip dan menyemburkan lumpur. Aku berhasil melewati jalan tanah. Dari Cangkeuteuk sampai Pasar Ciminyak jalan berganti batu. Meski licin tapi aku berhasil melewatinya. Sepanjang perjalanan kami berbicara. Berbicara banyak hal. Kami mampir di warung nasi yang kemarin kami mampir. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumahku. Di pertigaan Ciseeng aku berhenti. Kami menyantap mi bakso. Aku minum teh botol. Mas Sigit minta es buah. Pukul setengah sepuluh kami tiba di rumah di Sawangan.

Empat puluh lima menit dari rumah kami tiba di Terminal Lebak Bulus. Bus yang akan mengantarkan kami ke Bandara Soekarno-Hatta berangkat pukul sebelas lima belas. Di terminal aku membeli Koran. Di koran hari itu, Sabtu, 8 Mei 2010 ada kegiatan Apsas (Apresiasi Sastra) di Jogja minggu sebelumnya. Mas Sigit adalah salah satu moderatornya. Aku anggota milis tersebut. Tapi aku tidak datang waktu acara di Jogja. Acaranya bedah sepuluh karya semalaman. Berita itu letaknya di halaman 28. Aku berkomentar tentang salah penulisan nama dan isi beritanya yang terasa menggantung.

Pukul setengah satu bus tiba di depan terminal 1B. Aku mengantar sampai pintu. Mas Sigit langsung masuk. Pesawat sudah siap. Aku kembali ke tempat pemberhentian bus. Aku naik bus kembali ke Lebak Bulus.


    
   
    

Back To Top