Breaking News
Loading...

Terkini

Wednesday, January 25, 2012
Desah Saïdjah Resah sebagai Karya Musik Belanda

Desah Saïdjah Resah sebagai Karya Musik Belanda


Kolonialisme Belanda memang mengeruk sumber daya Indonesia. Tetapi Indonesia ternyata juga merupakan sumber ilham komponis Belanda. Salah satu karya musik pertama Belanda yang digubah berdasarkan Indonesia adalah Elégie Saïdjah, karya komponis Richard Hol.
Pada tahun 1860 terbit roman Max Havelaar karya Multatuli yang merupakan nama pena Eduard Douwes Dekker. Pada tahun itu juga terbit sebuah karya musik untuk instrumen gesek diiringi piano. Elégie Saïdjah, demikian judul karya itu, diciptakan oleh Richard Hol dan jelas bersumber pada roman Multatuli. Itulah karya musik klasik pertama yang bersumber pada Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia.
Bergeser lirih
Henk Mak van Dijk, seorang pianis Belanda, menulis buku berjudul Wajang Foxtrot. Di situ dia menjelaskan asal usul karya ini. Dalam novel Max Havelaar terdapat bagian yang sangat terkenal, Saïdjah dan Adinda. Singkat ceritanya, Saïdjah pada usia 15 tahun pindah ke kota besar, karena di desa Badoer kerbau ayahnya terus-terusan dicuri. Dia bekerja di Batavia. Kepada kekasihnya Adinda dia berjanji akan pulang dalam tiga tahun untuk menikahinya.
Dalam perjalanan ke kota Saïdjah menjadi begitu sedih. Kemudian ia menyanyikan lagu berjudul Ik weet niet waar ik sterven zal artinya: entah di mana aku akan mati. Dengan lagu itu ia membayangkan semua kemungkinan bagaimana dirinya akan menemui ajal. Lebih dari itu tidak ada orang akan bisa mendengar keluh kesahnya. Hanya Adinda yang akan mendengarnya. Begini akhir lagunya:
Kalau saya mati di Badoer dan dikubur di luar desa, ke timur di dekat bukit yang berumput tinggi, maka kalau Adinda lewat, pinggir sarungnya akan bergeser lirih di sepanjang rumput. Itu yang akan saya dengar.
Kisahnya berakhir dengan tragis. Saïdjah kembali ke desa mendapati Adinda sudah pergi ke Sumatra. Saïdjah menyusul, dia bergabung dengan kalangan pemberontak. Di sebuah desa yang baru dibakar habis oleh tentara Hindia Belanda, Saïdjah mendapati jenazah Adinda yang kena siksaan. Dalam keadaan putus asa ia menghunjamkan diri kepada tentara yang menghandangnya dengan bayonet. Dengan begitu Saïdjah sampai pada ajalnya.
Hanyut terbawa nasib
Cerita yang sangat terkenal ini merupakan ilham bagi komponis Belanda Richard Hol untuk menggubah sebuah karya musik yang berjudul Elégie Saïdjah, anak judulnya Ik weet niet waar ik sterven zal. "Panjangnya sekitar enam menit, dan menariknya terdapat versi untuk piano solo, versi untuk cello dan piano, kemudian versi untuk orkestra dan juga akan untuk klarinet dan piano," demikian Henk.
Elégie Saïdjah juga terbit pada tahun 1860, tak lama setelah Max Havelaar terbit. Tapi sejak itu, karya ini dilupakan orang. Buku Wajang Foxtrot sekarang menerbitkan rekamannya. Bisakah dikatakan ini merupakan karya musik pertama di Belanda tentang Indonesia?
Henk Mak van Dijk membenarkan. "Karya ini digubah pada tahun 1860, jadi sudah sangat lama." Richard Hol menulisnya tak lama setelah Max Havelaar terbit. Mungkin saja, seperti banyak orang Belanda lain, ia hanyut terbawa oleh buku itu dan oleh nasib malang para petani Jawa. Karenanya dia menggubah karya ini yang sedikit banyak berwarna sedih. Tampaknya dia memang satu-satunya komponis pada abad 19 yang melakukannya.
Pélog dan sléndro
Pada abad 19 itu, gamelan Jawa dan Sunda mulai didengar orang di Belanda. Saat itu bisa dikatakan gamelan mulai berpengaruh pada dunia musik Belanda. Menarik untuk mengetahui adakah suara-suara gamelan juga terdengar dalam Elégie Saïdjah?
"Kalau kita dengar lagu ini," demikian Henk, "maka jelas nuansa romantisnya." Waktu itu Eropa memang berada pada puncak zaman romantis. Mungkin kedengarannya seperti karya-karya Brahms atau Schumann. Diawali dengan minor, lalu ada pula bagian mayornya. Nuansanya berat. "Pada saat itu sepertinya kita merasakan nasib tragis Saïdjah," Henk Mak van Dijk berlanjut, "Kalau kita simak baik-baik akan terdengar semacam sentuhan gamelan. Pada bagian awal terdengar pizzicato, biola atau cello yang dipetik, ini menarik dan bisa diartikan sebagai gamelan."
Di bagian tengah terdengar tremolo yaitu not-not yang dimainkan dengan cepat pada piano. Itu juga bisa didengar sebagai efek gamelan. "Menurut saya Richard Hol sendiri belum pernah mendengar gamelan," Henk memastikan. Pada tahun 1852 ada gamelan yang dipamerkan di Delft, tapi itu cuma pameran. Gamelan pertama yang dimainkan, gamelan yang sangat bagus, datang dari Solo dan pentas pada pameran di Arnhem pada tahun 1878. Jadi 19 tahun setelah karya Richard Hol terbit. Maka dari itu bisa disimpulkan, waktu menggubah Elégie Saïdjah, Richard Hol belum pernah mendengar gamelan yang lengkap, tetapi bisa saja dia memainkan salah satu instrumen gamelan.
Mengangkat Saïdjah
Jadi, bisa disimpulkan bahwa karya Richard Hol ini tidak menggunakan unsur lima nada, unsur pentatonis yang dimiliki gamelan, seperti karya-karya komponis Barat lain yang memang dicipta sesudah tahun 1860.
Unsur gamelan baru terdengar pada karya-karya komponis Indisch seperti Constant van de Wall atau Paul Seelig yang juga diuraikan pada buku Wajang Foxtrot. Pada karya-karya mereka terdengar nada-nada pélog dan sléndro, itu jelas nada gamelan. Tapi pada karya Richard Hol ini tidak terdengar begitu. Yang jelas inilah karya pertama yang mengangkat masalah Hindia Belanda serta kisah Saïdjah dan Adinda.
Sumber: http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/desah-keluhan-saidjah-sebagai-karya-musik-belanda
Multatuli Atau yang Banyak Menderita

Multatuli Atau yang Banyak Menderita

TATAP matanya tajam. Bola matanya yang kecokelatan itu bila memandang serasa menusuk lurus. Rambutnya halus disisir ke belakang, dibelah pinggir di sisi kiri. Kemerahan. Kumisnya tebal. Kadang dibiarkannya panjang, menggapai bibir. Dahi lebar, mengesankan seorang yang berpikir. Sosok itulah Douwes Dekker yang terkenal itu. Dialah yang memakai nama samaran Multatuli yang oleh Bung Karno ucapannya bahwa negeri kepulauan ini adalah zamrud khatulistiwa, sering disebut-sebut dalam pidato yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di negeri yang bukan negerinya (Jalan Multatuli di Rangkasbitung, Jawa Barat).

Dan yang karyanya dibaca dan dibicarakan oleh jutaan manusia hingga saat ini. Belanda belum lama bercokol kembali di Indonesia, ketika itu. Si Inggris Raffles baru saja hengkang. Di tanah Minang, pemberontakan Paderi menjelang pecah. Kala itulah di Korsjespoortsteeg, Amsterdam, Belanda, satu keluarga sederhana dikarunia kebahagiaan. Tepatnya pada 2 Maret 1820, lahirlah si bayi Douwes Dekker, di rumah yang kini dijadikan Museum Multatuli. Tak ada yang istimewa pada masa kecil Dekker. Gerard Termorshuizen, yang menulis kata pengantar dalam Max Havelaar, hanya menyebutkan, "Ia banyak menimbulkan kesukaran karena wataknya yang gelisah dan sukar."

Ayah Dekker seorang kapten kapal dagang. Tentunya ia jarang di rumah. Keluarga ini, keluarga Protestan, kemudian mendorong Dekker menjadi menjadi pendeta. Karena itu, di usia 12 tahun ia dimasukkan sekolah Latin, untuk menerima pelajaran-pelajaran agama Baptis. Sekolah itu tak diselesaikannya. Douwes Dekker urung jadi pendeta. Ia malah bekerja sebagai pramuniaga perusahaan tekstil sebagai buruh termuda, 15 tahun. Tak lama. Tiga tahun berikutnya ia memilih mengadu nasib di tanah jajahan Jawa. Pada 23 September 1838, kapal yang dikapteni ayahnya dan dikemudikan oleh abangnya membawanya hingga merapat di pelabuhan Batavia. Tak lama ia menganggur.

Tahun berikutnya Dekker sudah menerima gaji sebagai klerk di sebuah kantor keuangan di Batavia. Anak muda itu lalu meniti karier sebagai pegawai negeri. Pada usia 22 tahun, ia dipindahkan ke Natal, Sumatera Barat, sebagai kontrolir (pejabat Belanda yang mengawasi kepemimpinan pribumi di suatu kawedanan). Inilah saat pertama kali baginya bersinggungan langsung dengan rakyat yang dijajah bangsanya. Dan dengan pekerjaannya, ia segera terbentur masalah. Atasannya di Padang, Michiels, menilainya ceroboh. Dekker dianggap melakukan kesalahan dalam administrasi keuangan. Ia pun ditarik ke Padang, diperbantukan kepada residen Padang Hulu. Dasar nasib, ia terseok lagi.

Menyusul pertengkarannya dengan Michiels yang tak kunjung reda, ia diskors, dan karena itu tak terima gaji. Sembilan bulan hal itu ditanggungnya. Sampai ia bisa meninggalkan Padang menuju Betawi. Dekker mencoba membangun kembali kariernya. Dari Betawi ia lasak ke daerah-daerah. Ia pindah ke Karawang, lalu Purworejo, dan akhirnya ke Manado. Dan tampaknya ia berhasil. Di umur 31 tahun ia sudah dipercaya menjadi asisten residen di Ambon. Setelah 14 tahun bermukim di negeri tropis ini, Douwes Dekker mengambil perlop, bersama keluarganya ia pergi ke Belanda. Di sinilah tabiatnya yang "sukar" muncul kembali. Dan menyulitkan keluarganya.

Si asisten residen itu segera menghambur-hamburkan uang tabungannya. Ia pergi ke tempat-tempat judi hingga ke Jerman. Di Wiesbaden, juga Hamburg, ia menjadi anggota perkumpulan kebatinan "Rozekruisers". Mungkin untuk mencegah tabiatnya makin tak keruan ia dan keluarganya berangkat kembali ke Betawi. Pada tahun yang sama dengan saat wafatnya Diponegoro, 1855, Douwes Dekker tiba kembali di Betawi. Untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan Gubernur Jenderal Duymaer van Twist. Van Twist rupanya menaruh kepercayaan besar pada dia. Ia memberinya jabatan sebagai asisten residen Lebak, Banten.

Pada 21 Januari 1856 keluarga Douwes Dekker sampai di Lebak. Daerah inilah yang kemudian melambungkan dan menyebabkan nama Douwes Dekker menjadi tokoh dunia, masuk dalam sejarah -- setidaknya sejarah Indonesia dan Belanda. Baru sebulan di Banten, ia sudah bikin perkara. Asisten residen baru itu mengadukan bupati Lebak, Adipati Kartanatanagara, kepada residen Banten, Brest van Kempen. Bupati itu, dan menantunya yang menjadi Demang Parangkujang, dituduhnya telah memeras dan merampas hak milik rakyat. Ia lalu mengusulkan agar dua orang itu dibebastugaskan untuk sementara, sambil dilakukan penyelidikan padanya. Douwes Dekker memang bertugas mengawasi bupati, yang memimpin daerah itu. Residen terkejut. Ia segera datang ke Rangkasbitung.

Dimintanya Dekker mengajukan bukti-bukti. Tapi Dekker menolak. Ia minta agar bupati dan menantunya itu ditindak dulu, baru ia akan mengajukan bukti. Brest van Kempen ganti menolak. Persoalan lalu merembet ke Gubernur Jenderal di Betawi, karena Douwes Dekker tak tinggal diam: ia mengadu ke atas. Sial, Gubernur Jenderal tak memihaknya. Malah Van Twist memindahkan Dekker menjadi asisten residen Ngawi, Jawa Timur. Mengapa Douwes Dekker ternyata memilih mengundurkan diri, daripada pindah ke Ngawi, tak ada alasan langsung yang tercatat. Pada 29 Maret 1856, resmi ia berhenti dari pegawai negeri. Enam hari berikutnya ia meninggalkan Lebak. Dituliskannya sendiri kepergiannya itu, sebagai tokoh Max dalam Max Havelaar, "Dia sama sekali tak mau diiringi. Duclari dan Verbrugge amat terharu waktu berpisah. Max juga terharu, lebih-lebih ketika ia bertemu orang banyak di tempat pertama mengganti kuda, orang banyak dari Rangkasbitung untuk pamitan penghabisan kali."

Ia dan keluarganya lalu kembali ke Belanda, pada 1857. Douwes Dekker memang bukan model pegawai negeri yang patuh. Ia justru berhasil sebagai penulis. Awalnya, ia menulis Halaman-halaman Lepas dari Buku Harian Seorang Tua, tahun 1841. Surat-menyuratnya dengan sang kekasih, Tine, menunjukkan bakat menulisnya. Lalu di Padang, saat diskors, ia berhasil menyelesaikan satu tulisan Yang tanpa Kehonmatan. Tulisan ini diterbitkan dua puluh tahun kemudian, dengan judul Pengantin di Atas Sana. Sebenarnya, dua tahun setelah sampai di Belanda kembali, ia telah menerbitkan tulisan pertamanya, berjudul Keyakinan.

Namun, nasib penulis itu kian terpuruk. Ia lontang-lantung dan kelaparan. Justru di masa sulit itulah Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli, menyelesaikan karya besarnya, Max Havelaar. Dan kemudian karya-karyanya terus mengalir susul-menyusul. Setahun berikutnya muncul Doa Orang Awam, Tunjukkan Padaku Tempat Aku Telah Menabur, dan Surat-surat Cinta. Karangan terakhir itu juga menjadi terkenal. Multatuli pun menulis Percakapan Jepang, Restu Tuhan melalui Waterloo, Karangan Tersebar. Juga serial buku Gagasan, dan banyak buku lain. Lewat buku-buku tersebut Douwes Dekker berupaya menaikkan kehormatannya yang rontok. Juga mencoba mengekspresikan sikap-sikapnya. "Orang Jawa itu 'manusia', Pembaca!," tulisnya dalam Keyakinan.

Ia tak segan-segan mengkritik, atau menurut sebagian pengamat sastra Belanda mencaci, masyarakatnya, "Raja-raja menyibukkan diri dengan gesper ikat pinggang perwira-perwiranya. " Atau, "Umat Kristen sedang bertengkar tentang agama mereka." Dua-duanya ditulis di Surat-surat Cinta. Dekker memang petualang yang tampaknya memiliki rasa percaya diri yang tebal. Ia pernah mencalonkan diri sendiri menjadi anggota parlemen. Dan dalam soal wanita, ia tak cukup sekali jatuh cinta. Kala muda ia tergila-gila Caroline Versteegh, sampai bersedia mengubah agamanya menjadi Katolik. Tapi sang calon mertua menampiknya, menganggap ia tak sungguh-sungguh. Lewat surat, ia kemudian bercinta dengan Everdina Huberta van Wijnbergen, yang biasa dipanggil Tine.

Pada 1845 Tine ke Jawa, bertemu dengan Dekker, bertunangan, setahun kemudian mereka menikah. Di buku pengantar Pameran 100 Tahun Multatuli di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta, juga disebutkan bahwa Dekker "hidup bersama dengan si Oepi Keteh" semasa bekerja di Natal. Dalam keadaan merana, setelah kembali di Belanda lagi, Dekker jatuh cinta lagi. Ia naksir keponakannya sendiri yang 22 tahun lebih muda, Sietske Swart Abraham. Sampai-sampai, Sietske dimunculkan sebagai tokoh dalam sebuah karangannya, sebagai Fancy. Lepas dari Sietske, Dekker jatuh ke pelukan Mimi Hamminck Schepel, dan mulai mengabaikan Tine.

Mimi-lah yang mendampinginya hingga masa tua. Sementara itu, Dekker masih juga bikin skandal dengan pelacur. Tak jelas, adakah si "pejuang keadilan" ini memang dasarnya seorang playboy. Atau semua itu dilakukannya guna melupakan kegagalannya di Lebak. Tak cuma perempuan, ia pun bertualang dengan judi. Sebenarnya Dekker tak miskin amat. Ia menerima banyak uang dari naskah-naskahnya. Tapi perempuan dan kegemaran judinya menjadikannya habis-habisan. Hanya karena nasib baik, mungkin, bahwa kawan-kawannya tak melupakannya, ia banyak kali tertolong.

Sewaktu tinggal di Jerman, ia hidup dari uang sokongan kawan-kawan Belandanya. Orang-orang itu malah membelikannya sebuah rumah di Nieder Ingelheim, Jerman. Sedangkan dari pemerintah Belanda ia mendapat tunjangan hidup, yang dinikmatinya bersama Mimi sampai tua. Bertepatan dengan pembikinan pertama jalan kereta api di Sumatera Barat, Eduard Douwes Dekker mengembuskan napas terakhirnya di rumah Nieder Ingelheim. Jasadnya dikremasikan di Gotha. Benarkah orang yang meninggal 13 tahun sebelum abad berganti itu klop dengan tokoh Max Havelaar yang membuatnya tersohor? Tampaknya memang ada hal lain pada diri Dekker, hingga ia jadi termasyhur waktu itu.

Sebab, dilihat dari Max Havelaar pun, sebenarnya, menurut sastrawan Sapardi Djoko Damono, ia tak terlalu berhasil. Multatuli, kata Sapardi, akhirnya lebih tertarik pada tokoh Droogstoppel daripada Max Havelaar. "Itu bak dalam kisah Si Unyil yang kemudian tokoh Pak Raden jadi lebih menarik daripada si Unyil," kata penyair itu dalam diskusi di Universitas Indonesia. Dari sudut kepeloporan dalam menggugat pemerintah kolonial, menurut H.B. Jassin, penerjemah Max Hauelaar, Dekker pun bukan orang pertama. Ada seratusan pengarang yang telah mencobanya, di antaranya R. Van Goens, Rumphius, dan Eddy du Peron.

Namun, semuanya kurang bergema, lantaran pengungkapannya masih mengikuti konvensi lama yang beralun-alun penuh kias. Kelebihan Multatuli, menurut Jassin, "ia tegas dan langsung mengungkapkan keberangannya pada keadaan." Jassin benar. "Maka, akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak .... Dan akan kulontarkan lagu-lagu perang pengasah kelewang ke dalam sanubari pejuang-pejuang syahid, yang telah aku janjikan pertolongan, aku, Multatuli... dan bahwa nun di sana rakyat Tuan yang lebih dari tiga puluh juta disiksa dan dihisap atas namamu!" demikianlah Dekker menulis dalam Max Havelaar. Itulah gaya Multatuli, yang menurut para kritikus Belanda yang memuji-muji dia, gaya karangannya "terbuka, tanpa sistem".

Dengan gaya itu pula ia menulis sewaktu ia bekerja sebagai koresponden untuk De Opregte Haarlemsche Courant (surat kabar di Kota Harlem), Jerman. Juga begitulah ketika ia menulis sejumlah karangan di koran Hindia Belanda De Locomotief. Baik tulisan tentang agama dan kolonialisme, tentang monarki dan demokrasi, tentang cinta bebas dan ikatan perkawinan, maupun tentang kesusilaan dan kemunafikan. Bagaimanapun juga, bagi Subagio Sastrowardoyo, sastrawan dan redaktur Balai Pustaka Douwes Dekker telah, "sanggup membuka mata politikus di negeri Belanda akan kebobrokan administrasi pemerintahan di Hindia Belanda, sehingga rakyat petani Indonesia menderita." Jadi, siapakah sebenarnya Eduard Douwes Dekker, si pengagum Napoleon Bonaparte ini? Kata Murk Salverda dari Museum Letterkundig, Den Haag, "Ia seorang humanis, pemikir yang selalu bersimpati pada nasib rakyat kecil." Zaim Uchrowi

Sumber:
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1987/12/05/SEL/mbm.19871205.SEL30269.id.html
Back To Top